Bab 8

1026 Kata
Aruna sengaja memasukkan Hana ke dalam rumahnya dengan alasan menjadi pembantu. Dia sedang merencanakan sesuatu bersama Hana. Tentu saja Mahesa merasa khawatir karena kedua istrinya berada di rumah yang sama. "Aruna, kita perlu bicara!" Mahesa menarik Aruna ke ruang kerjanya. "Dia itu madu kamu, tapi mengapa kamu bawa kemari? Bagaimana kalau dia menyakiti kamu?" "Aku ingin pergi dari kamu, sementara dia ingin kamu seutuhnya. Jadi apa salahnya?" Mahesa semakin pusing di buatnya. Jika Bobi tahu dia pasti akan kena marah. Tetapi, dia juga tidak bisa membujuk Aruna lagi. "Sudah jangan membantah! Kamu ingin aku tetap tinggal disini, kan? Jadi patuhlah!" Aruna keluar dari ruang kerja Mahesa, dia menunjukkan kamar yang akan di pakai oleh Hana. Hana senang bisa selalu dekat dengan Mahesa. Sementara itu, Aruna merasa kehadiran Hana setidaknya bisa membuat Mahesa tidak macam-macam. Seperti biasa, Mawar datang ke rumah Mahesa. Ketika melihat Hana, dia sangat terkejut. "Ngapain kamu disini?" "Aku diajak sama Aruna, kenapa? Kaget?" "Gi la Aruna!" Mawar tampak kesal. Dia langsung masuk ke kamar Aruna yang tak dikunci. Aruna yang melihat sikap Mawar tentu tahu kalau Mawar sedang marah. "Run, ngapain kamu ajak dia tinggal disini?" "Mbak, ingat dia juga istri Mahesa, biar adil kita tinggal bersama. Biar dia juga ngerasain kasih sayang suaminya. Dia kan juga lagi hamil, gak adil kalau Mahesa hanya menungguiku." "Dia itu orang berbahaya Aruna, kamu gak kenal betul wataknya!" Mawar marah, tapi Aruna memilih untuk diam. Dia enggan lagi menanggapi apa yang Mawar katakan. Dia memilih untuk segera pergi. Bahkan dia tidak pamit pada Mahesa. Hana merasa senang karena Aruna memberikan peluang baginya untuk selalu dekat dengan Mahesa. Hana tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan itu. "Halo suamiku, sini aku bantu kamu!" Hana menyambut Mahesa yang baru saja pulang. Membawakan jas dan tas kerjanya seperti apa yang biasa Aruna lakukan. "Dimana Aruna?" "Dia pergi sejak tadi siang. Ku rasa dia mencari kenyamanan di tempat lain." "Apa maksudnya?" "Aku hanya berpendapat, selebihnya aku tidak tahu karena bukan urusanku. Urusanku adalah mengurus kamu." Mahesa masuk ke dalam kamar, Hana mengikutinya. "Keluar! Ini kamar aku dengan Aruna!" "Bagaimana kalau kita bermain di kamar ini?" Hana mendekati Mahesa. Mahesa yang sudah lama tidak melakukannya tentu tidak bisa menahan diri. Sementara itu, Aruna dalam perjalanan pulang. Dia baru saja dari rumah orang tuanya. "Ku rasa Mahesa sudah pulang. Biarkan saja Hana yang menyambutnya." Aruna memasuki halaman rumah dan memarkir mobilnya. Dia keluar dari mobil dengan santai. Di lihatnya mobil Mahesa sudah terpakir. Dia hanya tersenyum begitu saja. Aruna membuka pintu perlahan, pintu tidak terkunci. Aruna hendak berjalan menuju kamarnya tetapi dia mendengarkan suara dari dalam kamarnya. "Apa mereka melakukannya di kamarku? Dasar gak tahu diri! Tapi untuk apa aku marah? Bukankah aku sudah tidak mencintai Mahesa lagi?" Aruna berbalik. Dia memilih untuk mengambil camilan di dapur duduk santai di ruang keluarga. Tidak berapa lama, Hana keluar dari kamar Aruna disusul dengan Mahesa. "Kamu menginginkan kamar itu? Silahkan ambil! Aku bisa tidur dikamar tamu." "Kamu yakin Aruna? Dengan senang hati!" Hana tampak kegirangan. Tak ada lagi sakit hati atau cemburu di dalam hati Aruna. Cintanya pada Mahesa memang sudah hilang sejak dia bertemu Andri. "Hana, itu kamar kita. Kenapa kamu berikan padanya?" "Bukankah kalian telah memakainya? Untuk apa aku disana? Jika aku bisa memberikan kamu untuk dia, kenapa tidak dengan kamar itu? Kamu kira aku mau memakai kamar yang bekas kalian pakai?" Aruna langsung memerintahkan Hana untuk memindahkan barangnya ke kamar tamu. Mahesa tak menyangka dia akan semakin jauh dari Aruna. "Aruna, apa kamu tidak mencintai aku lagi?" "Kamu pinter, ternyata tahu kalau aku sudah tidak mencintai kamu. Kenapa kamu masih pertahankan aku? Takut papamu? Pengecut!" Mahesa merasa direndahkan, dia merasa jika Aruna tak bisa menghargai dia lagi. Dia memutuskan mengikuti permainan Aruna. Bahkan dia berusaha membuat Aruna jengkel. Hingga suatu hari, Bobi datang dan marah. Bukan pada Aruna, tetapi pada Mahesa dan Hana. "Dasar anak gak tahu diri! Mengapa kamu bawa dia kemari? Mau pamer!" Bobi menuding Hana. "Dan kamu, gak tahu malu. Kamu menikah dengan Mahesa karena uang. Mau berapa? Biar aku bayar!" "Pa, Hana tidak seperti itu! Bahkan Hana lebih baik dari Aruna! Kalau tidak karena papa, aku sudah tinggalkan Aruna!" Aruna merasa muak dengan Mahesa. Baru beberapa Minggu lalu dia bilang cinta pada Aruna dan tidak ingin ditinggalkan. Tapi di depan papanya dia justru membela Hana. "Oh ya. Kenapa tidak kamu ceraikan aku? Bahkan kamu tahu aku hamil belum tentu anak kamu!" "Maksud kamu apa Aruna?" "Mahesa tahu aku selingkuh dan hamil. Dia hanya memanfaatkan kehamilan aku ini. Dan kemungkinan besar ini bukan anak dia. Tapi anak pria yang sangat aku cintai." "Papa tidak peduli itu anak siapa. Kamu harus tetap bersama Mahesa. Itu janji aku pada almarhum papamu." Ya, Bobi dan Ardi, Papa Aruna adalah sahabat. Mereka dulu merintis usaha bersama. Oleh karena itu, mereka menjodohkan Aruna dan Mahesa. Namun, belum sampai Aruna menikah, Ardi sudah meninggal. Beliau mengalami kecelakaan setelah pulang dari luar kota. Sehingga saat ini, perusahaan di pimpin oleh Bobi. "Papa sudah tidak ada. Dan keinginan kalian menikahkan kamu sudah terlaksana. Jadi kalau kami cerai tidak ada masalah!" Aruna masih saja ngotot. "Aruna, ingat kesehatan mamamu. Kamu hanya punya dia saat ini!" Bobi mengingatkan. Aruna kesal selalu saja itu yang mereka gunakan untuk memanfaatkan Aruna. Aruna merasa ada sesuatu yang Bobi rahasiakan. Hingga dia tidak mau melepaskan Aruna sebagai menantunya. "Ingat pesan papa!" Bobi mengingatkan Mahesa. "Lebih baik ceraikan Hana sekarang!" Mahesa tampak dalam kebingungan. Setelah Bobi pergi, Aruna mendekati Mahesa. Dia ingin mencoba menyelidiki dari Mahesa. "Sebenarnya apa yang kalian rencanakan? Kenapa kalian tidak mau melepaskan aku?" "Kamu tidak perlu tahu." "Mahesa, aku tidak mau kamu tinggalkan. Aku mengandung anakmu!" Hana mendekati Mahesa. "Ingat janji kamu pada papaku! Kamu akan menjagaku sepenuh hatimu!" Entah ada masalah apa dulu antara Hana dan Mahesa. Aruna tidak pernah tahu, masalah semakin bertambah rumit. Bobi sama sekali tak ingin Aruna pergi. "Aku harus cari tahu sendiri." Aruna tidak akan tinggal diam, dia harus menyelidiki semua. Dia ingin tahu apa tujuan Bobi sampai tidak ingin Aruna dan Mahesa cerai. Padahal, dia sudah tahu Aruna mencintai pria lain dan telah hamil. "Mulai dari mana aku mencari tahu?" tanya Aruna dalam hati. Terbesit dia ingat mamanya, dia akan mencoba mencari informasi dari mamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN