Hari yang seharusnya menjadi hari terakhirku di rumah sakit, tetapi enggan sekali rasanya untuk pulang. Ada yang masih tertinggal di sana. Di ruangan intensif itu. Aku menatap lekat pada pintunya, berharap ada keajaiban di dalam sana–setelah tadi aku meninggalkan pesan terakhir di samping telinganya. “Aku pulang dulu, Ibu. Aku akan kembali setelah pulih dan Ibu bangun. Aku putrimu, Ratu–tidak akan memaafkanmu kalau Ibu tidak bangun.” “Sebelum tidak sadarkan diri, tiga hari berturut-turut Bunda menolak meminum obatnya. Padahal keadaan Bunda selama ini tergantung pada obat itu.” Suara Binar masih tak berhenti menggaung di telinga. Begitu parahkah penyakitnya? Rasa sesal kini berpelukan dengan rasa bersalah. Apakah dia menolak mengonsumsi obatnya karena diriku? “Bunda harus mengonsumsi oba

