Perang Dadakan

1829 Kata

“Maaf, Mbak. Sudah lancang masuk ke kantor tanpa izin Mbak Kiara.” Perempuan itu membuka percakapan. Sesekali dia memasukkan potongan salad ke mulutnya. Aku melirik sekilas pada Mas Aerul yang tengah menemani Kinan bermain di taman depan kafe. Aku bisa melihat Riyana yang berbeda saat ini. Pendar di wajahnya tidak seperti dulu. Mungkin dia banyak dirundung masalah beberapa waktu belakangan. Mengurus ibunya yang sakit, ditinggalkan tunangan menikah, dan sekarang entah apa lagi. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Sebuah amplop putih, lalu menyerahkan padaku. Aku mengerutkan dahi seolah bertanya apa isi amplopnya. Namun, dia hanya menyimpul senyum. Sepertinya harus membuka sendiri. “Kenapa resign?” tanyaku kemudian setelah sekilas membaca isi surat itu. Lagi pula mengapa dia member

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN