Rahasia Mama

1205 Kata
“Gue ke toilet dulu ya,” Dina pamit. Namun karena matanya mengedar tak karuan dia menabrak laki-laki tampan dan menumpahkan minuman yang dipegangnya. “Aduh, maaf ya,” ucap Dina. Riana dan Dinda menatap dari kejauhan. Sedangkan Dina langsung mengembangkan senyumannya saat melihat yang ditabraknya sangatlah tampan. “Iya, nggak apa-apa. Lain kali jalanlah hati-hati!” ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan Dina yang masih berdiri terpaku. Dina tersadar dan melangkah ke toilet, lalu kembali lagi menemui Dinda dan Riana. “Lo, lihat nggak? Tadi, gue nabrak cowok ganteng!” jelasnya penuh semangat. Semua tertawa kecil menyambut cerita Dina. Mereka asyik menggoda Dina yang tampak senang bertabrakan dengan laki-laki tampan. Hari mulai sore ketika Dinda, Riana, dan Dina berjalan bersama keluar dari café. Tawa riang mereka terdengar sangat bahagia. "Seru banget hari ini, ya, girls?" ujar Dinda sambil tersenyum lebar. Riana mengangguk cepat. "Iya, bener-bener nggak terduga. Siapa sangka kita bisa ketemu cowok ganteng di kafe tadi!" Dina tertawa. "Iya, itu bener-bener keberuntungan! Duh, gue masih gak bisa move on dari tatapan matanya!" Dina memegang kedua pipinya membayangkan laki-laki tampan yang ditabraknya di café. Mereka terus bercengkrama, berbagi cerita, dan tertawa bersama. Namun, senyum Dinda sedikit memudar ketika dia mengingat situasi di rumahnya. "Girls, kayaknya udah waktunya gue pulang," ucap Dinda dengan hati-hati. "Sudah? Masih mau cerita-cerita dong, Dind," pinta Riana dengan wajah memelas. "Maaf, guys. Nanti lagi ya kita ketemu, gue mau siapin pakaian buat ketemu calon mertua!" ujar Dinda sembari mengatupkan kedua telapak tangannya. Mereka berpisah dengan senyum hangat. Dinda sudah memesan ojek online untuk pulang ke rumah. Ketika ia tiba di depan pintu rumahnya, cahaya redup dari kamar orang tuanya menarik perhatian. "Mama!" gumam Dinda. Dia masuk ke dalam dan melihat mamanya, duduk sendirian dengan mata berkaca-kaca. Dinda langsung bergegas mendekatinya. "Mama, kenapa menangis?" tanya Dinda, penuh kekhawatiran, meski dia sudah tahu kenapa mamanya menangis. Mata Mama membesar, terkejut oleh kehadiran Dinda yang mendadak. Mama, dengan cepat menyeka air matanya. "Oh, sayang, ini bukan apa-apa. Mama hanya sedang terbawa suasana setelah menonton film sedih tadi," elaknya beralasan. Dinda memandang mamanya dengan penuh perhatian. "Mama, aku tahu ada yang terjadi. Bolehkah, aku tahu atau membantu Mama?" Mama terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Nggak ada apa-apa, sayang. Ini hanya perasaan biasa setelah menonton film." Meski merasa yakin bahwa mamanya tidak jujur, Dinda memutuskan untuk tidak meneruskan pertanyaannya. Dia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang terjadi, tapi dia juga mengerti betapa sulitnya untuk membuka hati yang terluka, apalagi pada Dinda. Dinda tahu kalau mamanya sengaja menyembunyikan semua darinya agar Dinda tidak kecewa. "Baiklah, mama. Aku di kamar kalau butuh aku, ya?" ucap Dinda sambil memeluk mamanya. Mama tersenyum tipis sambil mengangguk. "Terima kasih, sayang. Kamu anak yang baik." Dinda melangkah keluar kamar meninggalkan mamanya dengan hati yang berat, namun dia merasa perlu memberikan ruang bagi mamanya. Di kamarnya, Dinda duduk termenung, memikirkan situasi yang rumit di keluarganya, berharap suatu hari mamanya akan merasa nyaman untuk bercerita tentang kesedihan yang dirasakannya. Dinda baru saja merapikan buku-bukunya di rak bukunya ketika bel pintu berbunyi dengan tiba-tiba. Langkahnya terburu-buru menuju pintu depan. Saat membuka pintu, matanya terbelalak kaget. Dihadapannya, seorang wanita berdiri dengan wajah cemas, memegang erat tangan seorang gadis kecil yang tersenyum malu-malu. Dinda menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya. Wanita itu tersenyum canggung. "Permisi, maaf mengganggu. Saya mencari seseorang," ucapnya dengan nada yang agak gemetar. "Siapa yang Tante cari?" tanya Dinda dengan rasa ingin tahu. "Ibu Risa! Apakah benar ini rumahnya?” tanyanya ragu. Dinda mengangguk mengiyakan. "Oh, tunggu sebentar ya. Mari, silahkan masuk!" Dinda mempersilahkan wanita dan anak kecil itu untuk