KeputusanDinda

1322 Kata
Saat sampai di sebuah restoran, Dinda bergegas melangkah masuk ke dalam restoran dan mencari keberadaan Arkhan. Restoran yang dipilih Arkhan dan Dinda untuk bertemu, tidak terlalu ramai sehingga cukup nyaman untuk berbicara serius. Dinda mengedarkan matanya mencari sosok laki-laki pujaannya. Hingga akhirnya, dia melihat Arkhan melambaikan tangan kepadanya. Namun, Dinda mengernyitkan keningnya melihat Arkhan tidak sendirian. Dia duduk bersama dengan seorang laki-laki. Dinda melangkah pelan dalam hati Dinda bergumam .“Kenapa Kak Arkhan bersama orang lain, padahal aku ingin bicara pribadi dan penting!” “Halo Kak,” sapa Dinda dengan senyuman manis. “Assalamualaikum, Din,” ucap Arkhan membetulkan sapaan Dinda. “Eh iya, Kak. Waalaikumsalam,” sahut Dinta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dinda malu, karena bukannya mengucapkan salam saat bertemu dengan Arkhan, dia malah menyapa santai. “Ayo, duduk!” Arkhan mempersilahkan Dinda duduk. Dinda langsung duduk berhadapan dengan Arkhan. Laki-laki yang bersama Arkhan tampak memperhatikannya dengan kening berkerut. Dinda, dengan pakaian cassualnya memakai kaos dan celana jeans yang membentuk lekukan tubuhnya terlihat jelas. Rambutnya yang sebahu di urai indah. “Hemm, ini siapa, Kak?” tanya Dinda merasa risih dengan tatapan laki-laki di samping Arkhan. “Oh iya, kenalkan. Ini teman kantor Kak Arkhan, maaf ya aku nggak biasa bertemu dengan wanita hanya berdua saja,” ucap Arkhan dengan senyum khasnya. “Oh begitu, tapi … tapi, aku ingin membicarakan urusan penting,” bisik Dinda dengan ekspresi cemas. “Nggak apa-apa kok, temanku ini bisa dipercaya,” ucapnya seraya melirik laki-laki yang duduk di samping Arkhan. Terlihat senyuman tipis dari teman Arkhan menyambut pujiannya. “Kenalkan, saya Andri.” Baru saja Dinda hendak mengulurkan tangan untuk bersalaman, Arkhan tampak menggeleng pelan. Dinda paham, dia hanya melempar senyum pada Andri. Pandangannya di alihkan pada Arkhan. “Aku mau bicara soal urusan pribadi kita, Kak,” bisik Dinda dengan senyum terpaksa. Arkhan malah tersenyum tipis melihat tingkah Dinda. “Iya, aku mengerti. Jadi, apa keputusanmu?” tanyanya menuntut jawaban. “Aku setuju kita menikah!” seru Dinda yakin. “Baiklah, kalau begitu aku akan meminta orang tuaku untuk bertemu dengan orang tuamu,” ucap Arkhan datar. “Papa ingin bicara dengan Kak Arkhan, apakah Kakak ada waktu?” tanya Dinda. Senyuman tipis terbit di wajah tampan Arkhan. “Tentu saja, aku akan menemui papamu,” sahut Arkhan. Pelayan datang sehingga pembicaraan pun terjeda. Setelah pelayan mencatat pesanan mereka, pelayan tersebut pergi. “Kapan, Kak Arkhan akan bertemu dengan papa?” tanya Dinda tak sabar. “Nanti malam aku akan ke rumahmu, apa papamu ada waktu?” tanyanya. “Aku akan kabari Kakak, akan aku tanyakan pada papa dulu,” sahut Dinda sambil tersenyum lebar. “Baiklah, setelah bicara dengan papamu baru aku akan mengatakan rencana pernikahan ini dengan orang tuaku, untuk melamarmu,” imbuh Arkhan yakin. Dinda tersipu malu mendengarnya. “Oke, Kak. Aku akan menunggu!” sahut Dinda dengan lantang. Arkhan tersenyum tipis. “Masih sama aja seperti dulu,” batin Arkhan. Dinda menatapnya dengan mata berbinar. Senyuman Arkhan, masih menggetarkan hati Dinda, sama seperti dulu. Saat pertama kali bertemu dengannya, hingga Dinda berani menyatakan perasaannya. “Hemm, Kakak nggak nyuruh aku untuk menutup auratku? Memakai hijab?” tanya Dinda ragu. Arkhan terdiam mendengar pertanyaan Dinda. Dinda bertanya karena dia teringat kakaknya yang sering bicara soal menutup aurat dan menggunakan hijab tanpa bosan padanya. Namun, Dinda selalu melawannya dengan alasan tidak akan bebas bergerak. Apalagi iklim di Indonesia sangat panas, pasti akan tidak nyaman jika menggunakan hijab. Hingga akhirnya Bima menyerah, karena papa juga selalu membela Dinda saat itu. “Bukankah, kamu sudah tahu kalau wanita muslim harus menutup aurat? Aku nggak perlu meminta, seharusnya kamu sudah mengerti,” sahut Arkhan diiringi hembusan nafas keluar dari mulutnya. Arkhan menyadari, kenapa sahabatnya menyuruhnya menjaga adik kesayangannya itu. Arkhan sadar, kalau Bima berharap, Arkhan bisa mengubah Dinda jadi lebih baik. Dinda diam menunduk dalam-dalam, lalu mendongak tiba-tiba. “Maksud Kakak, aku harus menggunakan hijab?” Dinda menatap Arkhan dengan mata bulatnya. Arkhan mengangguk mantap. Dinda menggaruk kepalanya, lalu tersenyum lebar. “Oke, demi membuktikan