Kerapuhan

1103 Kata

Kami saling pandang saat tiba-tiba ada yang mendadak mendorong pintu dengan paksa. Gadis itu muncul dari baliknya. “Binar?” seru Mas Aerul tanpa menyembunyikan rasa terkejut. Gadis itu setengah berlari mendekati brankar tempatku berbaring setengah menyandar. Napasnya terengah tak teratur, bulir mata menetes membuat pipinya basah. Dia menyeka cepat pipinya. “Kak, tolongin Binar, please. Bunda kritis.” Kata kritis seketika membuat bongkahan merah di dalam sana berdetak dua kali lebih cepat. Kalimat selanjutnya dari bibir gadis itu tak dapat tertangkap gendang telinga–yang terlihat hanya bibirnya yang terus bergerak, juga air mata yang terus mengalir. Apa aku yang sudah membuatnya jatuh sakit? Hari ini adalah hari ketiga aku di rumah sakit sekaligus jadwal kepulanganku. Sementara itu,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN