“Binar minta izin dari kalian, khususnya Mas Aerul, untuk bawa Kak Kiara ke rumah Mama.” “Buat apa?” Kali ini Mama bersuara. “Maaf, Binar enggak bisa ceritakan sekarang. Tapi cuman Kak Kiara yang bisa bantu Binar. Mama akan berhenti memaksa Binar dan berhenti melakukan bisnis gelap itu kalau ....” “Kalau kamu bawa Kiara ke rumah dan menggantikan kamu?” Mas Aerul memotong ucapan Binar. “Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Istriku sedang hamil, Binar. Kamu tega? Apa yang bisa kalian dapatkan dari semua ini? Ya Tuhan, aku enggak habis pikir ada manusia seperti itu.” Suara Mas Aerul terdengar frustrasi. Aku meraih bahunya, memberikan usapan lembut di sana. Dia meraih tangan, menggenggam jemariku dengan dengan tangan yang gemetar. Binar menggeleng cepat. “Bukan seperti itu, Mas. Sam

