Haruskah Aku Menyerah?

1158 Kata

“Dia mantan tunangannya Adam, Mbak. Adam saudara sepupuku? Inget nggak?” Ucapan Nadia masih terngiang jelas di telinga. Tentu saja aku ingat. Namanya seolah menjadi bayang-bayang dalam hari-hariku. Riyana Sena. Kalian bosan aku menyebut namanya? Aku pun demikian. Setelah mengakhiri pertemuan dengan Nadia, aku bergegas menuju rumah Mas Aerul. Nadia bilang, suamiku itu tadi buru-buru meninggalkan kantor hari ini dengan alasan kurang fokus dan kurang sehat. Sebab itu aku ingin melihat keadaannya sekaligus mengklarifikasi perekrutan Riyana di kantor. Dulu aku selalu merasa kuat dan telah menyiapkan hati sekuat karang. Meski terhempas dan terkikis oleh gelombang badai, tak ‘kan menyerah. Namun, kini aku seakan luluh lantah saat menemukan kenyataan bahwa Mas Aerul memang belum sepenuhnya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN