Ruang tamu menjadi terasa tegang. Arkhan duduk tegak di hadapan papanya Dinda, wajahnya menunjukkan keberanian. Namun, juga kegelisahan yang tak dapat dia sembunyikan. Papa dengan dan ekspresi serius, menatapnya dengan tatapan tajam.
"Sebenarnya, saat saya ingin menikahi Dinda. Saya tahu saya tidak pernah mengatakan 'Saya mencintaimu' kepada Dinda, tapi Om. Saya yakin, bahwa setelah menikah, saya pasti bisa mencintainya," jelas Arkhan dengan mantap. Papa terkejut, salah satu alisnya terangkat.
"Arkhan, menikah bukanlah hal yang sepele. Cinta adalah fondasi yang sangat penting dalam pernikahan. Bagaimana mungkin, kamu memutuskan untuk menikahi seseorang yang hanya kamu sukai?" ekspresi wajah papa tampak kecewa. Arkhan menelan ludah, mencoba menjelaskan.
"Om, saya memahami bahwa cinta itu penting. Tapi saya percaya bahwa ketika kita menikah dengan tujuan yang suci, karena Allah. Dia akan menumbuhkan cinta di antara kami. Saya yakin bahwa dengan ikhtiar, doa, dan usaha untuk saling mendukung dalam kebaikan, kita bisa membangun cinta yang tulus." Arkhan berkata dengan penuh keyakinan. Jawaban Arkhan membuat Dinda terharu. Hembusan nafas keluar dari mulut papa.
"Arkhan, pernikahan bukanlah tempat untuk berpikiir 'mungkin bisa mencintai'. Bagaimana kamu bisa mengambil keputusan yang begitu besar, tanpa dasar yang kuat? Saya nggak bisa memberi restu untuk ini," ujar papa dengan tegas. Mata Dinda mendelik menatap papa. Namun, dia tidak mampu membantah. Arkhan merasa putus asa. Dia ingin sekali membuat papanya Dinda memahami maksudnya, hanya saja dia juga tak ingin melawan kehendak papanya Dinda.
"Om, saya yakin bahwa jika semuanya karena Allah, maka kita akan diberkahi-Nya. Kami akan berusaha untuk saling melengkapi, dan saya yakin cinta akan tumbuh di antara kami." Arkhan berkata meyakinkan. Papa menggeleng tegas.
"Kamu masih muda, Arkhan. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan dalam sebuah pernikahan. Om nggak bisa mengizinkan ini."
Arkhan terdiam, penuh kekecewaan, dia juga tidak mengerti kenapa dia merasa begitu kecewa atas penolakkan papanya Dinda. Namun, dia juga menghormati pendapat papanya Dinda. Dia tahu betapa pentingnya restu dari orang tua dalam sebuah pernikahan. Dia juga mengerti benar kekhawatiran yang terpancar di matanya.
Arkhan masih terdiam di ruang tamu, menanggung kekecewaan atas penolakan papanya Dinda. Dia merenung, tiba-tiba mama Dinda datang. Dia tak menyangka kedatangan mendadak mamanya Dinda mengubah segalanya. Mama Dinda memasuki ruangan dengan langkah yang cepat, wajahnya memancarkan kekesalan yang sulit disamarkan.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" ucapnya dengan suara yang tinggi, mengejutkan semua orang di ruangan. Papa menatap istrinya dengan keheranan.
"Kenapa? Apa kamu akan membela Arkhan?" tanya papa dengan nada kesal. Mama Dinda menatap suaminya dengan tatapan tajam. "Arkhan ingin menikahi Dinda karena Allah, dan aku setuju!" Papa tercengang, tak menyangka Arkhan akan mendapat dukungan dari istrinya.
"Mah, bagaimana kamu bisa setuju begitu saja? Bukankah kamu selalu menekankan pentingnya cinta dalam pernikahan?" tanya papa kesal, menatap mama tajam.
"Cinta sebelumnya nggak menjamin kesetiaan. Kita nggak bisa menilai pernikahan berdasarkan rasa cinta semata. Yang terpenting adalah ketulusan niat dan upaya untuk menjadikan pernikahan ini sebagai jalan yang diridhai Allah." Mama berkata lantang membalas tatapan tajam papa.
Arkhan terkejut mendengar dukungan tiba-tiba dari mamanya Dinda. Namun, dia juga merasa lega. Sedangkan Dinda menyadari bahwa kata-kata yang dilontarkan mama seolah-olah mengarah pada suatu hal yang lebih dalam, yang berkaitan dengan pengkhianatan papanya.
Dinda memutuskan untuk bertindak seolah-olah tidak mengetahui maksud sebenarnya dari kata-kata mama. Mama menatap Dinda dengan senyum kecil. Sementara itu, papa masih terlihat bingung dengan sikap mendadak istrinya, tapi dia menyadari bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya.
