Bab 9

1027 Kata
Aruna meminta izin pada Mahesa untuk menginap di rumah mamanya selama beberapa hari. Mahesa tentu saja mengizinkan Aruna. Sampai di rumah, Aduan disambut hanya oleh Ratih. Dia sanang Aruna sering berkunjung. "Apa ada masalah?" "Tidak, Ma." Malam itu, Aruna dan Ratih duduk berdua di taman. Sambil menikmati kue dan teh manis buatan Ratih. "Ma, sedekat apa papa dan Om Bobi?" "Kan kamu sudah tahu mereka sahabat sejak SMA sayang. Memang ada apa?" "Apa mama tahu soal janji papa menjodohkan aku dengan Mahesa?" "Mama tidak tahu. Tapi Papa pernah bercerita kamu harus ada yang menjaga. Karena papa hanya punya kamu dan mama." Ratih menatap Aruna. "Tidak biasanya kamu seperti ini. Apa ada masalah dengan Mahesa?" Aruna hanya tersenyum tipis, dia belum siap jujur pada sang mama. Dia tidak ingin penyakit jantung sang mama kambuh. Dia belum siap kehilangan mamanya. "Jika kamu ada masalah, cerita sama mama. Kamu hanya punya mama, kalau tidak pada mama kamu bercerita pada siapa lagi? Meskipun kalian sudah menikah, tetap saja jangan lupakan peran mama disini." Aruna memeluk Ratih, dia menangis dalam pelukan Ratih. Sebagai seorang ibu, Ratih tentu paham jika Aruna ada masalah. "Jangan takut mama kenapa-kenapa! Mama hanya ingin kamu bahagia!" Aruna mengusap air matanya lalu melepaskan pelukannya. "Tidak ada yang perlu diceritakan, Ma." Ratih mengajak Aruna masuk ke ruangan kerja almarhum suaminya. Di sana mereka merasakan seakan masih ada hadirnya. "Ma, apa aku boleh keruangan ini setiap saat?" "Tentu saja boleh. Ini milik papamu, jadi ini juga milikmu." Ratih hanya tersenyum. Aruna hanya satu malam di ruang Ratih. Dia yakin akan kembali ke sana lagi. Dia ingin melihat dan mencari sesuatu di ruangan kerja sang papa. Pulang ke rumah, Aruna kembali disuguhkan dengan kemesraan Hana dan Mahesa. Lagi dan lagi Aruna hanya bisa menutup mata dan telinga. "Terima kasih, Aruna!" "Tugas kamu disini tidak hanya itu. Kamu harus membantu aku keluar dari rumah tangga ini agar kamu bisa memiliki Mahesa seutuhnya." "Tenang saja!" Malam itu, Mahesa pergi ke rumah Bobi. Tinggal Hana dan Aruna di rumah. "Hana, aku ingin tahu bagaimana kamu dan Mahesa bisa menikah." Hana mulai bercerita, "Dulu kami tidak saling mengenal, tapi Mahesa yang datang ke keluarga kami. Dia menabrak papaku, hingga beliau meninggal. Sebelum meninggal dunia, papa meminta Mahesa menikahi aku. Awalnya dia menolak tapi dia mencoba mendekatkan diri denganku. Akhirnya dia mencintai aku dan menikahi aku. Sayangnya, orang tua dia tidak merestui. Kamu menikah tanpa restu keluarga Mahesa." "Apa kamu tahu dia menikahi aku?" Hana mengangguk, "Aku tahu, mereka datang ke aku. Meminta aku menceraikan Mahesa tetapi aku tidak mau. Mereka memaksa aku mengizinkan kalian menikah. Demi Mahesa aku pun setuju. Namun, Mahesa lama-lama acuh padaku dan mulai suka sama kamu." "Dia suka aku? Kenapa dia tak menyentuhku dulu?" "Dia terbayang-bayang janjinya pada papaku. Dia tidak ingin menyakiti aku. Makanya dia tak mau menyentuh kamu walaupun dia mulai mencintai kamu." Aruna mulai paham, saat ini Aruna ingin mencari tahu mengapa Bobi enggan melepaskan Aruna? Padahal Aruna sudah terbukti selingkuh. "Apa kamu tahu alasan Mahesa dan keluarganya tidak mau melepaskan aku?" Hana menggelengkan kepala, dia sama sekali tidak tahu soal itu. Baginya, masih bisa bersama Mahesa saja sudah membuatnya