Dinda tersenyum lega karena papa sudah merestui rencana pernikahannya. Namun, Arkhan masih merasa tegang meskipun mendapat restu dari orang tua Dinda. Ia merasa terharu dengan dukungan yang diberikan.
“Aku yakin bisa menjalani masa depan yang cerah bersama, Kak Arkhan,” batinnya, menatap Arkhan penuh cinta.
“Aku yakin bisa memberikan yang terbaik untuk kita berdua,” gumam Arkhan dalam hati, tersenyum menatap Dinda..
Setelah perbincangan yang hangat dan sudah mendapat dukungan, Arkhan merasa semakin mantap untuk melangkah ke tahap berikutnya. Dia merasa senang karena telah mendapat restu dari orang tua Dinda. Namun, masih ada satu langkah lagi yang harus dia ambil.
“Sekarang, saya pamit pulang dulu, Om, Tante. Saya akan bicara dengan orang tua saya. Saya ingin memberitahukan rencana ini kepada mereka,” pamitnya menatap papa dan mama bergantian.
“Tentu. Pastikan kalian berdua selalu saling mendukung,” ucap papa mulai yakin dengan keteguhan Arkhan.
“Ya, Om. Terima kasih atas restunya,” sahut Arkhan sopan, senyuman terbit di wajahnya menambah pesona ketampanannya.
Dengan hati penuh harapan, Arkhan pamit pulang dari rumah Dinda. Langkah selanjutnya adalah memberitahukan orang tuanya tentang keputusannya untuk melamar Dinda. Dia berjalan meninggalkan rumah Dinda dengan keyakinan bahwa masa depan yang cerah sedang menantinya bersama Dinda.
Setelah Arkhan pergi, suasana di rumah Dinda penuh dengan kehangatan. Dinda tersenyum cerah, bahagia karena mendapat restu dari orang tuanya untuk melanjutkan hubungannya dengan Arkhan. Ia berlari dan memeluk erat Papa dan Mama.
“Terima kasih, Papa, Mama! Aku begitu bahagia!” bisiknya saat memeluk papa dan mamanya.
“Senang melihatmu bahagia, Sayang,” ucap mama membelai rambut panjang Dinda.
“Pastikan kalian berdua saling mendukung dan menjaga hubungan dengan baik. Mengerti?!” Papa berkata dengan wajah cemas. “Beres, Pa. Aku akan berusaha belajar jadi istri terbaik,” balas Dinda dengan senyuman penuh kebahagiaan.
Dengan gembira Dinda bergegas ke kamarnya, hatinya masih terbang tinggi karena keputusan besar yang baru saja diambilnya. Di dalam kamarnya, Dinda segera menghubungi kedua sahabatnya, Dina dan Riana, melalui pesan singkat.
Dinda : "Hei, besok gue ingin bertemu kalian berdua! Ada hal penting yang ingin gue bicarakan!”
Riana: "Wah, kedengarannya lo semangat banget. Pasti ada hal besar yang mau lo ceritakan!"
Dina: "Cepat Din. Gue penasaran! Ceritakan sedikitlah, Dinda."
Dinda membalas pesan Dina: "Nanti aja, tunggu sampai kita ketemu besok."
Dinda melempar ponselnya di atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya dengan tatapan kosong yang melayang ke langit-langit kamarnya. Di tengah lamunan, memori masa lalu seakan mengalir dengan jelas di benaknya.
Dia teringat akan momen-momen pertemuan pertamanya dengan Arkhan. Dia masih remaja masih duduk di bangku SMP saat itu. Arkhan, yang pada saat itu begitu cemas dan takut ketika Dinda menyatakan perasaan padanya. Dinda tersenyum kecil mengingat bagaimana Arkhan, yang biasanya percaya diri, terlihat begitu kikuk saat itu.
Lalu, kenangan tentang almarhum Bima, kakaknya, muncul. Saat itu, Bima, dengan keras dan tegas, pernah memarahinya karena keberaniannya yang terkadang dianggap mempermalukan dirinya. Dinda merenung sejenak, merasakan getaran hangat di hatinya karena kenangan itu. Bima sudah tiada, namun pelajaran dan nasihatnya masih terngiang dalam hati Dinda.
Dinda menghela nafas dalam-dalam, pikirannya kembali ke masa kini, di mana dia akan menikah dengan laki-laki yang selama ini menjadi impian dan cinta sejatinya, Arkhan.
"Siapa sangka, dari perasaan remaja yang polos hingga saat ini akan menikah dengan orang yang begitu aku cintai," gumamnya tersipu malu.
Keputusannya untuk menikah dengan Arkhan membuatnya bahagia. Dalam pikirannya, Dinda yakin bahwa masa depan yang cerah menantinya bersama Arkhan, memori masa kecil yang membentuknya menjadi diri yang dia kenal saat ini. Dinda memejamkan mata hingga akhirnya dia terlelap dengan seulas senyum di bibirnya.
