Mas Aerul terlihat canggung dengan perlakuan Mama. Sejak tadi dia sibuk menolak untuk Mama suapi, tetapi wanita paruh baya itu terus memaksa. Maka tinggallah aku yang menjadi saksi pertikaian hangat keduanya. “Aku tuh masih anak Mama yang dulu. Waktu kecil aja Mama enggak pernah suapin aku. Aku juga lebih senang hati kalau Kiara yang suapin, Ma.” Itu salah satu kalimat Mas Aerul untuk menolak–cukup membuat pipi ini seketika terasa memanas. Selanjutnya dia melirikku sambil mengulum senyum. “Setelah sembuh, bawa Kiara kembali ke rumah kita. Kamu enggak lihat istrimu sudah mulai kepayahan,” ucap Mama sambil menyodorkan suapannya pada sang putra. “Mama aja yang tinggal di sini kalau emang hawatir. Buat apa aku punya rumah sendiri kalau terus-terusan nebeng di rumah Mama.” Mas Aerul menan

