Bab 7

1026 Kata
Jika dulu kehamilan adalah anugerah, maka bagi Aruna saat ini bukan lagi anugerah. Dia tak menginginkan mempunyai anak dari pria yang telah menyakitinya. "Kita akan jadi keluarga kecil yang bahagia." Mata Mahesa berbinar. Rencana dia berhasil untuk mengikat Aruna. Bahkan dia tidak peduli jika nanti anak itu bukan anaknya. "Aku yakin bukan anakmu!" "Lalu anak siapa?" Aruna terdiam, apa mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan hubungannya dengan Andri? Keluarga Mahesa datang mengucapkan selamat atas kehamilan Aruna. Namun, Aruna sama sekali tidak bahagia. Dia merasa terjebak dalam rumah tangga yang tak diinginkan. "Selamat, akhirnya kamu hamil!" Mawar memeluk Aruna. Dari sekian banyak orang yang datang, hanya Aruna yang tidak bahagia dengan kehamilannya. "Sayang, Mama senang kamu hamil!" Ratih, Mama Aruna juga datang. Mereka sangat bahagia sekali, keinginan mereka telah terkabul. Selama ini, Aruna belum memberitahu keluarganya jika Mahesa punya istri lain. Kesehatan sang mama tidak baik-baik saja. Ratih mempunyai penyakit jantung dan bisa kambuh kapan saja. Maka dari itu, Aruna selalu berhati-hati. Andri yang tahu kehamilan Aruna mulai mundur perlahan. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Aruna. Walaupun sebenarnya dia tak iklas Aruna bersama Mahesa. "Kamu yakin akan pergi? Tidak beri tahu Aruna dulu?" tanya Anita. "Tidak, untuk apa? Ku rasa dia sudah bahagia dengan keluarganya. Aku tidak mau membuat masalah jika datang padanya. Aku orang ketiga, jadi biarkan aku pergi." Andri tengah bersiap keluar kota. Dia akan merantau untuk beberapa tahun disana. Bahkan dia berpesan agar tidak memberi tahu Aruna kemana dia pergi pada Anita. Sementara itu, Aruna masih dalam kebingungan. Namun, sementara waktu ini dia harus tetap berada di rumah Mahesa. Semua orang berharap pada kehamilannya itu. "Sayang, kenapa kamu gelisah?" Mahesa mendekati Aruna. Tapi, Aruna berpaling. "Aku tahu itu anak aku atau bukan. Tapi yang jelas kehadirannya sangat menolongku." "Kamu memanfaatkan anak ini?" "Kenapa tidak Aruna? Keluarga kita menginginkannya walaupun kamu tidak." Mahesa menatap Aruna. "Ingat kesehatan mamamu Aruna!" Tak di sangka Mahesa hanya memanfaatkan kehamilan Aruna untuk keuntungannya. Aruna baru terpikirkan untuk menghubungi Andri, namun nomor Andri tidak aktif. Sudah beberapa hari Aruna melupakan Andri karena sibuk memikirkan kehamilannya. Esoknya, Aruna datang ke rumah Andri. Di sana sangat sepi, dia menemui Anita yang rumahnya ada di samping rumah Andri. "Nit, apa kamu tahu Andri kemana?" "Tidak tahu. Dia hanya bilang ingin melihat kamu bahagia dengan keluarga kamu. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan kalian." "Nit, anak ini hanya dimanfaatkan suamiku. Dia tak peduli sekalipun ini bukan anaknya." "Tapi Andri sudah memilih pergi, aku juga tidak bisa menghubungi dia." Aruna pulang dengan hati kecewa, di saat seperti ini Andri justru meninggalkan dirinya. Aruna tak punya pilihan lain dia tetap bertahan dengan Mahesa walaupun dia gak lagi mencintainya. *** Selama kehamilan, Aruna sangat di perhatikan oleh siapapun termasuk Mahesa. Hal itu tentu membuat Hana merasa iri. Pasalnya Hana juga tengah hamil anak Mahesa. "Sayang, kenapa kamu jarang kesini? Aku juga hamil loh!" protes Hana. "Maaf, Han. Aku harus pastikan kalau Aruna baik-baik saja. Kamu harusnya bersyukur aku tidak meninggalkan kamu." "Kamu gak adil!" Hana menangis. Mahesa menenangkan Hana dengan memeluknya. Hana adalah wanita dengan tempramental tinggi dia mudah tersulut