Mobil itu berdecit saking kuatnya, Arkhan menekan rem mobil. Fokusnya hanya satu jangan sampai menabrak orang yang tiba-tiba berdiri di depan mobilnya.
“Arghh …!” teriak seorang gadis yang berhenti di depan mobil.
“Hey! Kenapa berhenti di depan mobilku?” gertak Arkhan mendadak menghentikan mobil, karena seorang gadis yang tiba-tiba datang dan berlari menyeberang jalan dan berhenti di depan mobilnya. Untung saja saat itu Arkhan tidak sedang mengendarai mobil pada kecepatan tinggi. Namun, tetap saja kejadian itu membuatnya gemetar.
“Tolong, aku!” teriak gadis tersebut dengan ekspresi ketakutan. Gadis itu berlari memutari mobil Arkhan dan mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil. Arkhan mengernyitkan keningnya hingga kedua alis tegasnya menyatu, tapi Arkhan tidak serta merta membuka kaca mobilnya. Dia khawatir gadis tersebut adalah salah satu komplotan perampok.
“Please, tolongin!” Gadis cantik tersebut terus memohon dengan tatapan mata mengiba dan ekspresi wajah panik. Hingga akhirnya, Arkhan memutuskan untuk memberanikan dirinya membuka sedikit kaca mobil, agar bisa mendengar ucapan gadis itu dengan jelas.
“Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Arkhan. Gadis tersebut menghela nafas lega tatkala mendapat angin segar dari laki-laki yang menurutnya bisa menolongnya saat itu. Gadis itu langsung mengungkapkan maksudnya.
“Tolong, beri aku tumpangan. Aku takut, karena ada seseorang yang mengejarku!” ujarnya panik. ‘
"Dari tatapan matanya, gadis ini bersungguh-sungguh," batin Arkhan.
“Masuklah!” Arkhan membuka pintu mobilnya, tanpa pikir panjang gadis tersebut langsung memasuki mobil. Penampilannya terlihat berantakan dengan rambut acak-acakan yang diikat satu ke belakang. Namun, meski begitu, Arkhan masih bisa melihat kecantikan alami gadis muda tersebut.
“Pakai seat belt-mu!” Gadis tersebut mengangguk, mencari tali seat belt dan memakainya. Wajahnya terlihat sedikit pucat dengan nafas naik turun. Arkhan menduga gadis tersebut habis berlari, sehingga nafasnya terlihat tak beraturan.
“Terima kasih sudah menolongku. Hampir saja, aku dilecehkan para preman mabok itu,” ujarnya datar, sambil menyandarkan kepala di kursi mobil, dan memejamkan mata dengan nafas lega.
“Astagfirullah, kok hampir dilecehkan wajahnya tetap tenang?” batin Arkhan melirik gadis di sampingnya.
Arkhan, pria tampan dengan penampilan santun. Dengan wajah tenang dan sorot mata tajam, memancarkan kebijaksanaan. Rambut hitamnya tersusun rapi, memberinya aura kesederhanaan yang memikat. Ketika dia berbicara, suaranya lembut, namun penuh kearifan, memancarkan pesona yang membuat siapa pun yang mendengar terpikat.
"Kenapa, kamu keluyuran di jalanan yang gelap begini? Apalagi sampai dikejar preman mabuk." Arkhan prihatin melihat gadis muda berjalan sendirian di malam hari tanpa takut.
"Aku baru pulang, dari pesta ulang tahun teman. Taksi yang aku tumpangi tiba-tiba mogok di tengah jalan. Lalu, aku turun di dekat halte, agar lebih mudah dapat taksi lainnya," sahutnya lirih menjelaskan. Arkhan mengangguk memahami.
"Kenapa kamu lari? Premannya ngejar, kamu?" tanya Arkhan. Gadis itu menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan dengan cepat. Ekspresinya terlihat santai.
"Aku takut. Jadi, aku lari secepat mungkin untuk menghindari mereka," jawabnya.
Tiba-tiba gadis itu membesarkan matanya. Dia menegakkan tubuh, menatap wajah Arkhan dengan seksama. Arkhan yang sangat taat agama, tentu saja tidak nyaman mendapat tatapan intens dari gadis yang bukan muhrimnya. Arkhan menatap fokus ke jalanan, menghindari tatapan gadis yang ditolongnya itu.
“Kak Arkhan!” teriaknya dengan senyum lebar. Mata Arkhan mendelik mendengar namanya di sebut gadis tersebut.
“Ka-kamu, tahu namaku? Apa, kita pernah ketemu?” tanya Arkhan heran.
