Bab 10

1012 Kata
Aruna sedikit kecewa karena tidak mendapatkan info apapun dari Anjas. Namun, dia tidak putus asa, dia akan mengatur ulang jadwal untuk bertemu Anjas lagi. Sekilas terbesit dipikiran Aruna untuk datang ke kantor. Biar bagaimanapun? Kantor itu juga milik Aruna. Aruna langsung menjalankan mobilnya menuju kantor. Sampai di kantor, dia tidak langsung menuju ke ruangan Bobi maupun Mahesa. Dia memilih keliling terlebih dahulu. "Ah kenapa Mbak Aruna gak ambil alih perusahaan ini ya? Padahal dia kan seharusnya yang menjadi direktur." Suara karyawati yang tengah berjalan di belakang Aruna bersama kedua temannya. Memang sebenarnya Aruna yang harus jadi direktur, tapi dia dulu merasa tidak sanggup sehingga melimpahkannya pada Bobi yang dia rasa lebih siap. Apalagi, Bobi adalah sahabat papanya. "Kalau masih di pimpin Pak Bobi kapan kita maju? Yang ada makin bangkrut terus kita kerja apa?" Bangkrut? Aruna terkejut. Mereka tidak menyadari kalau yang di depan mereka adalah Aruna. "Tapi katanya Pak Mahesa gak mau cerai sama Bu Aruna. Ah kalau aku jadi Bu Aruna, aku akan ambil alih perusahaan ini." Kata salah satu dari mereka. Aruna ingin dengar lebih banyak lagi, tapi mereka tampaknya sudah diam tak membahas hal itu lagi. Aruna berjalan menuju ruangan Bobi. "Mbak Aruna, ada yang bisa saya bantu?" tanya sekertaris Bobi. Wajahnya tampak ketakutan saat melihat Aruna datang. "Pak Bobi ada?" Aruna menunjuk ruangan Bobi. "Ada, Bu. Tapi jangan masuk, Pak Bobi sama Pak Mahesa lagi membahas hal penting." "Kenapa aku gak boleh masuk? Kan aku juga pemilik perusahaan ini?" "Itu ...anu ..." Sekertaris itu tampak gugup. Aruna tidak mau mengalah, dia segera mendekati pintu dan membukanya. "Aruna .... Ngapain disini?" tanya Mahesa saat melihat Aruna datang. Terlihat Bobi mengambil sesuatu di meja dan menaruhnya dilaci. "Eh menantu kesayangan papa datang, cari Mahesa atau papa nih?" Bobi mendekati Aruna. "Gak cari siapa-siapa hanya mau main kesini aja. Kan ini juga perusahaan aku, Pa. Apa papa lupa?" "Oh tentu saja tidak. Kamu boleh main kesini kapan saja." Aruna mendadak punya pikiran untuk kembali bekerja di kantor. Dia ingin menyelidiki soal kantor sekaligus belajar. Karena jika nanti dia dan Mahesa bercerai, maka Aruna akan memimpin perusahaan. "Pa, bolehkan Aruna kembali kerja disini?" Mahesa dan Bobi terkejut, pasti dia tidak akan menyangka kalau Aruna akan meminta hal itu. "Run, kamu kan hamil. Apa tidak sebaiknya di rumah saja? Perusahaan ini serahkan sama papa dan aku." Mahesa langsung menyahut. "Jangan sampai kamu kecapean!" "Aku gak akan merasa kecapean, aku kangen kerja disini. Boleh kan? Aku kan juga pemilik disini." Bobi tampak berpikir, "ya tidak apa-apa. Kamu bisa mulai bekerja kapan saja." Mahesa tampak tidak suka dengan jawaban Bobi. "Pa, Aruna hamil bagaimana kalau dia kecapean?" "Ya kita tidak kasih kerjaan Aruna yang berat." "Oke, baiklah. Besok aku akan mulai bekerja. Oh ya aku pamit ya mau istirahat!" Aruna lalu pergi dan menutup pintu namun tidak rapat sehingga dia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. "Pa, kalau Aruna kerja lagi bahaya. Dia bisa tahu apa yang kita lakukan selama ini. Bagaimana kalau dia mencari tahu soal kecelakaan papanya?" "Kalau kita menolak, dia justru curiga. Dasar b0d0h!" Bobi mengumpat. Aruna yakin kecelakaan papanya