Aku memilih film tanpa banyak berpikir, yang penting genre-nya romansa dewasa. Tak lama kemudian, Mas Dewa kembali dengan nampan penuh makanan sambil berkata, “Ini dia, cemilan rakyat jelata yang lebih enak dari popcorn mahal dan cola yang ada di bioskop!” Di nampan itu ada tiga toples berisi keripik ubi manis yang renyah, stick talas, dan ada juga sus mini isi cokelat yang tampak menggoda, ditemani dua gelas es teh yang dingin. Aku tersenyum lebar. “Wah, banyak banget, Mas!” Kami berdua duduk berdekatan di sofa, saking dekatnya hingga bahu kami hampir bersentuhan. Ini adalah kesempatanku. Dengan gerakan sangat halus, aku mengambil tempat di sofa, perlahan mepet-mepet ke Mas Dewa. Aku ingin tubuh kami saling menyentuh. Ku pikir, dia akan bergeser menjauh, tapi dia tetap diam saja.