cintaku pada Kak Arkhan. Aku akan berusaha memakai hijab!” ujarnya lantang. Spontan, ucapan Dinda membuat Andri melongo. Arkhan tertawa kecil mendengar ucapan Dinda. Bibir Dinda mengerucut melihat Arkhan tertawa. “Kenapa, Kakak tertawa? Memangnya ada yang lucu?” tanyanya dengan raut wajah kesal. “Maaf ya, aku nggak bisa menahan tawaku. Memperbaiki diri itu karena Allah, masa karena cinta kepada manusia,” protes Arkhan masih dengan tawanya disambut tawa Andri. “Memangnya, kenapa? Kok malah tertawa? Ini jujur, aku memang mencintai, Kak Arkhan dan dari dulu cintaku nggak pernah pudar. Apa pun yang Kakak minta, aku akan berusaha. Agar, aku bisa menjadi istri yang baik!” ucap Dinda penuh keyakinan, menatap laki-laki di hadapannya bergantian. Mata Arkhan membesar, mendengar ucapan Dinda. Dia, tidak menyangka akan menikah dengan anak kecil yang dengan gampang bisa mengungkapkan isi hatinya tanpa malu. Namun, justru hal itu membuatnya senang. Dia merasa dunia kembali hidup dan bersinar. Arkhan tidak menjawab ucapan Dinda, hanya senyuman tipis yang terbit di bibirnya, sambil menggangguk pelan. Pelayan datang membawa makanan yang dipesan. Dengan santai Dinda langsung menyantap makanannya. “Uh, ini enak. Kebetulan aku udah laper banget,” ucapnya sambil mengunyah makanannya. Andri menarik nafas dalam-dalam melihat kelakuan calon istri sahabatnya itu. Namun, bukannya malu, Arkhan malah tersenyum tipis sambil berkata menasehati Dinda. “Sebelum makan, jangan lupa berdoa dulu. Kita jangan lupa untuk bersyukur atas makanan yang akan kita makan,” titah Arkhan mengingatkan. Dinda menghentikan aktivitas makannya, dia tersenyum malu mendengar nasehat dari Arkhan. “Guru ngajiku juga dulu bilang begitu, Kak. Di rumah sudah lama nggak ada yang mengingatkan soal itu. Sejak Kak Bima pergi, tidak ada lagi yang memarahiku untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan ajaran agama. Lama-lama aku jadi terbiasa melakukan semua seenaknya. Namun, sekarang aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku percaya, saat Kak Bima menyuruh Kakak untuk menjagaku, pasti Kak Bima tahu kalau Kak Arkhan bisa mengubahku,” sahutnya bangga. Arkhan mengembangkan senyumannya. “Aku senang mendengar semangatmu. Semoga saja kamu bisa Istiqomah dan kita bisa menjaga hubungan kita dengan sebaik-baiknya, menjalankan pernikahan kita sesuai syariat yang diajarkan,” ucap Arkhan penuh keyakinan. “Iya, Kak tentu saja. Aku akan berusaha menjadi lebih baik!” Dinda berkata dengan penuh semangat sambil mengepalkan tangannya. Tawa Arkhan dan Andri terdengar renyah saat melihat dan mendengar ucapan Dinda dengan tingkah konyolnya. Setelah mereka selesai makan siang, Arkhan bermaksud mengantarkan Dinda untuk pulang ke rumah. Namun, Dinda menolaknya karena Dinda tahu kalau Arkhan masih mempunyai banyak pekerjaan. “Benar nih, nggak mau aku antar?” tanya Arkhan lagi, ketika mereka sudah berada di luar restaurant. “Nggak usah, Kak. Aku pesan ojek online aja.” “Hati-hati ya, aku akan menunggu sampai ojeknya datang. Nanti malam aku akan ke rumahmu, tolong kabarkan padaku jika papamu nggak bisa menemuiku.” Arkhan berkata sembari memperhatikan jalan, kalau-kalau ojek online yang dipesan datang. “Oke, Kak,” sahut Dinda. Setelah ojek yang dipesan datang Dinda berlari sambil melambaikan tangan meninggalkan Arkhan dengan senyuman tak lepas dari bibirnya. “Sepertinya hidupmu akan kembali ceria, mempunyai istri seperti dia,” celetuk Andri ketika Dinda sudah naik ojek yang di pesannya. Arkhan menarik nafas dengan senyuman di bibirnya. “Mungkin, kamu benar. Aku bisa tersenyum lagi saat bersamanya, dia benar-benar menggemaskan,” ucap Arkhan dengan mata berbinar. “Ingat, halalin dulu. Jangan mikir aneh-aneh!” Andri menyenggol lengan Arkhan mengingatkan dengan senyuman di wajahnya. “Astagfirullah,” Arkhan mengucap istigfar karena pikirannya mulai melayang, gara-gara ucapan Andri. “Yang terpenting dia mau berubah, aku rasa itu adalah perjuanganmu. Aku memang nggak mengenal Bima, tapi aku yakin dia tahu kalau kamu bisa merubah adiknya. Yuk, kita kembali ke kantor!” ajak Andri. Mereka melangkah menuju mobil yang terparkir di parkiran untuk kembali ke kantor. Dinda yang baru sampai di rumah langsung di bombardir pertanyaan oleh mama yang tidak sabar mendengar pembicaraan Dinda dengan Arkhan. “Apa kalian sudah sepakat?” tanya mama dengan tatapan tajam menuntut jawaban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN