Semua masih gelap saat samar-samar suara tangis kecil yang melengking menyapa gendang telinga, memecah ruangan yang sunyi dan dingin. Aku mengerjapkan mata saat sentuhan itu masih terasa nyata. Lembut sapuan jemarinya menyeka sudut mata. Namun, rasa sakit yang tadi menyerang, kini sudah lenyap tak tersisa. Apa yang terjadi? Ya Tuhan, aku tidak merasakan apa-apa, kecuali sapuan halus di pipi. Tirai hijau kudapati saat mulai mampu memusatkan pandangan. Suara seperti gemercik air terdengar tidak jauh, entah di mana. Seperti di balik tirai, tetapi aku sungguh tak punya kuasa untuk melihatnya. Sapuan lembut itu menyapa pelipis menepis sisa jejak basah yang tadi menitik. Selarik senyuman kurindukan menyambut saat iris mata melirik ke kiri. “Mas?” Aku hanya bisa bersuara lirih. Senyum khas