ada kaitannya dengan Bobi. Jika memang itu terjadi, dia tidak akan tinggal diam. Aruna segera kembali ke rumah. Tanpa sangaja dia melihat seseorang mirip Andri. Dia langsung menepikan kendaraan dan mendekati pria itu. "Andri ...!" Pria itu menolah, dan benar saja dia adalah Andri yang kembali bekerja menjadi ojol. "Kita perlu bicara." "Jangan sekarang aku banyak orderan! Nanti aku hubungi kamu!" "Oke. Awas kamu gak hubungi aku!" Andri menganggukkan kepala, Aruna lalu masuk ke mobil dan pulang. Benar saja, malam itu Andri menelpon Aruna. "Maafkan aku, aku sadar aku salah. Mulai saat ini aku tidak akan pergi lagi. Aku akan temani kamu." "Aku akan kembali kerja di kantor milik papaku. Aku ingin kamu bantu aku dari belakang." "Bantu apa?" Aruna berbicara dengan sangat pelan. Dia tidak ingin ada yang mendengarkan rencananya itu. "Baiklah, aku akan bantu kamu." Mulai saat itu, hubungan Aruna dan Andri kembali membaik. Dan Aruna mulai bekerja lagi. *** "Mau berangkat bareng?" tanya Mahesa. "Gak usah aku sendiri aja." "Aruna mau kemana?" "Aku akan kerja di kantor lagi. Lagi pula aku juga punya saham disana. Bahkan sahamku lebih besar. Aku tidak mau ada yang memanfaatkan aku." Hana hanya terdiam, Aruna lalu pergi lebih dulu. Mahesa masih sarapan. "Kamu yakin memasukkan Aruna di kantor? Bagaimana kalau dia mengambil alih perusahaan dari tangan kalian?" "Itu yang aku takutkan. Tapi papa malah menyetujui permintaan Aruna." "Aku yakin Aruna tidak b0 d0h jadi kalian harus hati-hati." Mahesa pamit ke kantor, dia tidak mau kecolongan. Dia akan merasa sia-sia jika Aruna mengambil alih perusahaan. Karena setelah Bobi pensiun, Mahesa yang harus jadi penerusnya. Sampai di kantor, semua orang terkejut melihat Aruna kembali. Namun, ada senyum senang di bibir mereka. "Selamat pagi semua, aku akan kembali lagi bekerja. Jadi mohon bantuannya!" "Tentu, Bu." Jawab mereka kompak. Dua tahun lalu, Aruna menyerahkan perusahaan pada Bobi. Dia percaya Bobi lebih pantas. Tapi sekarang, dia merasa ada sesuatu yang Bobi sembunyikan. "Mahesa, aku ingin punya asisten pribadi. Orangnya aku akan pilih sendiri. Pagi ini dia akan datang!" "Kenapa tidak beri tahu aku? Kan aku bisa Carikan!" "Tidak perlu, aku bisa sendiri." "Ya sudah, biarkan saja." Bobi menengahi. Aruna tengah menunggu seseorang, tidak berapa lama sekertaris Bobi datang. "Bu Aruna, ada yang ingin bertemu." "Suruh dia masuk!" Sekertaris itu langsung keluar, tidak berapa lama seorang pria masuk. "Kenapa dia? Apa tidak ada orang lain?" Mahesa langsung protes. "Tidak ada. Hanya dia yang bisa aku percaya." "Memang dia siapa?" tanya Bobi mendekati Andri. Mahesa terdiam, dia tidak mungkin memberi tahu Bobi siapa Andri sebenarnya. "Kenalkan, Pa! Dia Andri, sekarang dia asisten pribadi aku sekaligus sopir pribadi." Mahesa makin terkejut, dia tampak tidak suka Aruna membawa Andri ke kantor. Dia merasa posisinya semakin terancam. "Sudah berapa lama kalian kenal?" Bobi mendekati Andri. "Tidak penting berapa lama, yang terpenting dia bisa dipercaya." Aruna yang menjawab. "Tolong antarkan kamu ke ruang kerja kami!" "Mahesa, antarkan!" Bobi menatap ke arah Mahesa yang masih kesal. Dengan terpaksa, Mahesa mengantar Aruna ke ruangannya. Dia tidak mau posisi dia di kantor dan sebagai suami Aruna terancam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN