Keesokan harinya Sena berangkat ke kampus sendiri. Dia harus mengatur jadwal kembali karena Kirana tidak bisa menggantikannya mengajar. Sena memberi tahu para mahasiswa yang akan bimbingan skripsi dengannya kalau waktunya diundur. Untung saja dia punya grup khusus dengan mereka hingga tak perlu menghabiskan waktu untuk memberi tahu satu per satu yang hari itu ada jadwal bimbingan skripsi. Setelah mengajar, Sena tanpa sengaja bertemu dengan Guntur di koridor saat akan menuju ke ruangannya. “Pagi, Pak Dekan,” sapa Guntur dengan ramah. Dia lalu menyamakan langkah dengan Sena. “Pagi,” balas Sena dengan wajah datar. “Apa Pak Dekan baru selesai mengajar?” tanya Guntur. Sena mengernyit. “Iya. Kenapa?” “Bukannya biasanya Kirana yang masuk kelas menggantikan Pak Dekan?” timpal Guntur. “Kiran

