Berkeras Hati

1045 Kata

"Papa Gaga.” Langkah Angga terhenti saat mendengar suara kecil putriku yang duduk di atas pangkuan Mas Aerul. Seketika ia turun, kemudian merentangkan tangan ke arah si Papa Gaga. Mulutnya setengah bergumam mengejakan kata, “Gendong.” Angga berjalan lemah menghampiri demi menuruti keinginannya. Kemudian kembali melangkah menjauh dariku dan Mas Aerul. Masih bisa kudengar saat bibir kecilnya bertanya sesuatu. “Papa Gaga nanis, ya?” Meski mereka semakin menjauh, aku masih bisa melihat, tangan mungil itu berusaha menggapai pipi Angga. Aku terkesiap saat tiba-tiba ada petikan jari di depan mata, membuat serta merta kepala ini menunduk. "Jangan bilang kamu mulai kembali terpesona dengan dia, Ki." Aku mengerutkan dahi. Tentu saja aku bukan dirinya yang sulit melupakan mantan. Dengan meng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN