Aroma khas kopi tercium pada sebuah kafe kecil di tengah kota Seoul. Roti-roti croissant dipajang dekat meja kasir. Begitu juga beberapa buah-buahan seperti semangka, stroberi dan melon. Sengaja disediakan seandainya ada yang meminta salad buah. Mayoritas meja di sini bahannya terbuat dari mesin jahit yang dimodifikasi hingga bisa menjadi meja kayu cukup menarik. Beberapa sofa empuk kulit berwarna krem menjadi hal pas bagi siapa saja yang duduk di kafe. Lukisan-lukisan abstrak menghiasi tembok bata merah. Wanita itu memeluk cangkir putih polos berisi americano. Menghirup sejenak, kemudian tersenyum lebar. Meminumnya perlahan, mencoba merasakan betapa pekat rasa kopi yang dipesan. Ia menaruh gelasnya kemudian menatap ke luar jendela.
Cut.
“Aktingmu bagus sekali, Kim Re-Na. Kita bisa melanjutkan syuting setelah istirahat lima belas menit,” puji sutradara berambut cepak hitam dan memakai kacamata nyentrik.
Re-Na tersenyum kemudian membungkuk setelah sutradara melewati meja tempatnya duduk. Hari ini adalah syuting pertama untuk iklan. Dan, ia sudah sejak pagi berada di sini untuk menghapalkan beberapa dialog singkat. Berlatih di depan kaca dan berulang kali mencoba memaksakan diri untuk bersikap biasa saja. Re-Na masih belum bisa melupakan bagaimana lucu suara tawanya. Atau, lengkungan senyum tipis membingkai wajah tampan pria itu. Biar bagaimana pun, dulu ia pernah mempunyai perasaan yang dalam untuknya. Ia bukan enggan untuk melupakan. Hanya saja hatinya belum rela melepaskan semua kenangan.
Selagi ia sedang bersantai pada meja dan membuka beberapa folder foto pada ponsel, suara langkah kaki seseorang membuatnya mendongak. Jantungnya serasa mau copot mendapati orang yang baru saja dipikirkan berada tepat di hadapan. Membawa serta sebuket mawar merah dan sebuah tas kanvas. Tidak lupa ekspresi polos yang membuatnya terheran.
“Hai,” sapanya. Lalu, menarik kursi untuk duduk. Para kru di lokasi syuting menoleh ke meja Re-Na.
“Kau tahu dari mana aku di sini?”
Cukup lama Re-Na menjawab. Ia mengamati pria itu. Sudah setahun lebih berlalu dan banyak perubahan terjadi padanya. Mulai dari berpakaian layaknya eksekutif muda. Sisiran rambut yang rapi. Dan, hal paling nyata adalah wajah tampannya terlihat semakin dewasa. Menampilkan sebuah perubahan besar. Tunggu. Kenapa ia malah sibuk menilai penampilan Chan-Hoo?
“Aku pemilik dari kafe ini. Maka dari itu berada di sini. Oh ya, ini bunga dan sebuah hadiah kecil dariku. Selamat! Ternyata kau benar-benar menjadi aktris. Rasanya aku masih tidak percaya kau memilih jalan ini.”
Meski pun ingin meneriaki pria di hadapannya. Hal itu tidak dilakukan. Karena banyak orang di sini. Alasan untuk menjadi aktris adalah pria ini. Tanpa ada kabar darinya dalam beberapa bulan yang begitu menyiksa perasaan Re-Na, mustahil ia nekat memilih jalan yang sekarang ditapaki. Impiannya dulu hanya satu. Menjadi orang terpenting bagi Chan-Hoo.
“Maaf, aku tidak bisa menerimanya. Kurasa aku akan meminta sutradara untuk pindah ke lokasi lain. Atau, lebih baik membayar pinalti.”
Re-Na memang masih mempunyai perasaan terhadap Chan-Hoo, bukan berarti ia melupakan apa yang telah terjadi dulu. Bagaimana bisa sekarang bersikap baik? Apakah menyesali sikapnya dulu? Orang-orang masih menatap ingin tahu. Lalu, Re-Na berinisiatif untuk bangkit berdiri. Baru saja hendak berjalan pergi, tangan itu meraih lengannya. Menatap kedua matanya lekat-lekat. Jujur, ia sangat membenci situasi sekarang. Sudah pasti nanti akan tersebar gosip.
“Lepaskan aku.”
Suaranya rendah namun tegas. Bukannya menurut, ia justu memandangi keadaan sekitar. Bahkan, ada beberapa anak muda mengambil foto dari luar. Chan-Hoo tidak sadar kalau sudah seramai sekarang. Hanya perlu beberapa menit sebelum tersenyum ramah.
“Maaf mengganggu sebentar. Saya adalah pemilik kafe ini. Bisakah tinggalkan kami berdua? Ada yang ingin saya bicarakan dengan Kim Re-Na.”
Beberapa kru saling pandang hingga akhirnya menatap sutradara yang memandang ingin tahu. Awalnya raut wajah para kru tidak suka. Setelah berunding sejenak, mereka pun pergi. Sewaktu semua orang telah pergi, Re-Na langsung menepis tangan Chan-Hoo. Kemudian, kembali duduk dan menatap ke luar.
“Ada apa?” tanya Re-Na. Buru-buru memecahkan kesunyian. Takut seandainya jadwal syuting tertunda. Karena ia masih harus menghadiri beberapa acara sampai tengah malam. Ia tidak ingin tertahan di sini sejak pagi.
“Pertama-tama, terima bunga dan hadiah ini dariku.”
Chan-Hoo kembali menyodorkan hadiah yang dibawa sejak memasuki kafe. Re-Na menatap dengan menaikkan sebelah alisnya. Sudah lama sekali pria ini tidak perhatian seperti sekarang. Dulu, ia sangat perhatian saat awal mengenal Re-Na. Tapi, entah mengapa di bulan-bulan berikutnya berubah drastis. Seperti tengah melupakan kedekatan mereka dulu. Hingga Re-Na terus-terusan mencarinya. Mencoba menemukan jawaban mengapa perasaan itu begitu dingin.
“Apa yang membuatmu berubah pikiran, Oppa?”
Re-Na tidak langsung menerima semua hadiah itu. Ia hanya menyentuh bunga mawar dengan punggung tangan dan menatap pria di hadapannya. Rasanya aneh mengingat perlu waktu setahun lebih untuk Chan-Hoo datang kembali. Mengembalikan ingatan-ingatan manis dan pahit berputar di dalam pikiran. Setidaknya, ia masih bisa mengendalikan diri hingga tidak menangis karena hal sama. Sebuah kebodohan yang dilakukannya selama dua tahun lebih.
“Aku bukannya berubah pikiran. Hanya saja belum bisa menemukan kata yang pas untuk menggambarkan perasaanku padamu.”
“Jadi, sekarang sudah mengetahuinya?”
Sebenarnya Re-Na malas membahasnya lagi. Justru kata-kata itu yang terucap. Pastinya sangat mengganggu pikiran dan hatinya. Bagaimana dari kelanjutan kedekatan mereka dulu. Walaupun ia belum benar-benar yakin bisa mengabaikan Chan-Hoo seandainya nanti membahas hubungan mereka.
Ia menggenggam kedua tangan dan menaruhnya di atas meja. Menunduk dalam-dalam karena tidak ingin mendengar jawaban dari Chan-Hoo. Kesunyian tercipta beberapa detik sebelum sebuah kehangatan menyentuh telapak tangan Re-Na. Mengusap perlahan dan menautkan jari-jarinya di sana. Napasnya tercekat lalu menatap pria itu terheran.
“Aku menyukaimu. Dulu memang salahku mengabaikan. Sekarang aku baru menyadari ada hal aneh tanpa setiap pesan yang kuterima setiap pagi. Atau, mendengar suaramu setiap kali menelepon. Begitu perhatian sewaktu aku sakit. Maafkan aku. Kita bisa memulainya perlahan. Sebagaimana kita saling mengenal dulu.”
“Oppa kira akan semudah itu?”
“Aku tahu semua pasti sulit. Mengingat sekarang kau mempunyai penggemar dan sudah benar-benar menjadi aktris yang terikat kontrak. Namun, aku bisa menyelesaikan semua untukmu.”
“Oppa!”
“Aku bersungguh-sungguh, Re-Na. Semua bisa diselesaikan secara baik-baik. Nanti aku bisa menghubungi pengacara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Cukup percaya padaku.”
Re-Na melepaskan telapak tangan mereka yang bertautan kemudian bangkit berdiri. Sudah cukup mendengar omong kosong itu. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya. Siapa tahu saja kejadian dulu terulang kembali. Dan, Re-Na tidak ingin merasakan hatinya hancur karena sepenuhnya tulus kepada orang yang salah.
“Oppa kira semudah itu? Jangan mengarang hal yang mustahil. Aku cukup bahagia dengan kondisiku sekarang. Dan hanya ingin fokus pada karir bukan masalah percintaan yang tidak akan ada habisnya.”
“Kim Re-Na. Dengarkan aku!”
Mata Re-Na menatap penuh keyakinan. Sebelah tangannya mengepal keras. Di dalam rongga dadanya bergemuruh amarah yang sudah lama dipendam. Selama ini sudah cukup waktu disia-siakan untuk menunggu Chan-Hoo. Tidak ada lagi yang harus dilanjutkan. Semua itu hanyalah masa lalu. Tidak mempengaruhi waktu sekarang.
“Aku tidak bisa. Karena kata hatiku yang menuntun ke jalan ini. Oppa bisa pergi sekarang! Bawa serta hadiah ini. Aku tidak menerima apa pun darimu.”
Chan-Hoo terdiam tanpa kata. Mengambil serta bunga dan hadiah untuk Re-Na. Mulanya ia berpikir semua bisa dimulai dari awal. Kisah cinta yang dulunya begitu indah bisa terulang kembali. Hingga tidak menyisakan penyesalan terdalam. Namun di luar dugaan, wanita itu sudah semakin dewasa. Dan melupakan yang terjadi di masa lalu. Tidak membiarkannya untuk sekejap saja mengingat masa-masa itu. Bagaimana indah senyum tulus dari orang yang mencintainya. Sayangnya, semua sudah terlambat. Dan tidak ada jalan untuk kembali.
Orang-orang kembali memasuki kafe setelah kepergian Chan-Hoo. Sedangkan Re-Na masih tetap berdiri terpaku. Ia tidak menyangka setegas ini pada sosok yang pernah menghuni hati terdalamnya. Satu-satunya pria yang menghuni hatinya selama hidup. Tanpa basa-basi berhasil menyingkirkan perasaan itu. Padahal bukan benar-benar menyingkirkan. Re-Na hanya berusaha untuk fokus pada apa yang tengah dikerjakan sekarang.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Jun-Ha. Memastikan kalau Kim Re-Na baik-baik saja. Bukannya menjawab, ia justru jatuh terduduk. Kemudian, menangis sesenggukan.
“Tidak. Aku benar-benar merasakan sakit sekarang.”
Re-Na begitu mencintai pekerjaannya. Sama halnya seperti para penggemar yang terus-terusan menghibur dengan memberikan surat-surat manis . Meski pun terlambat menyadari. Ia sepenuhnya sadar kalau sebuah perasaan yang terkubur sekian lamanya. Akhirnya muncul bagai setangkai bunga yang baru mekar.
.+.+.+.+.+.
Pagi-pagi sekali Re-Na telah berada di lokasi syuting. Berada di depan meja rias. Cahaya dari lampu pada meja rias menerangi. Ia menatap pantulan wajahnya. Kulit putih s**u, hidung mancung, dan bibir merah padam. Semua hal ini diwarisi dari almarhum ibunya. Ia bahkan belum pernah melihat langsung wajah wanita itu. Seorang wanita yang selalu menjadi bahan cerita ayahnya sebelum tidur.
“Maaf, Kim Re-Na. Sudah waktunya untuk syuting.”
“Ah, baiklah.”
Re-Na berjalan keluar ruangan lalu menyusuri koridor. Beberapa kali para kru membungkuk hingga dibalas membungkuk dan tersenyum ramah. Dalam beberapa menit ia sudah sampai di lokasi pengambilan gambar untuk episode berikutnya dari drama yang diperankan. Baik dari kru yang melakukan tata cahaya, sutradara, dan kamera telah siap. Re-Na duduk di tengah-tengah pohon dan semak-semak rindang. Sewaktu kamera telah dinyalakan, air mata langsung mengaliri wajahnya. Ia mengigit bibir bawahnya gemetaran. Tidak sampai di sana. Justru menoleh takut ke sekitar. Benar-benar akting yang menakjubkan.
Tiba-tiba suara benda yang terjatuh mengagetkan seluruh kru. Kamera dan pencahayaan mati. Secara tergesa-gesa para kru berhamburan keluar ruangan. Re-Na terkejut namun tidak bisa menggerakkan badannya. Beberapa pepohonan palsu itu roboh karena gempa yang mengguncang. Otaknya masih berpikir jauh walaupun seluruh kru sudah berlari ke luar. Sewaktu sebuah pohon besar hampir menimpanya. Tiba-tiba tangan kokoh menariknya untuk bangkit berdiri dan menjauh dari sana. Tanpa meminta ijin, menggendong Re-Na pada punggungnya hingga berlari sekencang mungkin.
Perlu waktu bagi Re-Na untuk memahami apa yang terjadi. Semua kru telah berkerumun di luar gedung. Orang-orang di sekitar juga terlihat panik karena dari tadi terlihat mondar-mandir. Sedangkan, ia memeluk segelas coklat panas pada tangannya. Tadi salah satu kru dari bagian konsumsi memberikan minuman serta meminta maaf karena meninggalkannya di sana. Juga, pria yang menyelamatkannya duduk di hadapan. Menatap dengan cuek ke sekitar.
“Terima kasih,” ucapnya ragu.
“Hahaha, kau baru mengatakannya setelah beberapa menit berlalu?”
Sosok itu tertawa lalu tersenyum penuh arti. Mengamati wajah Re-Na memerah karena malu. “Maaf, aku hanya kaget. Kau siapa?”
Pria itu tersenyum lagi. Menampilkan seulas senyum tipis yang terasa aneh jika dilihat. Bukan berarti ia memiliki wajah yang buruk rupa. Justru kebalikannya. Tampan dan memiliki garis rahang tegas. Tingginya pun melebihi Re-Na.
“Haha, aku sampai lupa memperkenalkan diri. Salam kenal, aku Lee Min-Seo. Leader dari band Sketch. Kebetulan hari ini debut pertamaku sebagai aktor. Kalau di drama aku adalah teman dari tokoh utama.”
Cukup lama Re-Na menyambut uluran tangannya. Sebenarnya agak kaget mengingat kalau adegan yang diambil dalam drama adalah sewaktu diselamatkan. Justru benar-benar terjadi di dunia nyata. Sebuah kebetulan yang terasa sedikit aneh kalau dipikirkan. “Salam kenal, aku Kim Re-Na. Aktris pendatang baru.”
Baru saja ingin melanjutkan percakapan ini. Min-Seo dipanggil oleh sutradara. Awalnya ia ingin mengabaikan. Karena kru yang bertugas terus-terusan memanggil membuatnya berpamitan pada Re-Na dan berkata nanti kembali lagi.
“Syukurlah kau tidak apa-apa.”
Jun-Ha tiba-tiba menghampiri lalu membalutkan selimut tebal untuk menutupi tubuh Re-Na. Tadi ia kebingungan mencari kemana-mana setelah terjadi gempa cukup besar. Sepanjang sejarah gempa yang terjadi di Korea Selatan, hari ini lebih kuat dibandingkan beberapa tahun lalu. Ia benar-benar khawatir kalau sesuatu tengah terjadi.
“Jun Ha-Oppa kemana saja tadi? Aku benar-benar ketakutan.”
“Maaf. Tadi direktur tiba-tiba berkata ingin bertemu. Apa ada yang terluka?”
Re-Na menggeleng pelan lalu menunjuk ke arah Min-Seo yang mengobrol sambil tertawa nyaring bersama sutradara. “Tidak ada. Dia yang menyelamatkanku. Jun Ha-Oppa mengenalnya?”
“Sebaiknya kau tidak perlu terlalu dekat dengannya.”
“Kenapa?”
“Ia adalah seorang playboy.”
Re-Na terdiam mendengar penuturan manajernya. Dengan langkah perlahan meninggalkan lokasi syuting. Menyisakan sebuah tanda tanya mengenai sosok yang baru dikenal.