“Iya, Mah. Aku sudah katakan pada Kak Arkhan, kalau aku setuju untuk menikah dengannya. Mama nggak usah khawatir.” Dinda menggenggam jemari mama, wajah mama terlihat bahagia dengan mata berbinar. Dinda menatap mama iba, dia tahu ada luka yang dalam di hatinya karena pengkhianatan papa. Namun, Dinda akan berpura-pura tidak tahu akan hal itu. Dinda tahu kalau mama hendak melindunginya dengan tidak memberitahu apa yang papa lakukan.
“Papa, mau menemui Kak Arkhan malam ini, Ma.” Dinda berkata pelan. Ekspresi wajah mama berubah cemas.
“Benarkah?! Kamu serius?” tanya mama dengan mata membesar. Tergambar dengan jelas kepanikan di wajah mama. Dinda mengangguk pelan.
“Iya, Mama. Papa ingin lebih mengenal kak Arkhan lebih dalam, sebelum kami mengambil langkah besar untuk menikah. Sudah, mama nggak usah khawatir, Kak Arkhan itu laki-laki yang baik, bahkan hampir sempurna nyaris tak ada cela. Jadi, papa juga pasti akan setuju,” ujar Dinda menenangkan. Dinda tidak mau mama gelisah karena permintaan papa bertemu Arkhan. Mama tersenyum, meski terlihat terpaksa.
“Mereka laki-laki, jadi pasti akan punya obrolan yang menarik,” ucap mama menutupi kegelisahannya.
“Iya, Ma. Pasti mereka ingin saling mengenal.” Dinda mengembangkan senyumannya berusaha menenangkan mama. Hingga mereka dikejutkan oleh suara bel pintu yang berbunyi, dan Dinda segera bangkit.
“Itu pasti, papa! Biar aku yang membukakan pintu, Mah.” Dinda bangkit dari duduknya. Mama hanya memberi anggukan pelan.
Dinda melangkah menuju pintu dengan senyum ceria. Ketika Dinda membuka pintu, tampaklah seorang pria tampan dengan senyum lembut, yang tidak lain adalah papanya. Radit, papanya Dinda adalah seorang laki-laki tegas namun lembut pada keluarganya. Dinda sangat menghormati dan mengidolakannya. Mengetahui Radit telah mengkhianati mamanya tentu membuatnya sangat terpukul.
“Halo, Sayang. Bagaimana? Arkhan akan datang malam ini, ‘kan?” tanya papa dengan senyuman tipis.
“Tentu saja, Pah. Kak Arkhan nggak akan mengingkari janji. Dia selalu amanah,” sahut Dinda yakin.
“Bagus, kalau begitu.” Papa melangkah masuk menuju kamar. Dinda memperhatikan, sepertinya mama dan papanya masih melakukan perang dingin. Mereka tidak bicara satu sama lain. Hal itu membuat Dinda sedih.
Malam itu, Dinda berdandan dengan cantik untuk menyambut pujaan hati, laki-laki yang akan menjadi suaminya. Di depan cermin, dia tersenyum sendiri memandangi wajahnya.
“Akhirnya aku akan menikah dengan orang yang aku sukai,” gumamnya. Dinda tersentak saat mendengar bunyi bel rumah. Dengan cepat dia berdiri dan berlari keluar dari kamar untuk membukakan pintu.
“Itu pasti, Kak Arkhan!” batinnya.
Dia berdiri sejenak di depan pintu sebelum membuka pintunya. Jantungnya berdebar cepat. Dinda menarik nafas dalam-dalam menguasai dirinya. Setelah tenang, barulah dia membuka pintu. Terlihat Arkhan berdiri dengan gagahnya di hadapannya, dengan senyuman yang akan membuat semua wanita yang melihatnya terpesona.
Dinda membalas senyum dan menatap penuh cinta. Namun, Arkhan justru mengalihkan pandangan ke segala arah menghindari pertemuan tatapan mereka. Dinda mengerti hal itu dilakukan Arkhan karena dia belum menjadi istrinya. Itulah yang menjadi daya tarik Arkhan baginya.
“Ayo, Kak. Silakan masuk!” ajak Dinda mempersilakan Arkhan masuk, dengan ekspresi wajah terlihat gembira. Arkhan menundukkan kepala, melangkah menuju ruang tamu dan duduk di sofa ruang tamu.
“Sebentar ya, aku panggil papa.” Dengan cepat Dinda langsung masuk ke dalam untuk memanggil papanya. di depan pintu kamar, Dinda mendengar papa dan mama yang masih berdebat.
“Pokoknya, kalau Papa sudah bicara dengannya dan dia membuat Papa nggak nyaman, Papa, nggak akan menyetujui pernikahan Dinda. Papa nggak mau karena keegoisan mama merasa ingin aman, masa depan Dinda menjadi hancur. Kita nggak terlalu mengenal Arkhan, meskipun dia sahabat Bima. Kita juga nggak mengenal keluarganya. Papa nggak mau Dinda susah di kemudian hari!” teriak papa.
“Mama nggak peduli, papa bicara apa. Yang terpenting adalah keduanya sudah saling suka dan saling menerima. Mama akan membuat mereka bersatu. Kalau Papa akan menghambatnya, Papa harus berhadapan dengan Mama!” ancam mama tak mau mengalah.
“Jangan bodoh, Mah. Ini tentang anak kita, Papa tahu kalau Papa pernah salah. Papa menyakiti Mama karena pengkhianatan, tapi jangan korbankan anak kita! Jangan hanya karena takut, Dinda nggak bertemu laki-laki baik, Mama memaksanya menikah!” bentak papa keras.
“Siapa yang mau mengorbankan anak? Mama mencari laki-laki terbaik untuknya, agar dia tidak tersakiti nantinya,” sahut mama dengan nada kesal.
“Itu menurutmu, Ma. Kita nggak tahu seperti apa keluarga Arkhan, kita nggak mengenalnya. Saat menikah, kita bukan hanya menyatukan Dinda dan Arkhan. Kita menyatukannya juga dengan keluarganya.” Papa menarik nafas panjang.
“Ah, nanti juga Dinda mengerti harus bagaimana,” desis mama.
“Mah, Dinda itu masih anak-anak. Sangat berbeda jauh dengan Arkhan, Papa takut keluarganya akan menekan Dinda untuk melakukan perubahan besar pada dirinya,” ucap papa lagi dengan nada khawatir.
“Bukankah, itu bagus? Perubahan yang baik itu akan menjadi bagus untuk Dinda,” sahut mama terdengar puas.
“Perubahan akan jadi bagus kalau semuanya bertahap, Mah. Papa takut keluarganya menuntut berlebihan. Bukankah, Mama juga tahu, pakai hijab saja dia susah.” Papa menekankan ucapannya.
Dinda yang berdiri di depan pintu mematung, kata-kata papa benar-benar menohok. Dinda berpikir, mungkin kekhawatiran papa ada benarnya. Arkhan pasti dididik di keluarga yang agamis, sedangkan dirinya masih jauh dari kata wanita sholehah. Dinda sedikit ragu, dia takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan keluarga Arkhan.
Namun, tetap saja jiwanya yang pantang menyerah tidak membiarkan kesempatan untuk bersama dengan laki-laki yang dicintainya dan diidam-idamkannya itu hilang.
“Aku pasti bisa!” Dengan penuh semangat, Dinda berjanji akan berusaha untuk menjadi lebih baik. Dinda mengayunkan tangan dan mengetuk pintu kamar.
Sesaat setelah ketukan pintu, tidak terdengar lagi perseteruan antara mama dan papa. Tidak lama pintu terbuka.
“Dinda? Dari kapan kamu di sini?” tanya papa khawatir. Dinda memaksakan senyumnya, dia tidak mau kedua orang tuanya tahu kalau dirinya sudah mendengar semua percakapan.
“Baru, Pah. Aku mau bilang kalau Kak Arkhan sudah datang. Dia sedang menunggu Papa di ruang tamu,” jawab Dinda berusaha tenang dengan senyuman di bibirnya.
“Oke, Sayang. Ayo kita temui Arkhan.” Papa keluar dari kamar diikuti Dinda. Mama, terlihat mendengus kesal menatap kepergian papa.
“Selamat malam, Arkhan,” sapa papa ketika sudah memasuki ruang tamu. Arkhan yang tadinya asyik dengan ponsel, sepertinya sedang membalas pesan langsung mendongak menatap papa.
“Selamat malam, Om,” balasnya dengan senyuman dan anggukan kepala sopan. Dinda menatap Arkhan dengan kagum. Papa duduk berhadapan dengan Arkhan, menatapnya dengan tajam.
“Boleh, Om tahu apa alasan kamu mau menikah dengan Dinda?” tanya papa tanpa basa-basi, dengan tatapan mengintimidasi menuntut jawaban jujur. Arkhan nampak menarik nafas dalam-dalam.
“Aku ingin melindunginya seperti wasiat Bima. Aku sangat menyayangi dan menghargainya. Jadi, aku pikir dalam hidupku aku akan mencoba membantunya,” sahut Arkhan serius. Kening papa tampak mengernyit mendengar jawaban Arkhan, wajah papa menunjukkan ketidak puasan atas jawaban Arkhan.
“Apakah hanya karena wasiat, Bima? Apakah kamu nggak menaruh rasa cinta pada, Dinda?” tanya papa dengan tatapan sinis, tergambar jelas di wajahnya kalau papa tampak marah.
“Ma-maksud, Om bagaimana?” Arkhan balik bertanya. Bola mata papa membesar menajamkan tatapannya.
“Om, nggak akan melepaskan Dinda jika kamu menikahinya hanya karena almarhum Bima. Om, mau kamu menikahinya karena kamu mencintainya!” tukas papa tegas dengan suara tinggi. Mata Dinda mendelik mendengar ucapan tegas papanya. “Pah, aku ....“ Dinda menghentikan ucapannya ketika sorot mata tajam papanya mengarah padanya.