Jika mendengar kata Korea Selatan. Apa yang ada di dalam pikiranmu? Bintang-bintang yang jarang terlihat di langit? Gedung pencakar langit yang tingginya menjulang. Bahkan membuat decakan kagum karena desainnya yang elegan. Jangan lupakan hal penting lainnya. Seperti kehadiran aktris dan aktor dengan standar di atas rata-rata. Bukan hanya ketampanan dan kecantikan. Melainkan seberapa mahir mereka berakting di depan kamera. Selain itu, beberapa boyband dan girlband yang bisa membuat siapa pun menjerit kegirangan. Kali ini seorang aktris pendatang baru memarkirkan kendaraan perusahaan di depan gedung apartemen elit di daerah Gangnam yang terkenal karena tempat tinggal dan harga tanah yang tinggi. Selain suasananya yang benar-benar nyaman.
Ia adalah seorang wanita berambut cokelat panjang yang tengah memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik merah muda. Mengenakan sepatu kets, memakai masker, kacamata, celana jins, tidak lupa sweater kebesaran untuk membalut tubuh rampingnya. Cuaca cukup buruk di awal bulan Desember. Meskipun salju belum turun. Beberapa kali hujan deras membuat cuaca yang tidak biasa. Seperti sekarang, wanita itu berpakaian cukup tebal untuk menghindarinya dari flu. Bagaikan sebuah keberadaan yang tidak pernah terlupakan. Sosok manajer berada di belakang duduk bersama beberapa tas belanja.
Hari ini Kim Re-Na cukup puas karena dapat berjalan-jalan di tengah kesibukan bermain drama yang tayang setiap selasa dan rabu nantinya. Semenjak memutuskan untuk terjun di dalam dunia aktris. Tidurnya bisa terpangkas menjadi empat jam dan kehilangan banyak berat badan yang merupakan hal cukup bagus bagi aktris pendatang baru seperti Re-Na. Ia memasukkan tangan mungilnya pada saku jins. Membenarkan letak kacamata sebelum keluar dari mobil van milik perusahaan.
“Jun Ha-Oppa, tolong bawakan semua barang-barang ke apartemen. Aku hendak berjalan sebentar di sekitar sini.”
“Hei, jangan bertindak gegabah Re-Na. Bagaimana jika seorang penggemar mengenalimu? Semua akan menjadi kacau seandainya orang-orang di sini tahu kamu selebriti.”
Kim Re-Na menautkan kedua alisnya. Tanda bahwa tidak setuju sama sekali dengan pendapat manajernya. Ia memang menghormati orang ini sebagaimana kakaknya. Tapi, pengecualian jika benar-benar ingin menyendiri hanya untuk sebentar. Melepaskan penat dengan memandangi langit malam. Meskipun di kota besar seperti Gangnam sangat sedikit bintang terlihat karena banyaknya gedung pencakar langit mendominasi cahaya. Kadang Re-Na mengagumi kemajuan teknologi dari tempat yang telah membesarkan namanya.
“Tidak apa, hanya sebentar,” jawabnya mengibaskan sebelah tangan lalu pergi begitu saja meninggalkan manajer sebelum sempat menjawab.
Padahal alasan sebenarnya bukan karena penat. Melainkan seseorang yang mati-matian ingin dilupakan justru kembali mengganggunya. Ia sudah cukup lama menunggu hal tidak pasti. Dan keputusan untuk menjadi aktris adalah hal yang tidak pernah disesalinya. Terutama, ia sangat berterima kasih pada sosok itu. Tanpa penolakan dan semua kata-kata yang didengar membuat Re-Na sadar. Kadang menunggu perasaan seseorang yang tidak pasti sangat melelahkan. Pria itu bahkan tidak tahu seberapa sering ia meneteskan air mata kecewa. Karena menganggap angin lalu setiap usaha yang dilakukannya.
Dengan langkah lebar Re-Na menyusuri jalanan setapak di sekitar apartemen. Tidak berniat untuk berjalan jauh. Hanya ingin berpikir tentang banyak hal sembari menapaki jalanan dingin di malam hari. Ia bisa melihat dengan sangat jelas betapa indah pemandangan di malam hari. Untungnya tidak hujan. Jadi Re-Na masih bisa berjalan-jalan beberapa menit ke depan. Langkahnya terhenti pada sebuah bangku kayu berwarna cokelat di dekat taman. Di sekitar apartemen terdapat sebuah taman untuk berolahraga maupun berekreasi bersama keluarga. Biasanya ada beberapa orang bersepeda di sini. Ada banyak pohon sakura untuk berteduh. Sayangnya karena musim dingin. Pohon itu hanya tertinggal ranting-ranting tanpa daun dan bunga. Di sini juga terdapat sebuah danau besar dengan permukaan air yang tenang berwarna kehijauan –tempat orang-orang biasanya memancing.
Re-Na mengetuk-ngetukkan jari pada kursi. Menatap langit malam yang tidak berbintang. Selain sapuan angin di permukaan kulitnya yang terasa dingin, ia merasakan hampa. Entah sejak kapan tidak pernah merasakan getaran itu. Sebuah perasaan menyesakkan disebabkan kerinduan tak tertahankan. Pria memang sulit untuk ditebak. Bagaimana mungkin setelah satu tahun berlalu baru berpikir menghubunginya? Padahal sejak awal Re-Na sudah menunggu. Berharap mendapatkan balasan dari pengakuan cintanya melalui telepon. Bukannya menjawab justru tiba-tiba mematikan ponsel dan tidak menerima setiap panggilan darinya.
Ia bukan wanita yang akan menunggu hal tidak pasti. Tapi, pengecualian untuk pria itu. Bagaimana setiap harinya berharap untuk bisa bertemu. Hanya saja terasa sangat sulit karena jarak mereka cukup jauh. Bagi Re-Na yang sibuk mengerjakan pekerjaan paruh waktu dan kuliah di ibukota, Seoul. Hal itu bisa dikatakan mustahil. Dan, pria itu hanya seorang anak kuliahan biasa semester awal di Pohang. Sedangkan untuk menaiki kereta KTX perlu biaya yang lumayan. Justru setelah bertemu, Re-Na lebih sering diabaikan. Hingga membuat tanda tanya besar di dalam hatinya. Haruskah mempertahankan perasaan atau justru mencoba pergi sejauh mungkin?
Ponsel di dalam sakunya bergetar, membuat Re-Na tersadar dari lamunan. Mengambil dengan malas dan mengernyitkan dahi membaca nama yang tertera di sana. Inilah alasan sebenarnya mengapa ia ingin sendirian untuk sejenak. Manajernya melarang keras untuk dekat dengan mantan kekasih atau orang yang pernah memiliki hubungan spesial sebelum debut. Takutnya akan mempengaruhi karir yang baru saja dirintis atau pun membuat gosip tidak mengenakkan hingga membuat para penggemar kecewa. Itulah alasan mengapa Re-Na merahasiakan mengenai pria masa lalunya.
‘Halo.’
Re-Na menjawab sedatar mungkin. Agar tidak terdengar gugup. Padahal hatinya tengah merasakan hal yang selalu mengganggu hari-harinya dulu. Bagaimana suara khas dari pria muda itu mampu memberikan mimpi buruk dan indah pada waktu bersamaan.
‘Akhirnya kau menjawab juga telepon dariku,’ terdengar helaan dari seberang sana. Re-Na berusaha menahan perasaannya. Mengigit pelan bibir bawahnya bukan hal pas. Namun tetap dilakukan demi menahan kata-kata itu terucap. Bagaimana sangat merindukan sosok di seberang dengan perasaan tak tertahankan.
‘Oppa, kenapa tiba-tiba menelepon?’ tanya Re-Na separuh kesal dan rindu. Ia heran mengapa masih memikirkan sosok yang tiga tahun lebih muda darinya. Walaupun berbeda tiga tahun. Pria itu meminta untuk memanggilnya dengan sebutan Oppa. Padahal selain untuk menghormati orang yang lebih dewasa. Biasanya panggilan itu ditujukan jika berpacaran. Apalagi di sini umur pria lebih muda ketimbang wanitanya.
‘Hah, melegakan. Kukira kau akan memanggil namaku. Justru tetap seperti Kim Re-Na yang kukenal. Kau tentu tahu alasanku menghubungimu.’
Mendengar kata-kata itu membuat perasaannya semakin kacau. Padahal tujuan awal memang untuk melupakan pria itu. Karena mulai mengganggu sejak seminggu lalu. Dari sana awal mimpi buruk Re-Na. Ia bahkan mengarang banyak alasan ketika ponselnya terus-terusan berdering sewaktu rapat bersama para kru drama. Dan, bodohnya lupa menyetel nada senyap. Hingga berulang kali membungkuk meminta maaf.
‘Itu karena belum terbiasa memanggil namamu, Oppa.”
Tanpa banyak alasan hanya itu yang bisa diungkapkan oleh Re-Na. Ia tidak mungkin berterus terang mengenai perasaannya sekarang. Lagipula semua sudah terlambat. Perasaan yang tidak disambut, kenangan-kenangan manis, dan tidak adanya jawaban selama beberapa hari sudah cukup membuatnya mengerti. Kalau Park Chan-Hoo tidak mempunyai perasaan yang sama. Selama ini mungkin ia hanya dibutakan oleh perasaan samar yang dianggapnya adalah cinta. Mengingat itu membuatnya berkali-kali menggumam di dalam hati kalau semua sudah berlalu. Dan, menyesalinya sekarang tidak akan mengubah apa pun. Perasaan Re-Na memang masih sama tapi tidak bisa menyambut pria itu sebagaimana sangat mengaguminya dulu.
‘Begitu? Kukira kau akan berkata karena belum bisa melupakanku,’ terdengar helaan napas lalu dibarengi dengan suara wanita yang asing di telinga Re-Na. Raut wajahnya sekarang bertambah kesal memikirkan mungkin saja itu kekasih baru Chan-Hoo. Mengingat betapa tampan paras pria yang dikagumi dulu. Dua tahun lalu ketika mengenal Re-Na.
‘Tidak.’
Re-Na menjawab ketus bahkan terdengar cemburu. Chan-Hoo tertawa kecil di seberang. Dengan isengnya menanyakan hal yang sudah sangat jelas.
‘Kau cemburu? Tadi itu suara sekretarisku. Aku menyuruhnya untuk membawakan berkas yang besok pagi harus segera kutangani. Karena aku berniat libur kerja.’
Re-Na menunduk malu. Hal sia-sia menyembunyikan kenyataan kalau ia memang cemburu dan kesal dengan hadirnya wanita itu pada malam hari. Apa sebegitu baiknya Chan-Hoo hingga seorang wanita tidak berhati-hati berkunjung di larut malam begini? Memikirkan hal ini membuatnya uring-uringan.
‘Tidak. Memangnya apa alasanku untuk cemburu? Toh, aku dan Oppa bukan siapa-siapa dari dulu. Aku tidak menanyakan apa yang akan dikerjakan besok. Jadi, jangan membuang waktu dengan menjelaskan kepadaku.’
‘Hahaha ternyata benar kau cemburu. Aku selalu ingat kebiasanmu itu. Jadi, jangan berpura-pura Re-Na. Aku berniat menemuimu besok. Karena ini pertemuan pertama kita setelah setahun lebih tidak bertemu.’
Mendengar hal tersebut membuat Re-Na mengepalkan telapak tangan gemas. Ia memang ingin menolak namun di sisi lain menginginkan pertemuan itu. Sudah lama sekali rasanya. Mendengar suaranya pun tidak pernah. Maka dari itu ada sebersit rasa senang di dalam hati mengetahui Chan-Hoo menghubunginya larut malam. Dinginnya cuaca tidak terasa. Justru sebuah perasaan tengah mencair mendengar sebaris kalimat yang diucapkan pria itu. Re-Na tidak boleh lengah karena bisa saja hanya menguji perasaannya bukan benar-benar peduli dan ingin bertemu.
