Dia seakan tak pernah lelah bicara meski aku enggan merespons. Terkadang memang kita hanya butuh untuk didengar. Sama halnya seperti diriku kini hanya ingin dimengerti–sedang tak ingin meluapkan apa pun. Aku melihat kepergiannya yang tampak berat melangkah. Sejenak hadir kebimbangan menyergap diri yang kembali sunyi. Hampa. Mampukah aku hidup jauh darinya lagi? Selain tentang Riyana, dia hampir tidak pernah menghadirkan rasa kecewa di hati. Egoiskah diri ini? Aku juga takut bila merindukannya. Nyatanya hak seorang istri yang pernah dia janjikan selalu ditunaikan. Apa aku terlalu ngelunjak menuntut kesungguhannya? Entahlah, tetapi salahkah? Aku memejamkan mata sejenak saat mendengar deru mobilnya mulai menjauh kemudian, menghilang. Dia benar-benar pergi dan aku benar-benar merasa sendir