Arkhan menarik nafas merasa lega karena mamanya Dinda akhirnya mendukung keputusannya untuk menikahi Dinda. Entah kenapa, Arkhan menjadi sangat berambisi untuk menikahi Dinda.
Suasana di ruang tamu menjadi lebih tenang setelah agak tegang sebelumnya. Dinda berusaha menampilkan senyuman untuk menjaga suasana yang lebih positif di antara mereka.
“Papa, aku tahu, Papa pasti khawatir. Percayalah, aku akan menjaga diriku dengan baik. Aku percaya pada Kak Arkhan. Aku yakin dia nggak akan menyakitiku dan mengecewakan Papa dan Mama,” ucap Dinda menenangkan, menatap papa meyakinkan. Papa masih diam, tampak berpikir.
Arkhan yang duduk di sebelah Dinda, merasa lega dengan perubahan suasana yang terjadi. Melihat Dinda yang tetap tersenyum meskipun menundukkan kepalanya dengan malu membuat hatinya hangat. Tanpa sepengetahuan Dinda, dia mencuri pandang ke arahnya. Dia tidak menyangka, gadis kecil yang dulu sangat dihindarinya sudah beranjak dewasa.
Dinda, yang sedang sibuk memperbaiki rambutnya, tiba-tiba merasakan pandangan hangat yang datang dari sampingnya. Tanpa disadarinya, matanya bertemu dengan Arkhan. Tatapan Arkhan membuatnya merasa tersipu malu. Dia berusaha untuk menyembunyikan rona merah di pipinya dengan semakin sibuk membenahi rambutnya.
Arkhan merasa senang melihat reaksi Dinda yang malu-malu itu. Dia tidak bisa menahan senyumnya sendiri melihat kepolosan dan keanggunan yang dimiliki oleh Dinda. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya, tapi ekspresi di wajahnya sudah cukup untuk menyatakan betapa dia terpikat dengan kecantikan Dinda yang khas.
Papanya Dinda, yang sebelumnya menunjukkan ketegasan terhadap pernikahan tersebut, menatap Arkhan dengan ekspresi yang penuh pertimbangan.
"Arkhan, saya melihat keteguhan hatimu. Saya akan menyetujui pernikahan kalian, tapi dengan syarat." Arkhan terkejut, mencerna kata-kata papanya Dinda dengan hati-hati.
"Syarat apa, Om?" tanya Arkhan. Papanya Dinda menatap Arkhan dengan serius.
"Setelah menikah, kamu dan Dinda harus mau tinggal bersama di rumah kami. Saya ingin melihat bagaimana kalian berdua menjalani kehidupan sehari-hari bersama sebelum akhirnya memutuskan untuk hidup mandiri."
Dinda dan Arkhan saling pandang, sedikit terkejut namun juga merasa lega. Dinda merasa senang karena ini merupakan langkah kecil dalam mendapatkan restu orang tuanya.
Sedangkan Arkhan, meskipun terkejut dengan syarat tersebut, merasa bersyukur karena ini adalah kesempatan baginya untuk menunjukkan kesungguhan dan komitmen kepada keluarga Dinda.
"Baik, Om. Kami bersedia tinggal bersama di rumah ini setelah menikah, sebelum kami memutuskan untuk memiliki rumah kami sendiri," jawab Arkhan mantap. Papa mengangguk, memberi isyarat bahwa keputusan ini sudah bulat.
"Baiklah, semoga ini menjadi langkah awal yang baik bagi kalian berdua. Papa akan mendukung pernikahan ini dengan syarat kalian saling menjaga, saling menghormati, dan berusaha untuk membangun hubungan yang baik."Papa menatap Dinda dan Arkhan bergantian. Dinda tersenyum lega, merasa terharu dengan restu dan dukungan papanya.
"Terima kasih, Pa. Kami akan berusaha yang terbaik." Dinda berkata yakin.
"Terima kasih banyak, Om. Kami akan memastikan untuk menjalani semua ini dengan baik. Saya berjanji akan merawat Dinda dengan sebaik-baiknya,” ucap Arkhan menambahkan.
Atas restu dari papanya Dinda, Arkhan merasa lega dan yakin bahwa dengan dukungan dari keluarga Dinda, pernikahan mereka akan menjadi langkah awal menuju kehidupan yang bahagia dan penuh berkah. Sementara itu, Dinda merasa bahagia karena orang tuanya mulai membuka pintu hati mereka untuk menerima pernikahannya. Semuanya menjadi langkah awal yang penuh harapan untuk masa depan yang cerah bagi mereka berdua.