masuk. Saat itu, papa sedang tidak ada di rumah, dan Dinda merasa was-was dengan kedatangan wanita tersebut, karena baru kali ini dia melihatnya. Hatinya gelisah, Dinda khawatir wanita itu akan mengusik ketenangan mama. Dengan ragu, Dinda segera memanggil mamanya. "Mama, ada yang mencarimu!" ucap Dinda pelan ketika sudah berada di kamar mama. “Siapa?” tanya mama. Dinda menggeleng pelan. Mama keluar dari kamarnya dengan cepat. Terlihat langkah mama terhenti menatap wanita yang duduk di ruang tamu. Ekspresi wajahnya berubah kesal, hembusan nafas keluar dari mulut mama. “Dinda, ini teman Mama. Masuklah ke kamarmu, nggak perlu dibuatkan minum karena dia nggak akan lama,” ujar mama menatap Dinda dengan senyuman dipaksakan. Dinda terpaku menatap mama yang berusaha tenang. “Apa kamu mengerti, Sayang?” tanya mama penuh penekanan. Dinda tersadar dari lamunannya. “Eh, iya Mah,” sahut Dinda tanpa membantah. Dia melangkah masuk kamarnya. Namun, beberapa menit kemudian Dinda keluar dari kamar dan bermaksud menguping pembicaraan mama dengan tamu tersebut. Dinda terkejut mendengar percakapan antara mamanya dengan wanita di depannya. "Dia istri papa? Dan anaknya?" gumamnya dalam hati. Dinda terdiam, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Jadi, papa bukan hanya mengkhianati mama. Namun, papa juga punya anak?” batin Dinda gemetar, dia nyaris tak percaya kalau di balik senyuman mama menyimpan luka yang begitu dalam. “Apa yang bisa kamu harapkan dariku?” tanya mama mengintimidasi, tampak kemarahan tergambar di wajahnya. “Tolong saya, Mbak. Jangan menyuruh Mas Radit menceraikan saya. Lihatlah anak ini, dia butuh papanya,” pintanya memohon dengan mata berkaca-kaca. Mama bergeming tak menjawab. "Mas Radit ingin menceraikanku. Dia bilang ingin hidup bahagia bersama, Mbak. Lalu, apa aku dan anakku tidak punya hak atas kebahagiaan bersamanya?" tanya wanita itu dengan suara gemetar. Dalam kebingungannya, Dinda melihat ke arah mamanya dari kejauhan. Ingin rasanya Dinda berlari memeluk mama. Dinda tidak tahan, dia melangkah pelan menuju mamanya yang duduk terdiam di ujung sofa, tatapannya tertuju pada sosok yang begitu dekat namun terasa begitu jauh dalam keretakan keluarganya. Mata Dinda terasa berat saat melihat air mata yang menetes di pipi mamanya. Dinda tidak bisa mengabaikan kesedihan mendalam yang tersirat dari ekspresi mamanya. Mama menoleh saat mendengar langkah kaki Dinda mendekat. Ekspresi wajahnya mencerminkan rasa malu, rasa sakit yang begitu mendalam. Dia mencoba menyembunyikan derita dan kekecewaannya, tetapi air mata yang terus mengalir dari matanya memperlihatkan betapa hancur hatinya. "Dinda ...." Suara lembut mamanya terdengar rapuh. Dinda mendekat dan duduk di samping mama. Dia ingin menguatkan hati mamanya, tetapi dia sendiri terlalu terkejut dan terluka oleh apa yang baru saja terjadi. Namun, di balik rasa sakitnya, Dinda juga merasa terharu dengan kekuatan mama yang telah menyembunyikan pengkhianatan papa darinya. "Mama, kenapa nggak memberitahuku sebelumnya?" tanya Dinda dengan suara lembut, mencoba menahan air matanya. Mama menatap Dinda dengan penuh penyesalan. "Mama nggak ingin membuatmu kecewa, Nak. Mama ingin melindungimu dari kepedihan ini. Mama nggak ingin kamu memikul beban yang seharusnya bukan milikmu." Dinda merasakan getar perasaan campur aduk di dalam hatinya. Dia bisa merasakan betapa mamanya berusaha melindunginya dari penderitaan yang tak perlu. "Mama, a-aku mengerti," bisik Dinda dengan suara terbata-bata. "Aku hancur, tapi aku juga sangat bersyukur memiliki Mama. Mama begitu kuat, aku bangga memilikimu, Ma." Mama menarik Dinda dalam pelukan hangat. Mereka saling mendekap, berbagi rasa sakit yang sama, tetapi juga menunjukkan kekuatan dan kesetiaan yang luar biasa satu sama lain. Walaupun hati mereka terluka, Dinda merasa tergerak oleh keberanian mama untuk melindungi dan menyayanginya dengan segala cara. Mulai saat itu, Dinda bertekad untuk menjadi penopang yang kuat bagi mamanya, sama seperti mama, yang telah menjadi penopang baginya sepanjang hidupnya. Di dalam kehancuran keluarga mereka, mereka menemukan kekuatan dalam ikatan mereka yang tak tergoyahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN