Part 1 : Sebuah Permintaan
“Tolong, jangan sampai dia tahu tentang status kita, Ki. Hanya untuk sementara, sampai aku bisa mengatakan sendiri padanya.”
Mata itu begitu lekat menatapku, penuh permohonan dan kesungguhan. Dia memegang kedua bahu, membuat denyar jantung ini semakin tak beraturan. Aku menundukkan kepala, menyembunyikan getar dan gugup yang mungkin bisa saja dia tangkap lewat tatapan.
“Ki,” serunya lagi membuatku sadar dia sedang menunggu jawaban.
Aku membalikkan tubuh, melepaskan tangannya dari bahu. Membunyikan kelopak mata yang mulai memanas, sebentar lagi menguap meruahkan embun. Tidakkah dia sadar bahwa perasaan itu mulai hadir di sela-sela? Perasaan ingin memiliki seutuhnya, mencinta dan dicinta, memiliki dan dimiliki. Bukan hanya sekadar status belaka.
Kapan kamu akan melihatku, Mas?
Kembali kurasakan dia meraih bahu pelan, membuatku kembali menelan saliva yang tiba-tiba terasa seperti duri. Begitu menusuk. Seandainya rangkulan ini bukan karena dia menginginkan sesuatu, tetapi karena memang menginginkanku.
Entah kenapa kepala terasa begitu berat untuk sekadar mengangguk. Hati sungguh tidak rela. Namun, sadar bagaimana status namaku di hatinya. Tidak akan sama seperti yang tertulis di akta pernikahan kami.
Aku hanya perlu bersyukur dia tidak melayangkan surat cerai. Karena seharusnya pernikahan ini sudah lama berakhir. Kami menikah tiga tahun yang lalu. Tanpa cinta apalagi pesta. Semua karena kebodohanku di masa lalu.
“Berjanjilah, Ki. Tolong lakukan ini untukku. Selama ini apa yang pernah kuminta darimu?”
Dia benar. Dia tidak pernah meminta apa pun, tetapi juga tidak pernah memberi hakku sebagai istri. Ah, aku punya hak apa atas dirinya. Malah seharusnya berterima kasih karena dia telah menyelamatkan keluarga kami dari aib. Bukan hanya itu, laki-laki ini juga yang membuatku bangkit lagi. Aku yang dulu seakan kehilangan arah, perlahan dia menemani meniti untuk melewati jalan curam dalam hidup. Ya, dia lakukan semua untukku, meski tanpa cinta.
“Iya, Mas.” Akhirnya kalimat pendek itu mampu kucipta. Berat.
“Makasih, Ki,” ucapnya terakhir kali sebelum dia akan beranjak meninggalkanku. Namun, langkahnya terhenti saat tiba-tiba suara kecil di antara kami memanggilnya.
“Ayah.”
Mas Aerul menoleh, menatap tubuh mungil yang terbaring lemas karena sisa kantuk. Dia memutar tubuh kemudian menghampiri Kinan–putri kecilku. Tanpa ragu dia meraih tubuh kecil Kinan dalam gendongannya.
“Sudah bangun anak Ayah?” sapanya dengan lembut sambil menghujani pipi Kinan dengan beberapa ciuman.
Dia memang selalu memperlakukan putri kecil Kinan penuh kasih, tak membiarkan ia kekurangan cinta dari seorang ayah. Tak membiarkan Kinan melewati hari-hari sepi tanpa sosoknya. Namun, entah kapan dia akan melihatku di sini menunggunya. Terkadang aku pun malas memikirkan hal ini. Sia-sia, itu tidak akan pernah terjadi.
Aku mengikuti langkahnya yang membawa malaikat kecilku keluar. Bibir mungilnya tak berhenti berceloteh dengan suara yang masih terdengar malas. Kosakatanya pun masih belum semua bisa terucap fasih. Sekilas kami terlihat seperti keluarga kecil dengan kebahagiaan sempurna. Ayah, Ibu, dan anak yang melengkapi. Tidak ada yang tahu jika hati kami tidak pernah menyatu.
Mas Aerul baru menurunkan Kinan saat kami sampai di ruang tengah. Di sana juga ada ibu mertuaku yang tengah bersantai sambil menikmati sajian layar kaca. Ada acara favoritnya di sana, pertunjukan ajang bakat dalam bidang kuliner yang pesertanya berasal dari seluruh nusantara.