‘Jangan berharap lebih! Bukannya cemburu, aku terheran. Karena kebiasaanmu tidak berubah. Selalu mempermainkan hati wanita.’
‘Re-Na..’ terdengar helaan napas panjang lagi. ‘Kau masih membenciku atas kejadian lalu?’
Awalnya ia ingin menjawab selengkap mungkin. Bagaimana Chan-Hoo menanyakan hal yang sudah sangat jelas. Padahal sampai sekarang pun masih bertanya-tanya mengenai perasaan pria muda yang dulu mencuri waktu tenangnya. Tiada hari tanpa memikirkan kejutan apalagi untuk membuatnya tersenyum bahagia. Atau, menghitung tiap detik berlalu hingga bisa bertatapan langsung dengan pemilik wajah rupawan itu. Semua memang terjadi dulu. Tapi di setiap waktu luang yang dimilki Re-Na, sempat memikirkan pria muda itu dan membuat aliran air mata memenuhi sebagian paras cantiknya. Hingga perasaan menyesakkan tiba-tiba menyergap kesendiriannya.
‘Kim Re-Na, kau mendengarku?’ tanyanya ragu. Mungkin saja sambungan telepon terputus. Atau memang sosok wanita yang pernah mempunyai rasa begitu besar itu sudah lelah menghadapinya.
‘Ya, tentu saja. Aku masih di sini.’
‘Kau tidak menjawabku,’ tegurnya halus. Padahal kalau memang Re-Na tidak ingin menjawab pun bukan hal salah. Semua dikarenakan pria itu. Seandainya dulu tidak bersikap dingin terhadap wanita yang terpaut tiga tahun dengannya maka hasilnya jauh berbeda.
‘Oppa menanyakan hal yang begitu jelas jawabannya.’
‘Maaf,’ sebuah kata didasari rasa penyesalan terdalam. Meskipun tidak melihat secara langsung. Re-Na benar-benar tahu kalau ucapan itu tulus. Bagaimana Chan-Hoo meminta maaf. Entah untuk menolak perasaan atau karena dulu telah mengabaikannya.
‘Kau tidak perlu meminta maaf. Aku sudah lama melupakan masalah itu. Intinya besok aku tidak bisa bertemu karena banyak hal yang harus dilakukan. Kurasa aku tidak perlu menjelaskannya kepadamu.’
‘Baiklah. Aku akan membuat hal itu mungkin. Selamat malam, kau harus beristirahat sekarang.’
‘Ya, malam.’
Setelah mematikan sambungan telepon bukannya melegakan bagi Re-Na. Justru kembali merasakan sebuah perasaan menyesakkan yang dalam beberapa tahun selalu mengganggu tidurnya. Dan membuat celah di dasar hati. Terlalu banyak penyesalan seandainya saja tidak mempercayakan hatinya untuk mencintai sosok Chan-Hoo. Perbedaan umur mereka terlalu jauh. Re-Na baru saja menyadari satu hal. Kalau ia terlalu naif dalam mencintai seseorang dan berjanji tidak mengulangi kesalahan itu lagi.
Dengan langkah perlahan, Re-Na bangkit berdiri, menyusuri jalanan untuk kembali ke apartemen. Dari tadi ponselnya terus bergetar. Tanpa melihatnya pun sudah tahu kalau manajernya pasti tengah mencari. Karena lebih dari sepuluh menit telah pergi. Hari ini niatan untuk menenangkan hati benar-benar gagal. Justru terasa semakin berat memikirkan seseorang yang tiba-tiba memasuki dunianya. Sebuah tembok yang sudah dibangun dengan susah payah ambruk hanya karena orang itu menghubungi.