Akhirnya aku ikut berbaring, miring menghadap tubuhnya yang terlentang. Pelan mulai menggapai lehernya, lalu pipi bawah sebelah dagu. Dengan ibu jari, aku mengelus bulu halusnya. Dia membuka mata, menoleh padaku. “Apa ada masalah?” tanyaku pelan. Aku tahu, dia tidak begitu lelah. Pagi tadi sampai menjelang jadwal take off, dia mengatakan akan beristirahat total–tidur–di hotelnya. Alasannya agar setelah sampai di rumah dia tidak akan kelelahan untuk memijit punggungku seperti malam-malam sebelumnya. Dia mengatakannya sambil tertawa di telepon. Dia mengernyit. Hening. “Berbalik,” ucapnya kemudian. Aku menggeleng. Punggungku tidak ada masalah malam ini. Namun, ada yang bergelayut minta diperhatikan di dalam pikiran ini sejak tadi. “Apa ada masalah?” ulangku sekali lagi. Lebih penuh pe

