Mama masih terlihat lemah saat aku melihatnya. Dia menutupi dengan melebarkan senyum untukku. Sebuah perban putih masih terikat di kepalanya. Tekanan darah Mama yang sebelumnya tinggi sekarang sudah stabil. Tangannya terulur menggapai perut buncitku, mengusap pelan–seolah memberi usapan halus untuk calon cucunya di dalam sana. Kami sama-sama terkekut saat tiba-tiba Angga masuk dengan tergesa. Tatapannya langsung tertuju pada Mama. Tatapan aneh—yang belum pernah kulihat—dan aku tidak mengerti apa terjemahannya. “Ada apa, Nak?” tanya Mama pelan sambil mengerutkan kening. Angga tidak bersuara. Dia melangkah mendekati Mama—masih menatap lurus pada wanita paruh baya itu, mengunci ekor matanya di sana. Aku bergeser sedikit untuk memberinya ruang. “Kenapa Mama enggak jujur sejak awal?” Suar

