POV SADEWA Apa yang baru saja kulakukan? Jantungku berdebar memekakkan telinga, bukan karena gairah, tapi karena rasa bersalah yang menusuk saat mendengar jeritan Selina. Aku tersentak, menatap matanya yang basah oleh air mata yang tertahan. Wajahnya yang semula merah karena gairah kini pucat pasi. Aku tahu persis jeritan macam apa itu, dan aku tahu persis apa artinya. Dia ... dia perawan? Dunia seakan berputar, tubuhku terasa dingin di tengah panas yang baru saja kami ciptakan. Aku mencium bibirnya lagi, menciumnya dalam-dalam, berusaha menenggelamkan rasa sakitnya. Bodoh! Aku bodoh sekali! Aku menahan tubuhku agar tidak bergerak, memberinya kenyamanan yang sangat ia butuhkan sekarang. Kelembutan ini adalah permintaan maaf, pengakuan bahwa aku telah bertindak terlalu jauh, sebuah

