“Kak, mau nggak jadi pacar aku? Aku suka banget sama, Kakak. Gimana? Jadi, kita pacaran?” ucap seorang gadis memakai seragam putih biru.
Dia adalah Dinda, gadis remaja berumur 13 tahun. Dinda memasang senyuman termanis, saat menyatakan perasaannya kepada Arkhan. Seorang mahasiswa tingkat akhir dengan wajah tampan berumur 21 tahun. Tatapannya yang teduh menyejukkan, membuat Dinda jatuh cinta.
Arkhan Prasetyo adalah sahabat Bima, kakaknya Dinda. Arkhan, laki-laki yang taat beribadah dan berpenampilan agamis itu terkejut, saat mendapat serangan pernyataan cinta dari gadis kecil tanpa malu-malu.
“Kok, malah ngeliatin begitu? Kita, jadi pacaran ‘kan?” tanyanya lagi, mendesak jawaban dari Arkhan. Perbedaan umur mereka terpaut cukup jauh.
“Dinda, kamu masih kecil. Lebih baik pikirkan sekolah dulu. Belajar yang benar, jangan memikirkan hal-hal yang akan merusakmu. Pacaran itu dilarang agama,” sahut Arkhan menasehati, dengan suara lembut.
Dinda mengerucutkan bibirnya. “Jadi, Kakak nggak mau pacaran? Kalau begitu, kita nikah saja!” desaknya dengan penuh keyakinan. Ucapannya tentu saja tanpa dipikirkan.
Hembusan nafas keluar dari mulut Arkhan, dia hanya tersenyum. Lalu, meninggalkan Dinda yang masih menunggu jawaban. “Kak Arkhan! Jangan jadi laki-laki pengecut, cepat jawab. Apakah Kakak juga menyukaiku?” teriak Dinda tanpa malu. Teriakan Dinda saat itu, membuat Bima keluar dari kamar. Matanya melotot mengisyaratkan kepada adiknya untuk menghentikan kekonyolan mengganggu sahabatnya.
Saat itu, Dinda menurut. Dia tidak lagi mendesak jawaban Arkhan. Namun, dia tidak menyangka, kalau hari itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Arkhan. Sejak pengakuan pernyataan cintanya, Arkhan tidak pernah muncul lagi. Dinda yang selalu menunggunya sangat kecewa.