Aku meninggalkan kamar. Satu-satunya ruangan yang belum kudatangi adalah kamar Kinan. Pelan tangan ini membuka pintu yang tidak tertutup rapat. Aku menarik napas lega saat melihat sosoknya berbaring di atas tempat tidur Kinan. Dia berbaring dengan memeluk sebuah bingkai foto. Aku meneliti nakas. Rupanya itu bingkai foto yang biasa terajang di sana–potretku bersama Kinan. Matanya terpejam, dengan napas teratur. Namun, keadaan dirinya terlihat kacau–rambut tampak berantakan seperti tidak disisir beberapa hari. Bibirnya kering layaknya tanah terserang kemarau. Dia sedang sakit? Bahkan terlihat lebih kurus. Perlahan aku menyentuh punggung tangannya. Hangat. Tidak puas, lalu menyentuh dahi dan lehernya bergantian. Tidak salah lagi. Dia demam. Melihat keadaannya, mendadak rasa cemas meng