Keesokan harinya, Dinda meminta ijin pada papa dan mamanya untuk bertemu sahabatnya di kafe favorit mereka. Saat ojek online yang di pesan tiba, dia langsung mencium papa dan mama lalu berlari keluar rumah dan menaiki motor yang terparkir di depan rumahnya.
Riana dan Dina sudah menunggunya. Mereka tampak tidak sabar untuk mengetahui apa yang membuat Dinda begitu bahagia.
"Oke, Dinda, sekarang ceritakanlah! Apa yang mau lo, sampaikan? Kami penasaran!" desak Riana.
"Iya, lo terlihat sangat ceria belakangan ini!" Dina menatap curiga. Dinda tersenyum misterius.
“Ih, cepat katakan!” desak kedua sahabatnya itu menuntut jawaban.
"Oke, gue akan memberitahukan semuanya sekarang. Gue dan Kak Arkhan telah mendapat restu dari orang tua kami untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang berikutnya," ucap Dinda tersenyum bahagia. Sontak kedua sahabatnya terkejut dengan mata membesar dan mulut menganga.
“Tunggu! Maksud, lo? Menikah?” tanya Dina tidak percaya. Dinda mengangguk mantap dan cepat. Seketika kedua sahabatnya mencubit pipi mereka, khawatir apa yang di dengarnya adalah mimpi.
“Ya ampun, gue nggak mimpi!” teriak Riana.
“Memang kalian nggak mimpi kok. Ini nyata! Almarhum Kak Bima nitipin gue sama Kak Arkhan di suratnya. Nah, Kak Arkhan khawatir kalau jagain gue tanpa ikatan resmi. Kalian tahu ‘kan, dia itu sangat taat agama. Makanya dia minta aku nikah sama dia,” jelas Dinda tersenyum lebar. Riana dan Dina bersorak kegirangan.
"Wow, itu kabar hebat, Dinda! Selamat!" teriak Riana.
"Gue senang mendengarnya, Dinda. Dia kan pangeran impian, lo!" Dina tertawa dengan binar bahagia di matanya.
"Terima kasih, teman-teman! Gue juga benar-benar senang, dan gue nggak sabar untuk memulai langkah selanjutnya dalam hubungan kami." Dinda tersipu malu-malu.
Dinda dan kedua sahabatnya tertawa bahagia. Saat kedua sahabatnya menggoda hubungannya dengan Arkhan. Namun, keriuhan itu terganggu oleh bunyi dering dari ponsel Dinda. Nama "Arkhan" muncul di layar, dan seketika itu, tawa riang yang melingkupi mereka hening.
Dinda mengangkat salah satu alisnya, memberi isyarat pada kedua sahabatnya, Dina dan Riana, yang duduk di seberangnya, untuk memberi kesempatan padanya menjawab panggilan itu. Dengan perlahan, Dinda menjawab teleponnya.
"Halo, Kak Arkhan?" jawab Dinda dengan suara cerianya yang khas.
"Halo, Dinda. Maaf mengganggu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Suara Arkhan terdengar serius.
"Tentu, Ada apa, Kak?"
"Orang tuaku meminta untuk bertemu denganmu. Mereka ingin mengenalmu lebih dekat sebelum pernikahan kita," ucap Arkhan. Dinda sedikit terkejut, namun senyum kecil terukir di wajahnya. Hal itu menunjukkan bahwa Arkhan benar-benar serius dengan hubungan mereka.
"Oh, tentu saja. Aku senang bertemu dengan mereka," sahut Dinda dengan nada bahagia.
"Bagus. Bagaimana kalau kita bertemu besok? Mereka ingin mengundangmu makan malam di rumah kami."
"Baiklah, besok aku akan datang," ucap Dinda berusaha tenang.
"Terima kasih, Dinda. Aku yakin mereka akan menyukaimu."
Dinda menutup teleponnya dengan rasa campur aduk. Ia merasa gugup. Namun juga senang, karena akan bertemu dengan orang tua Arkhan. Dia berbalik kepada Dina dan Riana yang menunggu dengan penasaran.
"Kak Arkhan meminta gue bertemu dengan orang tuanya. Mereka ingin mengenal lebih dekat sebelum pernikahan kami," teriaknya penuh semangat.
"Wow, itu sangat serius. Pasti lo gugup, ya?" ujar Riana menggoda Dinda.
"Tunggu, apa lo udah mikirin apa yang akan lo katakan ke orang tuanya?" tanya Dina dengan ekspresi wajah cemas. Hembusan nafas keluar dari mulut Dinda.
"Sedikit gugup sih, tapi gue akan berbicara dari hati. Gue percaya semuanya akan baik-baik aja."
Riana dan Dina memberikan dukungan pada Dinda. Mereka menghabiskan sisa waktu bersama, memberikan semangat dan saran kepada Dinda untuk pertemuan besok. Dalam hatinya, Dinda berharap pertemuan dengan orang tua Arkhan akan berjalan lancar, memperkuat ikatan cinta mereka sebelum memasuki babak baru dalam hubungan mereka.