Wanita paruh baya itu menoleh, menatap lama putranya yang tengah bersenda gurau dengan Kinan. Tak banyak hal yang bisa mengalihkan perhatian wanita itu dari acara kesukaan, tetapi entah mengapa pemandangan hidup itu bisa mengusiknya.
“Apa lagi yang kamu cari, Rul? Mama lihat kamu bahagia,” celetuknya tiba-tiba. Membuat putranya itu menoleh sekilas pada sang ibu.
“Pikirkan lagi sebelum semua terlanjur,” tambahnya lagi.
Pria itu menatapku datar, hanya selintas.
“Tapi, Ma. Aku mencintai Riyana sejak lama. Mama tahu itu. Aku enggak mungkin tinggalkan dia, Ma.”
Aku menatap layar kaca di depan, seakan tidak mendengar ucapan pria yang berstatus suamiku itu. Meski sebenarnya kalimat itu menghunjam keras dalam jantung. Ucapannya bak bambu runcing yang dia tancapkan tepat di tengah-tengah luka yang menganga. Aku tahu dia mencintai wanita itu, tetapi mendengar dia mengucapkan sendiri rasanya ... ah, entah kata apa yang pantas dipilih untuk melukiskan rasa sakit ini.
Terkadang ingin terus menantang diri untuk membuatnya jatuh cinta, tetapi selalu gagal memenuhi tantangan itu. Berbagai macam cara sudah kutempuh untuk membuatnya jatuh pada lubang cinta yang kubuat. Namun, Mas Aerul bukanlah tipe orang yang mudah jatuh cinta, atau mengganti nama wanita yang sudah lama terukir besar di ruangan hatinya. Aku tidak mampu menembus ruangan itu, karena tidak lagi kosong.
“Kamu enggak memikirkan perasaan Kiara, Rul,” tambah Mama lagi. Aku menoleh karena mendengar ibu mertua menyebut nama menantunya ini.
“Aku enggak apa-apa, Ma. Biarkan Mas Aerul menemukan kebahagiaannya sendiri,” ucapku pelan sambil menatap Mama selintas. Entah kekuatan dari mana sehingga bibir ini mampu mengucapkan kalimat itu, padahal hati terasa perih setelahnya.
Kurasakan tangan lembut Mama menepuk punggung. Aku membalas dengan senyum ringan. Berharap Mama tidak melihat rona keterpaksaan di sana.
Mas Aerul berdiri meninggalkan Kinan sendiri dengan mainannya, lalu duduk di sisi kanan Mama, sedangkan aku sudah di sisi kiri sejak tadi.
“Ma, aku udah pernah bahas ini sebelum menikahi Kiara dulu, Mama ingat?”
Mama bergeming, seakan kehabisan kosakata. Bukan hanya Mama, aku juga ingat bagaimana sejarah pernikahan kami. Bagaimana akhirnya Mas Aerul bersedia mengucap namaku dalam ijab kabulnya. Bahkan ikrar itu terucap kembali setelah Kinan terlahir, hingga akhirnya pernikahan kami sah di mata negara dan agama. Namun, makna pernikahan yang sebenarnya tidak pernah ada di antara kami. Pernikahan ini hanya sebatas tersurat, tidak lebih.
Teramat sulit untuk menembus hati Mas Aerul. Entah kapan aku bisa melakukannya, mungkin tidak akan pernah. Hatinya terlalu jauh untuk diraih. Dia begitu sulit untuk dimiliki, baik itu raga maupun cintanya. Entahlah, sejak kapan perasaan ini hadir. Ritme nadi dengan irama indah kunikmati saat berdekatan dengannya. Hanya berdekatan, tak pernah lebih.
“Kamu sama saja dengan Ang ….” Suara Mama tiba-tiba terputus.
“Jangan samakan aku dengan Angga, Ma. Kami jauh berbeda.” Kali ini kalimatnya penuh penekanan. Mas Aerul selalu tak bisa menyembunyikan gemuruh hati saat mendengar nama itu. Aku tahu betul hal ini.
“Kapan aku pernah minta sesuatu sama Mama? Semua hal yang kulakukan atas permintaan Mama. Sekali ini aja, Ma. Tolong berikan restu Ma ....”
“Kamu tanya istri kamu! Jangan tanya Mama!” sela Mama cepat. Mas Aerul menatap padaku sesaat. Aku mengerti maksudnya.