“Beliau sudah tenang di sana, Sayang. Sudah cukup menangisnya. Nggak baik menangisi kepergian orang yang sudah tiada,” bisik Mas Aerul menenangkanku. Tidak. Aku bukan menangisi kepergiannya, tetapi karena sesal yang terasa lebih menyengat daripada rasa kehilangan. Penyesalan itu jauh lebih dalam menenggelamkan. Seharusnya penyesalan ini tidak pernah ada bila aku mengikuti nurani. Namun, ego terlalu kuat untuk mengacaukan nurani yang kerdil. *** Orang bilang obat lupa paling mujarab adalah waktu. Seperti waktu yang menyembuhkan atau menghapus ingatan berupa luka seorang bayi yang ditinggalkan orang yang dia sayang. Perlahan waktu akan menutup ingatannya. Hingga ia tak lagi mengingat luka apa pun. Akhirnya aku mulai mampu berjalan meskipun tertatih. Terkadang terjatuh karena kaki belum m

