2 tahun kemudian ...
‘Nak ... Nak, ayo bersetubuh sama om’ ujar pria raksasa di kegelapan seperti mimpi.
“Eng—enggak, pergi Om!” desahku, meronta-ronta.
‘Wa .. ha .. ha ... ayo peluk aku, Nak,’ Tiba-tiba saja om itu berubah menjadi ayah angkatku.
“Pergi, pergi!”
Prang!
Suara pecah belah membangunkanku dari mimpi burukku, dadaku naik turun dengan kecepatan tak terhingga. Mataku terbuka lebar, kutatap pedagang bakso dengan sangat lama.
“Akhirnya, kamu bangun juga ... dari tadi tanganmu getok-getok kepalaku, Nak,” ujar pedagang bakso seraya terkekeh. Tangannya memegang kepalanya yang bertopi.
Pedagang bakso itu pun mengambil beberapa pecahan di pinggir jalan, aku hanya menatapnya seraya duduk di dataran merah yang sangat dingin.
“Ekhem ... kenapa kakimu sering tremor?” tanya pedagang bakso dengan lambat seraya pura-pura batuk lalu alisnya terangkat.
“Tremor?” tanyaku kebingungan seraya melipat kaki dan mengalihkan pandangan.
Aku pun melihat layar lebar yang terpampang tinggi-tinggi di hadapanku, layar itu menampilkan sebuah kampanye.
“Hm, kau tahu pria itu?” Telunjukku getir menunjuk pria yang muncul di layar, yaitu ayah angkatku.
“Mana aku tahu, aku Cuma pedagang bakso bukan pengurus kota ... Siapa pun pengurusnya, toh aku tetap mendorong gerobak,” ucapnya.
Mobil yang melaju dari kejauhan pun terhenti di hadapanku. Pintunya terbuka lalu muncullah pengemudi mobil itu, dia adalah pembeli setia tisu daganganku, ia menghampiriku seraya berucap, “Beli tisu, Dik.”
Aku menatap pembeli setia dengan sangat lama lalu bertanya, “Kenapa, kenapa kau selalu membeli tisuku ... Kau punya nama?”
“Kenapa memangnya, apa salahnya berbuat baik ... hm, namaku Antonio,” ucap Antonio, alisnya terkerut kesal. Antonio pun mengambil tisu kecil lalu memberiku 1 keping koin.
Kutatap tubuh Antonio dari atas ke bawah. Seragam jas dipadu sepatu hitam, alis yang selalu terkerut seolah marah, juga gigi gingsul yang memadukan wajahnya. Aku pun kembali bertanya seraya menunjuk ayah angkat dan juga Leo yang muncul di layar kampanye, “Kamu kenal kakek tua itu?”
“Oh, dia ... dia mantan hakim terhebat, dia panutanku,” tutur Antonio seraya memasukkan tisunya ke saku.
Aku pun kembali bertanya seraya terus menatap layar lebar itu, “Lalu anaknya?” Terus kutunjuk layar lebar itu.
“Oh, itu wali kota,” ucap Antonio lalu seperti biasa, ia cepat-cepat masuk ke mobilnya.
“Wali kota?” lirihku. “Hm, Lingkungan ini ibu kota?” tanyaku pada pedagang bakso yang duduk di sebelahku.
“Nah, tanyakan saja padaku masalah lingkungan. Aku sudah terjun puluhan tahun berkeliling jualan bakso, tidak seperti pengurus kota—“
“Cepat kasih tahu aku!”
“Eh, Iya—iya, lingkungan ini ibu kota, eh, tapi menurutku sih pinggir kota ... Yah, karna dapat perhatian yang beda-beda—,” ucapnya yang tak kuhiraukan. Aku masih serius menatap ke depan.
Antonio pun melajukan mobilnya lalu pandanganku jatuh pada siluet mobil milik Leo di seberang sana.
Sontak saja perasaanku mendadak panas dingin menatap mobil mewah itu, aku pun berdiri lalu menyeberang keramaian jalan yang disiram terik matahari, aku pun memasuki mobilnya.
Sudah 2 tahun lamanya aku tetap menjadi pengemis di pinggir jalan. Tak ada kemajuan yang bisa kupamerkan.
Selain menjadi pengemis dan pembawa tisu di siang ke sore hari, aku merangkap sebagai b***k s(e)ks ayah angkatku di setiap malam.
Kukira aku bisa menjauh dari Leo, si malaikat mautku itu, kukira rumah dekat pohon menjadi tempat paling aman untuk diriku. Namun nyatanya, bayangannya, prajurit seragam hitam-hitamnya, mobil mewahnya ada di mana-mana mengintaiku. Leo lah yang kembali merayuku untuk bertemu ayah angkat. Leo merayuku, dia bilang bahwa aku akan bertemu ibu, tetapi nyatanya aku tak bertemu dengan ibuku, aku malah bertemu predator s(e)ks beralibi ayah angkat.
Malangnya nasibku, aku benar-benar tak bisa menolak takdir. Sebenarnya aku malas bercerita, tetapi aku akan tetap menceritakan kisahku sesingkat-singkat mungkin.
Tahun lalu, aku sempat berlari ke kantor polisi dengan tampang acak-acakkan untuk mencari ibuku dan melapor tentang diriku yang menerima tindak asusila dari pria bernama ‘Leo’. Namun, hasilnya nihil, aku tak menemukan satu pun jejak atau kabar mengenai ibuku. Aku malah dikatai ‘gila’ karena hanya memakai selimut raksasa saat itu. Tingkahku dibilang aneh, aku juga di katakan terlalu emosional oleh petugas depan kantor.
Memang emosiku sering berubah-ubah setelah mendapat perlakuan asusila. Seolah sifatku mengikuti alur musim yang tak karuan, aku malah menjadi mudah marah, sedih, tiba-tiba tertawa sendiri seperti perempuan yang sangat gila. Bahkan semakin banyak mimpi-mimpi dan khayalan yang muncul di depan mataku, semakin membuatku gelisah. Aku seperti memiliki dua dunia sekarang.
Aku juga sangat bodoh karena mau menandatangani dua map perjanjian dari ayah angkatku. Aku tak tahu apa isinya karena aku tidak bisa membaca. Ayah angkatku juga mengancam diriku dengan menyerang orang tua kandungku.
Ibuku disembunyikan dan akan disiksa, aku tidak tahu apakah ibuku masih hidup atau sudah mati, sementara ayah kandungku yang masih terus bersedih seraya menebang pohon diancam akan ditabrak nanti jika aku menolak, mengelak, atau memberontak. Bagaimana caraku menolak untuk tidak menandatangani map-map busuk itu?
Rasanya aku hanya ingin bun(u)h diri karena menahan sakit sendiri, tetapi aku selalu teringat ayah kandungku. Ayah kandungku akan hidup menyendiri jika aku mati. Aku pun terpaksa untuk diam dan tetap mengikuti alur ayah angkatku, seperti menggugurkan kandungan, tetapi gagal lalu pendarahan terus keguguran, dan masih banyak alur main lain yang di miliki ayah angkatku. Mungkin aku tak akan memiliki keturunan, atau mungkin aku akan tumbang di tengah jalan.
Begitu saja cerita singkat sesingkat-singkatku selama 2 tahun yang mengesalkan. Tak ada yang ingin kuceritakan lagi sekarang. Tentang lampu, kucing, jalan, dan semuanya, tak ada yang ingin kuceritakan. Mungkin esok, keesokannya lagi, dan terus keesokannya aku akan menutup buku, membuang tintaku jauh-jauh dan membakar seluruh lembaran ceritaku.
Semua itu karena pria yang bernama Leo yang dulunya aku anggap malaikat dan sekarang aku benar-benar tak ingin menganggapnya. Karena malaikat maut si(a)lan, k(e)parat, yang aku benci itu, dia benar-benar tak berkutik sama sekali. Dia diam, dingin sedingin es, mata redupnya hanya menatap diam diriku yang meronta-ronta kesakitan karena ayah angkat. Seharusnya Leo menolongku, tetapi Leo malah diam.
Aku benar-benar tiga kali lipat muak menatap wajah malaikat mautku itu. Karena dia, aku jadi kehilangan seluruh jati diriku, jiwaku menjadi setengah gila, dan paling kusesali, emosionalku menjadi amburadul. Aku harap suatu saat nanti aku bisa mencincang habis seluruh miliknya lalu menyampaikan tiga kata yang ingin kukatakan pada dirinya.
‘Aku’ ‘benci’ ‘kau’ dan satu kata lagi untuk namanya, ‘Leo!’
Malam hari ...
Aku pun keluar dari gedung tinggi nan putih, dengan selimut raksasa yang selalu menempel dt tubuhku. Langit gelap, cepat-cepat aku masuk ke mobil hitam milik Leo, duduk di kursi belakang, lalu kututup keras pintu mobil.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Leo.
Aku tak menanggapinya. Aku masih fokus memijat-mijat paha karena rasa sakit yang amat mencengkam.
Leo pun memberikanku uang yang sangat banyak, juga sepasang pakaian. Segera kuambil uang itu seperti orang yang kehausan akan uang. Kugenggam uang itu erat-erat di balik selimut seraya menatap ketir matanya lewat kaca mobil.
“Kamu mau makan?” tanya Leo, ia mulai mengemudikan mobilnya.
Aku tak menjawabnya.
Rambut acak-acakkan kusenderkan keras di sandaran yang tidak nyaman. Kugerak-gerakkan kakiku yang bergetar tanpa sandal di karpet mobilnya. Aku tak sabaran ingin meninggalkan mobilnya
“Kamu ingin sushi?” Leo menatapku dari kaca mobil, dengan cepat aku menghindari matanya.
“Aku ingin pulang!” ucapku, tak memedulikannya.