“Udah lupa ya? Ini aku, coba ingat-ingat.” Gadis tersebut tersenyum lebar sembari mendekatkan wajahnya, berharap laki-laki alim bernama Arkhan memandangnya. Namun, tentu saja itu tidak terjadi. Arkhan, tidak akan memandangi wanita yang bukan haknya.
“Sudah kuduga. Kak Arkhan, masih sama seperti dulu. Nih, aku kasih tahu. Namaku Dinda. Aku, adiknya Kak Bima. Ingat nggak?” Dinda tersenyum ceria. Spontan Arkhan mengerem mobilnya mendadak, karena terkejut.
“Aduh, kenapa ketemu gadis berani ini lagi?” umpatnya dalam hati, dengan mata terbelalak.
“Ih, Kak Arkhan. Kok ngerem mendadak sih!” pekik Dinda memukul lengan Arkhan kesal. Arkhan mengelak dari sentuhan Dinda, meski terlambat.
“Ma-maaf, kamu nggak apa-apa?” tanyanya terlihat grogi. Dinda mengembangkan senyumnya sembari menggeleng pelan.
“Aku senang bisa ketemu lagi sama cinta pertamaku,” ucap Dinda santai. Ucapannya membuat Arkhan panik.
“Kamu nggak berubah juga,” balas Arkhan menarik nafas dalam-dalam. Dia mencoba menenangkan diri dari serangan gadis yang pernah membuatnya ketakutan, tujuh tahun yang lalu. Dinda tertawa kecil menatap Arkhan.
“Maafin, aku ya. Dulu, aku jatuh cinta banget sama, Kakak. Aku ingat banget, Kak Bima ngomelin aku ....“ Dinda terdiam sejenak, tidak melanjutkan ucapannya. Tatapannya sendu, kesedihan tampak jelas di wajah yang tadinya tampak ceria itu. Arkhan pun terdiam dengan hembusan nafas keluar dari mulutnya.
“Kakak, antar kamu pulang ya. Ingat, lain kali jangan keluar malam-malam sendirian. Bahaya!” ujarnya mengingatkan setelah hening sejenak, saat nama Bima disebut. Dinda mengangkat salah satu sudut bibirnya, mengangguk pelan.
Arkhan menyetir mobilnya, melalui jalanan yang sepi. Cahaya redup dengan lampu jalan menjadi satu-satunya penuntun di kegelapan malam. Sementara itu, pikirannya melayang jauh, terbawa dalam aliran kenangan yang membawa nama sahabatnya, Bima.
Arkhan memandang kejauhan, melintasi bangunan-bangunan yang terlihat hampir tak berujung. Bayangan rumah-rumah yang terlelap dalam tidurnya memberikan kesan kedamaian di tengah keheningan malam. Namun, pikiran Arkhan tetap melayang ke masa lalu. Perasaan kerinduan dan kebersamaan yang mereka miliki tak terlupakan. Arkhan menghentikan mobilnya di depan rumah bergaya minimalis.
“Sudah sampai,” ucap Arkhan menoleh menatap Dinda sekilas, lalu pandangannya diarahkan lagi ke depan.
“Terima kasih, Kak. Mau mampir?” tawar Dinda berbasa-basi, dia tahu kalau Arkhan tidak akan mau mampir di jam malam seperti itu.
“Lain kali aja. Salam buat mama dan papamu. Ingat, jangan keluar rumah malam-malam, nggak baik untuk wanita!” ucapnya tegas, tapi lembut.
Dinda mengangguk seraya turun dari mobil Arkhan. Dia melambaikan tangan, melepas Arkhan pergi. Setelah mobil Arkhan tidak terlihat, dia membuka pintu pagar menggunakan kunci miliknya dengan pelan, sembari melihat suasana seperti pencuri.
Dinda melangkah, mengendap-endap memasuki halaman rumah. Hingga di depan pintu rumah, Dinda berdiri sejenak, tampak berpikir dan melihat suasana. Setelah dia merasa keadaan aman, dia memasukkan kunci ke lubang pintu dan memutarnya agar pintu bisa terbuka. Dinda membuka pintu dan menutupnya lagi pelan-pelan, lalu mengunci pintu kembali.
Dinda menarik nafas lega, melihat kondisi rumah sepi yang menandakan semua sudah tidur. Hembusan nafas lega keluar dari mulutnya. “Syukurlah, papa dan mama udah tidur,” gumamnya dalam hati dengan senyuman lega di wajahnya.
“Dari mana saja, kamu!” Terdengar suara berat nan tegas memenuhi ruangan. Suara yang sangat dikenalnya. Spontan, Dinda tersentak kaget. Ditambah lagi, lampu ruang tamu tiba-tiba menyala. Seorang laki-laki setengah baya berdiri tegang dengan sorot mata tajam menatap Dinda. Wajahnya menampakkan kemarahan yang tak terbendung.