senang. "Sepertinya ada hal yang disembunyikan oleh Papa Bobi. Mungkin karena janji papamu dengannya." Hana hanya menduga saja. Dulu Aruna kuliah di luar kota saat papanya dan Bobi merintis usaha bersama. Jadi, dia tidak tahu soal kedekatan mereka. Hanya sesekali saat pulang mereka di pertemukan. Aruna mencoba mencari informasi dari salah satu karyawan lama sang papa yang saat ini masih bekerja di kantor Bobi. Dia yakin karyawan itu tahu. "Om Anjas, bisakah kita bertemu besok?" "Tentu saja." Anjas teman sekaligus karyawan Papa Aruna langsung menyetujui. "Kamu menelpon siapa? Apa itu Om Anjas?" tanya Mahesa. Aruna melihat ada rasa tidak suka saat menyebut nama Anjas dalam raut wajah Mahesa. "Bukan, kamu salah orang." Aruna ke kamar, dia tidak ingin dekat dengan Mahesa terlalu lama. Di saat seperti itu, kesempatan untuk Hana mendekati Mahesa. *** Aruna melihat Mahesa telah pergi ke kantor. Dia segera sarapan dan berangkat ke rumah Ratih. "Mau kemana?" "Bukan urusan kamu." Aruna tidak mungkin memberi tahu Hana. Karena bisa saja Hana ada di pihak Mahesa secara Hana sangat mencintai Mahesa. "Kamu tidak percaya padaku?" "Bukan tidak percaya, tapi belum percaya." Hana lalu bersiap dan pergi. Hana hanya tersenyum, dia senang Hana mau berbagi rumah dan suami dengan dirinya. Namun, tetap saja tujuannya adalah menjadi Nyonya Mahesa satu-satunya. Aruna sampai di rumah Ratih. Tapi Ratih tidak ada karena ada urusan bersama teman-temannya. Aruna masuk ke ruangan kerja sang papa. Hana ingin mencari petunjuk. Hana menemukan foto Bobi dan papanya dalam album foto. Foto itu tampaknya sejak masih SMA sampai mereka kuliah. Mereka terlihat sangat dekat sekali. Foto terakhir adalah foto dimana mereka meresmikan perusahaan yang mereka bangun. Dan saat itu papa Aruna dijadikan direktur utama. Hana melihat foto itu, namun ada yang berbeda. Raut wajah Bobi seperti tidak suka dengan peresmian itu. "Apa Om Bobi tidak suka papa menjadi direktur?" Aruna mencoba mencari petunjuk lagi. Namun, dia tidak menemukan apapun. Ponsel Aruna bergetar, pesan dari Anjas. Dia segera pergi karena Anjas juga sudah menuju tempat janjian. Aruna mulai menemukan puing-puing dari setiap masalah yang ada. Dia yakin tidak akan lama lagi, dia pasti akan tahu alasan Bobi tidak bisa melepaskan dia. "Apa kabar Om Anjas?" "Baik, Aruna. o*******g saat kamu menelpon Om. Om kira kamu udah lupa sama Om." "Tidak dong, Om. Om makin gagah aja padahal usianya udah tua loh." "Hahahah kalau papamu masih hidup juga pasti akan lebih gagah. Sayangnya, kecelakaan itu merenggut nyawanya. Padahal dia adalah pemimpin yang terbaik untuk kamu semua." "Memang salama ini Papa Bobi tidak baik pada karyawan?" Aruna reflek bertanya seperti itu. Om Anjas tersenyum, dari senyumnya tampak seperti terjadi sesuatu. "Hanya papamu yang terbaik dan peduli pada karyawan." "Apa Om Anjas tahu sesuatu antara papa dan Papa Bobi?" Mendengar pertanyaan Aruna, raut wajah Anjas langsung berubah. "Jika Om tahu sesuatu, ceritakan pada Aruna!" Aruna ingin menggali informasi dari Anjas. Dia ingin tahu soal perusahaan dulu dan sekarang. Karena biar bagaimanapun, Aruna juga punya saham disana peninggalan papanya. "Sebenarnya..." Belum sempat bercerita, Najaa mendapatkan panggilan dan harus kembali ke kantor. Aruna sedikit kecewa karena belum sempat mendapat info apapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN