Lee Min-Seo duduk di depan komputer dengan melihat banyaknya grafik memusingkan. Alunan lagu terdengar dari speaker. Ia telah sibuk sedari pagi. Mengabaikan waktu yang ternyata sudah menjelang siang. Jadwal comeback band Sketch hanya menghitung minggu. Maka dari itu ia tengah sibuk mengaransemen lagu baru untuk album mereka. Sebagai leader salah satu tugasnya adalah menciptakan lagu.
Tangannya meraih gelas berisi coklat panas dan meminumnya perlahan. Cuaca akhir-akhir ini tidak bersahabat. Beberapa kali muncul badai salju di Seoul. Membuatnya sulit beraktifitas. Untunglah sekarang hanya hujan salju. Min-Seo nanti berniat keluar sebentar untuk makan siang atau menikmati cemilan manis. Seperti kue-kue pada sebuah cafe dua blok dari gedung perusahaan yang telah membesarkan namanya. Memikirkan saja membuat perutnya tiba-tiba terasa lapar. Sudah jam satu siang. Dan, ia membutuhkan suguhan kue supaya bisa kembali memikirkan lirik lagu dari musik yang indah.
Ia mengambil coat yang ditaruh pada kursi dan berlalu pergi. Hal pertama yang menyapanya ketika keluar dari gedung adalah butiran lembut salju dan hembusan angin. Terasa menusuk di kulit. Walaupun sudah memakai sweater dan coat tetap belum bisa mengusir rasa dingin yang menyiksa. Kalau tidak salah suhu siang ini sampai minus tiga. Cukup untuk membuat orang-orang memilih berdiam diri di rumah.
“Kalau tahu sangat dingin, aku lebih baik tidak makan,” gerutunya menyusuri jalanan yang licin. Di sebelah kiri dan kanan terdapat tumpukan salju yang baru dibersihkan. Setiap harinya ada petugas pembersih membersihkan ruas jalan. Pasti benar-benar merepotkan harus berjalan dengan sangat hati-hati jika tidak ada yang melakukannya.
Uap dingin keluar dari bibirnya sewaktu menarik napas. Kedua tangan dimasukkan ke dalam saku coat. Mencoba menahan rasa dingin. Kalau musim salju tiba pasti teringat cinta pertamanya yang gagal. Karena Min-Seo memutuskan untuk menjadi penyanyi daripada menjalin hubungan serius bersama wanita itu. Seharusnya ia bisa menebus kesalahan sekarang. Karena hampir lima tahun telah debut. Menurut kesepakatan perusahaan, membolehkannya berpacaran jika sudah lebih dari tiga tahun berkarir. Hal ini berhubungan dengan kestabilan dari grup band tersebut. Sayangnya, Min-Seo tidak mempunyai nyali untuk menemui wanita pujaannya dulu.
Suara lonceng berdenting ketika membuka pintu kaca kafe D’licious. Beberapa orang menoleh sewaktu masuk. Lalu, ia menunduk dan menaikkan kacamata hitamnya. Mencari tempat duduk paling pojok. Menghadap ke arah jendela menjulang panjang yang menampilkan keramaian di jalan raya. Suara kendaraan tidak terlalu terdengar. Justru alunan musik merdu memenuhi ruangan. Meski pun orang-orang di sini mengenalnya, mereka tidak mengganggu. Tanda-tanda ingin melakukan tindakan anarkis pun nihil. Kalau melihat berita di televisi kadang membuatnya bergidik ngeri. Apakah mungkin hal itu hanya dilebih-lebihkan? Entah, ia tidak peduli.
Setelah memilih menu, Min-Seo menatap ke luar jendela. Memikirkan keputusannya nanti. Sudah lima tahun berlalu. Namun belum ada satu pun wanita mampu membuatnya berpikir selain pekerjaan. Rekan satu bandnya selalu mengingatkan jika ada seorang wanita yang mampu membuatnya melupakan pekerjaan, sudah pasti sedang jatuh cinta. Sayangnya hal itu mustahil. Tidak ada tanda-tanda ketertarikan pada semua wanita yang pernah berkencan dengannya. Itulah alasan mengapa orang-orang menyebutnya playboy.
Banyak hal yang membuatnya betah berdiam diri di kafe ini. Penempatan meja berwarna-warni. Setidaknya ada tiga atau empat pasang meja yang berbeda warnanya. Seperti coklat, krem, putih, dan biru muda. Lukisan pemandangan di pedesaan pada dinding nyaman untuk dilihat. Apalagi musik-musik yang diputar kebanyakan lagu klasik. Hari-harinya terasa membosankan karena harus mendengar musik pop dan rock untuk menciptakan lagu. Setidaknya, hal ini cukup menghibur.
“Silahkan.”
“Terima kasih,” balasnya singkat lalu kembali terpaku pada pemandangan di luar. Tidak terasa sudah cukup lama Min-Seo tinggal di negara ini. Tempat dimana ayahnya dilahirkan. Kadang-kadang ia merindukan sosok ibunya yang telah pergi jauh.
Musik masih mengalun indah. Suasana kafe sedikit bising karena pembicaraan orang-orang menguar di udara. Aroma dari secangkir hot cappuccino cukup menggoda dengan adanya sepotong blueberry cake. Manis dan pekat yang baginya perpaduan sempurna. Baru saja ingin mengambil cangkir. Suara denting lonceng berbunyi nyaring. Seorang wanita mengenakan topi merah dan sebuah dress panjang senada dengan topi yang dipakainya, membuyarkan semua pemikiran tadi. Ia sepenuhnya terpaku.
“Sungguh, cantik.”
Tanpa sadar Min-Seo menggumam kecil. Dengan balutan dress merah selutut wanita itu benar-benar terlihat sempurna di matanya. Detakan jantungnya berpacu cepat. Padahal sedikit pun kopi belum diminum. Namun menciptakan debaran yang memusingkan. Setelah beberapa lama, ia baru menyadari satu hal. Kalau mereka pernah bertemu. Wanita itu menoleh kemudian tersenyum manis. Min-Seo baru menyadari kesalahannya. Memandangi seseorang secara terang-terangan ternyata cukup memalukan. Ia terburu-buru mengambil cangkir dan menyeruput hot cappuccino yang dipesan. Memotong cake perlahan dan memakannya santai. Mencoba bersikap tenang. Padahal tadi benar-benar mendebarkan. Pikirannya sudah tidak karuan. Ia memutuskan untuk mencoba fokus dengan makan siangnya. Ya, hari ini hanya cake. Setidaknya harus diet meski pun rasanya sulit.
Sudah seperempat cake habis. Karena penasaran Min-Seo menoleh ke wanita tadi. Dan melihat ada seorang pria yang dikenalnya. Ia adalah manajer dari Kim Re-Na yang tengah naik daun. Aktris pendatang baru namun karirnya semakin gemilang. Semenjak membintangi dua drama dan beberapa iklan. Bahkan, Min-Seo pernah mendengar kalau Re-Na menjadi model dari majalah terkenal seperti Claire. Min-Seo mengenalnya karena waktu itu manajer Kim Re-Na berterima kasih telah menyelamatkan aktrisnya. Rasanya seperti sebuah kesempatan yang sama sekali tidak boleh terlewatkan.
Sesudah menghabiskan sendok terakhir, Min-Seo bangkit berdiri. Melangkah perlahan menuju meja Kim Re-Na. Mulanya ia sedikit canggung sewaktu berhadapan langsung dengan wanita yang terlihat berbeda sejak bertemu terakhir kali. Ia mendeham pelan.
“Bolehkah aku bergabung?”
Suaranya direndahkan. Sebisa mungkin bersikap biasa. Walaupun ia benar-benar berharap kalau Re-Na mengijinkannya ikut bergabung di meja yang sama. Min-Seo baru sadar kalau wanita ini cukup membuatnya uring-uringan dari tadi. Contohnya, seperti sekarang. Mencari cara agar bisa mengobrol beberapa kata. Lama sekali Re-Na berpandangan dengan manajernya. Seakan memberi isyarat untuk tidak mengijinkan.
Re-Na menyampirkan coat yang tadi dalam genggamannya. “Kau boleh duduk bersama kami,” jawabnya disertai seulas senyum tulus.
“Kau sungguh baik, Re-Na,” ungkapnya disertai sebuah cengiran lebar. Min-Seo duduk bersebelahan dengan wanita yang membuatnya terheran karena penampilan hari ini. Entah mengapa menurut pendapatnya kalau Re-Na terlihat sangat cantik.
“Jangan mencoba merayuku. Sedang apa di sini?”
Re-Na masih mengaduk lesu kopi yang dipesan. Secangkir americano pekat, cukup untuk menghilangkan sakit kepalanya. Berbeda dari wanita lain. Dirinya lebih menyukai rasa pekat kopi karena mengingatkannya kepada seseorang.
“Aku? Baru saja selesai makan siang. Tapi, kurasa akan menghabiskan waktu lebih lama di sini.”
Mulanya Re-Na berpura-pura tidak tahu kalau Min-Seo secara terang-terangan memandanginya. Pada akhirnya balas memandangnya dan tersenyum ramah.
“Apa alasanmu?”
“Karena tertahan oleh dewi secantik kau, Re-Na.”
Ia tidak langsung menjawab melainkan menaikkan sebelah alisnya terheran. Mungkin sebuah kesalahan besar membiarkan pria ini bergabung. Bahkan, Min-Seo tanpa keraguan merayunya. Meski pun bisa dibilang hal itu sedikit mempengaruhi perasaan Re-Na. Karena hati dan pikirannya masih terjajah oleh satu pria yang selalu menyita waktunya.
Raut wajah Min-Seo begitu tulus. Namun, ia tidak bisa begitu saja percaya. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah dijuluki perayu wanita bisa tulus? Menurut pemikirannya, Min-Seo pasti sedang mengujinya. Atau, hanya ingin bermain-main. Sayangnya, Re-Na bukan sasaran tepat dari gosip baru yang akan muncul di halaman terdepan majalah.
“Jangan bergurau. Aku tidak mempunyai waktu untuk mendengar sebuah kebohongan.”
Min-Seo menyunggingkan seulas senyum tipis. Walaupun Re-Na enggan mengakui. Kalau pria ini memang sangat tampan dan berkharisma. Hal terburuk adalah ia seorang playboy. Berteman pun pasti membawa banyak masalah.
“Aku tidak berbohong. Mengapa tidak mempercayaiku sama sekali?”
“Karena kau pasti mengatakan hal semacam ini pada setiap wanita yang pernah dikencani.”
Min-Seo terdiam. Ya, memang benar kalau ia mempunyai banyak sekali pengalaman berkencan. Tapi, memuji seorang wanita bukan keahliannya. Terutama, Min-Seo tidak pandai berbasa-basi. Itulah mengapa kegagalan selalu mengikuti saat berkencan dengan beberapa aktris. Namun, media masa membuatnya terlihat seolah-olah playboy handal.
Kadang ada terbesit pikiran untuk meluruskan semuanya. Menjelaskan apa yang dikatakan oleh media tidak benar. Memangnya siapa yang akan percaya? Min-Seo sudah terkenal sebagai playboy berwajah tampan di atas rata-rata. Meski pun begitu, masih ada dua atau tiga aktris yang terang-terangan menyukainya. Bahkan setelah tampil di atas panggung, mereka tidak segan mengajaknya berbicara. Kadang susah menampilkan kesan baik. Contohnya saja, sekarang.
“Tidak juga. Aku payah dalam hal itu.”
Re-Na menutup wajah dengan sebelah tangan untuk menahan tawa. Sedangkan Min-Seo keheranan. Beberapa detik kemudian menyunggingkan seulas senyum tipis yang bisa membuat pria mana pun kehabisan kata-kata. Seperti sekarang Min-Seo bertanya-tanya, ‘bagaimana bisa wanita yang begitu cantik ada di hadapannya?’ Sulit mendeskripsikan wanita menawan ini.
“Kau sungguh lucu. Aku hanya menggodamu.”
Seulas senyum terukir pada wajah tampannya. “Jadi, kau tertarik padaku?”
Kim Re-Na terdiam. Menyesali perkataannya barusan. Memang benar kalau ia tertarik semenjak Min-Seo menyelamatkannya dulu. Tapi, belum begitu yakin. Apalagi sosok pria masa lalunya muncul. Membuat keraguan di dalam hati. Mungkin saja Re-Na bisa melupakan kenangan-kenangan masa lalu yang membuat pikirannya tidak tenang. Seringkali mimpi-mimpi itu masih menghantuinya. Kalau mereka bisa saja bersama dan menyerah pada karirnya.
“Aku tidak ingin menjawab. Kebetulan ada sedikit urusan sekarang. Sampai bertemu di lain kesempatan.” Karena mendapat sebuah peluang untuk mengalihkan perhatian, Re-Na memanfaatkannya untuk segera pergi.
“Hmm, sampai bertemu di lain waktu.”
Min-Seo memandanginya bangkit berdiri, meninggalkan meja, dan berlalu menuju pintu keluar. Sebenarnya, ia masih ingin mengobrol. Tapi, bagi aktris pendatang baru seperti Re-Na pasti mempunyai banyak kegiatan. Tidak mudah untuk bertemu dengannya.
Hari ini mungkin menjadi hari yang panjang. Bagaimana wajah cantik itu mulai mengusik pikiran. Sekali lagi. Min-Seo berharap kalau lagu yang diciptakan bisa cepat selesai. Karena sekarang ia mempunyai alasan baru untuk tidak fokus pada pekerjaannya. Sosok wanita muda tercantik yang pernah ditemui.