emosi. Bahkan dulu waktu SMA dia pernah masuk rumah sakit karena emosinya meledak-ledak. "Aruna, aku tidak akan biarkan kamu bahagia." Hana mulai tersulut emosi saat melihat Mahesa lebih peduli pada Aruna. Dia tidak akan rela suaminya bahagia dengan wanita lain. "Hana, aku harus pulang. Aruna di rumah sendiri. Aku takut dia kenapa-kenapa." "Lalu kamu tidak mengkhawatirkan aku?" Hana mendelik kesal pada Mahesa. "Aku juga istrimu, aku adalah istri pertama kamu, Mas!" "Tapi Aruna lebih penting saat ini." Mahesa segera mengambil kunci mobil dan pergi dari rumah Hana. Hana makin sakit hati atas perlakuan Mahesa. Dia ingin sekali memiliki Mahesa seutuhnya seperti dulu. *** Aruna merasa bosan, dia merindukan Andri. Namun, dia tak tahu dimana Andri berada. "Kenapa kamu tega meninggalkan aku? Aku mencintaimu!" Aruna tampak sedih sekali. Dia melihat perutnya yang masih rata. "Andai aku tidak hamil." Aruna berharap anak yang dia kandung adalah anak Andri. Dengan begitu dia punya alasan kuat untuk pergi dari Mahesa. "Sayang, maaf aku meninggalkan kamu." "Dari rumah istri tua? Kenapa gak tinggal disana saja!" Aruna menatap sinis ke arah Mahesa. "Aku berharap anak ini anak Andri." "Pria selingkuhan kamu itu pergi, tapi kamu masih berharap darinya. Sudahlah kamu nikmati saja, ingat mama kamu bisa sakit kalau tahu kamu selingkuh sampai hamil." Aruna memilih mengabaikan Mahesa, dia masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Aruna tidak pernah mau tidur bersama Mahesa lagi. Aruna hanya bisa menangis, dia membutuhkan Andri tapi dia justru pergi. Aruna kecewa dengan Andri, tapi Aruna masih sangat mencintai Andri. "Aruna, Mbak datang!" Suara Mawar terdengar di depan pintu kamar Aruna. Aruna malas sekali membuka pintu. Dia sangat merasa terganggu dengan kedatangan Mawar. Dia lebih suka menyendiri di kamar saja. "Run, kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita sama Mbak." Tampaknya Mawar tak sadar diri kalau Aruna tidak ingin diganggu. Aruna memilih merebahkan diri di kasur dan menutup kepalanya dengan bantal agar tidak mendengar suara Mawar lagi. Tidak berapa lama terdengar langkah kaki Mawar menjauhi kamar Aruna. Aruna merasa lega, dia benar-benar malas sekali bertemu Mahesa dan keluarganya. *** "Kamu yakin itu anakmu?" Mawar mendekati Mahesa. "Bagaimana kalau tidak?" "Aku tidak peduli, yang penting dia tidak meninggalkan aku." "Kamu harus lakukan sesuatu agar Aruna lepas dari pria itu." "Pria itu sudah meninggalkan Aruna, jadi aku bisa tenang." Mawar tersenyum, entah mengapa Mawar justru mendukung Mahesa. Padahal apa yang dilakukan Mahesa sangat menyakiti Aruna. "Mbak, bagaimana kalau aku pekerjaan pembantu disini? Selain itu dia bisa menemani Aruna saat aku ada dinas keluar kota." "Boleh saja. Tapi kamu harus teliti memilih pembantu." "Oke." Aruna mendengar hal itu, dia merencanakan sesuatu. Dia langsung menghubungi seseorang. "Apa kamu mau bekerja?" "Mau, dimana?" "Di rumahku." Aruna tersenyum karena wanita di seberang sana menyetujui. Aruna berharap apa yang dia rencanakan berhasil. Dia ingin pergi dari rumah tangga yang menyiksa. Dia ingin lepas dari jerat Mahesa dan keluarganya. Pagi itu, seorang wanita datang ke rumah Mahesa. Mahesa terkejut melihat kedatangan wanita itu. "Untuk apa kamu kemari?" "Aku yang meminta dia datang." Aruna mendekati Mahesa. "Butuh pembantu kan? Biar dia yang jadi pembantu disini!" Mahesa langsung melotot, dia hendak menolak. "Tak ada kata penolakan." Aruna langsung memberi peringatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN