Prolog
Musik mengalun lembut memenuhi ruangan berwarna krem dengan jendela yang menatap langsung keindahan malam kota Gangnam –banyaknya cahaya memantul dari kepadatan jalan raya dan gedung pencakar langit. Terlihat seorang pria masuk membawa serta sebuah buku tebal. Ia mengendurkan dasi dan duduk di atas tempat tidur. Memandangi sepatu hitam mengkilat yang digunakan. Tidak berapa lama kemudian mengambil ponsel layar sentuh di dalam saku blazer. Menekan nomor satu hingga muncul sebuah nama yang masih menempati hati terdalamnya. Seulas senyum dipaksakan menghiasi wajah tampan itu. Dengan alis tebal yang menaut, mencoba berpikir keras. Mengapa masih tidak ada jawaban padahal sudah ketiga kalinya menghubungi? Baiklah, ini sungguh salahnya. Dalam waktu dua tahun mengabaikan orang yang benar-benar peduli padanya. Ia juga tidak mencoba menghubungi walaupun wanita itu mengganggu waktu tidurnya selama ini.
“Kau bilang akan menungguku?”
Ia berkata di tengah-tengah musik mengalun dengan sedihnya. Di umur yang kedua puluh lima tahun. Kesunyian menyergap kesehariannya. Hanya ditemani oleh beberapa musik yang berputar secara random, suara rintik hujan yang tiba-tiba turun, atau obrolan di grup chat teman kuliah. Semua memang didapatkan. Baik dari prestasi di tempat kuliah atau peningkatan pada perusahaannya, TRON. TRON adalah nama yang disarankan oleh cinta pertamanya. Merupakan singkatan dari Technology Reveals On Network. Sebuah perusahaan yang menerangkan mengenai kemajuan teknologi melalui jaringan internet. Setelah hari itu. Pria ini terlalu sibuk hingga melupakan wanita yang menariknya ketika hampir terjatuh. Atau, memberikan semangat jika sebuah hal terjadi di luar dugaan. Ia selalu ada untuk pria itu meskipun terkadang diabaikan.
Merasa sia-sia menghubunginya. Ia mematikan ponsel dan menaruhnya. Berjalan menuju meja televisi kemudian memilih asal dengan menekan tombol pada remote. Melepaskan dasi dan melemparnya sembarang. Baru saja hendak berjalan keluar. Langkahnya terhenti mendengar suara khas seseorang berasal dari salah satu acara yang tidak sengaja dipilihnya. Rambutnya cokelat tua panjang dengan kulit putih s**u dan memiliki double eyelid sempurna pada matanya. Ya, wanita yang ia rindukan itu, Kim Re-Na. Berbincang bersama pembawa acara. Tersenyum dengan indah. Membuat pria itu tidak tahu harus berkata apa. Sepertinya, ia tengah dihukum sekarang.