Chan-Hoo terbangun dari sebuah mimpi buruk. Mengerjapkan mata berulang kali sampai rasanya benar-benar lebih baik. Melihat ke sekitar. Ini masih kamarnya. Tidak ada yang berbeda. Lemari kayu masih di depan tempat tidur. Sebelah kanan merupakan jendela panjang menjulang. Dan, poster-poster klub bola kesukaannya, Real Madrid. Lampu di ruangan membuat penglihatannya sulit menyesuaikan. Terdengar suara berisik dari ruang tengah. Lengannya menahan beban tubuh dan bangkit duduk. Memakai sandal lalu berjalan ke luar.
Punggung mungil yang memakai apron tengah sibuk mengolah bahan makanan di dapur. Terdengar suara yang membuat perutnya cukup keroncongan. Untunglah, wanita itu sudah memasakkan sesuatu untuk makan malam. Saking lelahnya hari ini, Chan-Hoo memutuskan tidur siang dan baru terbangun sekarang.
“Sudah bangun?” Ia menaruh sepanci penuh kimchi jiggae di meja makan beserta makanan pendamping lainnya ke dalam piring kecil.
“Ya, baru saja. Kapan datang?” Chan-Hoo memutuskan untuk mendekat. Dan, menarik kursi sambil menunggu wanita itu memasak menu lain. Ia terlihat sibuk dengan kompor dan alat-alat masak yang hanya diketahui sebagian.
Sebenarnya Chan-Hoo cukup lapar. Tapi, rasanya tidak sopan jika makan duluan. Sumpit dan sendok telah tertata rapi di atas meja beserta mangkuk berisi nasi. Yang harus dilakukan hanyalah menunggunya selesai memasak untuk makan bersama.
“Aku sudah datang dari dua jam lalu. Melihatmu tertidur nyenyak, enggan membangunkan,” sahutnya sambil membawa piring berisi bulgogi yang baru matang.
Ha-Ni menarik kursi di hadapan. Mengambil sepotong daging bulgogi dengan sumpit dan menyodorkan pada mangkuk nasi milik Chan-Hoo. Lalu, menuangkan air mineral pada gelas kaca. Matanya masih terpaku pada makanan. Terlihat menikmati makanan yang dimasak. Harus diakui, kalau ia memang pandai memasak dan mengerjakan hal lainnya. Seperti menyelesaikan pekerjaan rumah. Hanya saja hati Chan-Hoo belum bisa menyambut kehadirannya sekarang.
“Kau tidak makan, Hoo-Oppa?”
Chan-Hoo menggeleng pelan. Mengambil sumpit dan menyuapkan sedikit nasi. Rasanya tadi memang lapar. Tapi, tiba-tiba tidak ingin makan apa pun. Ada sebuah perasaan aneh sewaktu melihatnya memasak. Ia memang bukan sosok istri Chan-Hoo. Namun, muncul sebuah perasaan membutuhkan seorang pendamping hidup di hati Chan-Hoo. Walaupun umurnya baru dua puluh lima tahun. Dan, menikah saat umur masih muda bukanlah pilihan bagus. Karena kebanyakan penduduk Korea Selatan menikah pada umur dua puluh delapan tahun atau lebih. Terutama, laki-laki.
Sewaktu melihat kesibukan Ha-Ni berada di dapur. Mengingatkannya kembali pada penolakan dari Re-Na. Berapa kali pun mencoba untuk menebus kesalahan terdahulu. Tetap tidak bisa meluluhkan hati Re-Na. Padahal Re-Na adalah satu-satunya wanita berhati lembut yang pernah ditemuinya. Chan-Hoo sepenuhnya sadar kalau apa yang terjadi di masa lalu bisa merubah hati seseorang.
“Oppa! Kau mengabaikanku, lagi.”
Ha-Ni menaruh sumpitnya dan menatap dengan kesal. Bahkan bangkit dari kursi dan terlihat sibuk mencari sesuatu pada laci-laci di dapur. Chan-Hoo masih diam, tidak menjawab. Menyuapkan dengan malas, makanan yang dimasak oleh wanita itu. Bukannya kurang berselera. Makanan ini sangat enak. Rasa pedas, asam, dan gurih dari kimchi jiggae sangat disukai. Hanya saja setiap kali teringat oleh Re-Na, muncul perasaan bersalah karena masih mempunyai perasaan untuknya. Itulah mengapa setiap harinya sulit tertidur nyenyak di malam hari. Sayangnya, Re-Na tidak percaya pada Chan-Hoo. Apa pun yang dikatakan. Apa saja yang ditunjukkan tidak bisa membuatnya melihat kesungguhan Chan-Hoo.
Karena sedikit terganggu melihat Ha-Ni mondar-mandir seperti mencari barang yang berharga. Tangannya menaruh sumpit dan bangkit berdiri. Berjalan menuju dapur. Mencoba membantunya menemukan barang yang tidak diketahui.
“Minggirlah, biar kubantu. Aku pemilik dari apartemen ini. Semua barang-barang di sini aku yang menaruhnya. Jadi, katakan yang kau perlukan.”
“Aku mencari cemilan manis untukmu. Jadi, kau akan berhenti mengabaikanku. Hanya karena salah mengecek laporan keuangan bulan lalu.”
Tangannya meraih lengan Ha-Ni. Kedua mata mereka bertatapan. Chan-Hoo masih terdiam dan enggan untuk mengalihkan pandangan ke arah lain. “Aku tidak mengabaikan dan marah karenamu. Lagi pula, aku tidak memerlukan cemilan manis sekarang.”
Ha-Ni masih terdiam. Namun tiba-tiba mendorongnya ke arah kitchen set. Menarik kerah bajunya dan memiringkan wajah. Chan-Hoo tidak tahu yang telah terjadi. Hanya saja masih terdiam sewaktu Ha-Ni mendaratkan ciuman. Tidak ada perasaan aneh. Walaupun sebenarnya situasi sekarang bisa dihindari. Chan-Hoo tidak melakukan apa pun untuk melawan. Salahkan hormon masa mudanya. Dan, membiarkan semua terjadi begitu mudahnya.
Tangan kekarnya tanpa sadar memasuki kemeja Ha-Ni. Menyelipkan jemarinya pada gunung kembar itu. Mengusap lembut ujungnya hingga Ha-Ni semakin memperdalam ciuman mereka. Hanya saling berciuman sambil menyentuh tubuh wanita itu. Tanpa ada rasa cinta di dalam hatinya.
.+.+.+.+.+.
Chan-Hoo duduk di ruang tamu. Menyalakan televisi. Ruangan ini penuh dengan barang-barang pemberian Ha-Ni. Seperti vas bunga. Pigura beberapa orang terkenal pada meja. Dan juga tirai berwarna krem yang menggantung di jendela. Chan-Hoo membiarkan keheningan menyergap mereka berdua. Ha-Ni masih memangku tangan. Menatap kuku-kuku jarinya yang penuh warna biru muda. Sedangkan, Chan-Hoo berpura-pura tidak ada yang terjadi di antara mereka. Mungkin Chan-Hoo adalah pria paling kurang ajar di dalam hidupnya. Tapi, ini bukan sepenuhnya salahnya. Ha-Ni menciumnya terlebih dahulu. Rasanya, Chan-Hoo jadi tidak mempunyai pilihan selain membiarkannya.
Tangan Chan-Hoo tanpa sengaja menyentuh sikunya sewaktu mencoba mengganti siaran televisi. Chan-Hoo bisa melihat ada raut kemerahan di wajah Ha-Ni. Kontras dengan kulit putih itu. Apakah ia merasa malu? Setelah tindakannya yang tiba-tiba? Ini bukan pertama kalinya Ha-Ni menyentuh bibirnya. Begitu intens. Seakan-akan ada hubungan spesial di antara mereka. Walaupun mereka belum pernah sampai ke ranjang.
Bahkan, kali ini Chan-Hoo sudah kelewatan dengan menyentuh tubuh Ha-Ni. Meskipun begitu, mereka tidak pernah membahasnya. Baik hubungan antara keduanya atau pun Re-Na. Ha-Ni memang mengagumi mantan kekasihnya Chan-Hoo sebagai aktris pendatang baru yang selalu diceritakan setiap kali mereka bertemu. Tapi, Chan-Hoo tidak tahu isi hati Ha-Ni sesungguhnya terhadap Re-Na.
“Oppa tidak ingin menanyakan apa pun?” tanya Ha-Ni begitu tenang. Walaupun ia sudah jengkel dari tadi dengan sikap cuek dari Chan-Hoo.
Chan-Hoo mengangkat bahu naik turun dengan malas. Enggan untuk menjawab pertanyaan Ha-Ni. Kalau pun ada yang ingin ditanyakan adalah mengapa sampai jam segini masih berada di rumah Chan-Hoo? Tidakkah Ha-
Ni takut berada di rumah seorang pria di malam hari? Apalagi Chan-Hoo hanya tinggal sendirian di sini. Meskipun sudah mengenalnya lama, tidak seharusnya lengah. Atau, Ha-Ni memang sengaja membiarkan? Entahlah, Chan-Hoo malas untuk bertanya. Setidaknya hanya ingin beristirahat sedikit lebih lama hari ini.
Jemari Ha-Ni meraih lengannya. Menarik-nariknya karena menunggu sebuah jawaban. Chan-Hoo benar-benar heran melihat tingkahnya sekarang. Jauh berbeda dari Ha-Ni yang dikenal. Ia bukan gadis remaja manja yang merengek boneka beruang. Umur Ha-Ni sudah cukup dewasa untuk merajuk semacam ini.
“Apa yang kau inginkan, hm?” tanya Chan-Hoo. Menyerah dengan keadaan. Fokusnya tidak bisa teralih pada televisi dan terpaku pada kehadiran Ha-Ni. Bagaimana mungkin Chan-Hoo bisa menaruh perhatian pada berita yang ditonton. Semua sudah buyar karena Ha-Ni mengganggu.
“Berhenti mengabaikanku, Oppa.”
Chan-Hoo menarik napas panjang. Sebelum memindahkan tangan mungil Ha-Ni dari lengannya. Membuat jarak yang cukup aman di antara mereka. Takutnya nanti Ha-Ni bertindak seenaknya seperti tadi. Mungkin dengan memberikan jarak cukup jauh bisa membuatnya sadar. Kalau tindakan barusan adalah salah. Atau, beberapa waktu yang lalu. Di tempat yang berbeda.
“Tidakkah kau sadar, kalau tingkahmu ini benar-benar keterlaluan? Tolong bersikap dewasa. Aku sudah cukup lelah mengenai perihal perusahaan.”
Lama-kelamaan menghadapi Ha-Ni membuat Chan-Hoo tidak tahan. Ia memang sekretaris cekatan di perusahaan. Sikapnya selalu berbeda jika mereka berduaan. Sebenarnya, Chan-Hoo tahu apa yang diinginkan. Ketegasan di dalam hubungan mereka. Jika dibilang bukan kekasih. Tindakannya barusan menunjukkan ada hal spesial yang tidak bisa dijelaskan secara mudah. Apalagi Chan-Hoo tidak mempunyai perasaan khusus padanya.
“Aku mengerti. Mengenai hubungan kita, bagaimana kelanjutannya?” tanya Ha-Ni masih menatapnya lekat-lekat.
Chan-Hoo benci merasa terintimidasi seperti sekarang. Ada sebersit rasa bersalah tidak menolak ciuman dan sedikit menyentuh tubuhnya. Mungkin saja Ha-Ni salah paham karena masalah ini. Padahal sudah lebih dari sekali sosok Chan-Hoo menegaskan belum bisa berpaling dari Re-Na. Justru Ha-Ni berkata akan menunggu. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Bagaimana perasaannya terhadap wanita yang terpaut beberapa tahun itu bisa sirna seiring berjalannya waktu. Dan, sialnya Chan-Hoo terperangkap di dalam perasaan ini. Sebelum menyadari ada sudut yang membeku semenjak kepergian Re-Na.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”
Merasa semua obrolan ini sia-sia, Chan-Hoo beranjak pergi menuju pintu depan apartemen. Berharap kalau Ha-Ni mengerti maksudnya melakukan tindakan ini. Terdengar langkahnya mendekat, dan lengan yang tiba-tiba memeluk erat tubuh Chan-Hoo dari belakang. Chan-Hoo terkaget. Mencoba melepaskan diri.
“Aku paham. Siapa orang yang menghuni hatimu hingga saat ini. Sampai kapan pun aku tidak bisa menyainginya. Wanita tercantik dan terindah bagimu, Oppa. Tapi, hidup harus tetap berjalan. Aku tidak ingin kau terus-menerus terperangkap di dalam masa lalu.”
Jujur saja. Sudah ribuan kali Chan-Hoo mencoba mengalihkan perhatian ke mana saja. Asal tidak kembali teringat pada kenangan-kenangan bersama Re-Na dulu. Tapi, ada penyesalan terdalamnya. Kenapa tidak pernah memperlakukan dengan baik? Sosok wanita itu telah menjelma menjadi bintang terindah dan paling terang yang mustahil untuk diraih sekarang. Senyum cerahnya. Matanya indah dengan double eyelid sempurna. Suara tawa renyah yang membuat Chan-Hoo tersenyum setiap mengingatnya. Semua itu tertinggal di dalam kenangan. Tidak mungkin lagi membayangkannya, menyunggingkan senyum terindah untuk Chan-Hoo.
Chan-Hoo tidak menjawab apa pun. Dan membiarkan suara denting jam dinding mendominasi ruangan. Selain penghangat ruangan yang sedikit mengganggu keheningan, mencoba memecah kesunyian. Detakan jantungnya masih sama. Tidak berdetak lebih cepat hanya karena mendapat sedikit kenyamanan yang sudah sangat lama terlupakan. Sebuah pelukan hangat dari seorang wanita. Sayangnya, orang itu bukanlah yang diharapkan.
“Oppa, maafkan aku. Tapi, aku sangat menyukaimu.”
Chan-Hoo membalikkan badan. Menarik tubuh mungil itu mendekat. Ha-Ni memandangnya kaget. Sebelum mengatakan apa-apa lagi. Chan-Hoo mendekatkan wajah mereka. Dan, sebuah ciuman hangat kembali tercipta. Di dalam dadanya memang tidak bergemuruh keras. Hanya saja. Untuk malam ini Chan-Hoo memerlukan seseorang yang menemani hingga pagi menjelang.