Pisau

1263 Kata
3 tahun kemudian ... “Pinjam pisaumu!” “Boleh, tapi nanti kembalikan ya ... harga pisau mahal soalnya.” “Kubayar pisaumu!” “Hei, kamu dari mana dapat uang sebanyak ini ... harga pisau juga tak semahal ini,” kejut pedagang bakso dengan mata terbuka lebar. “Jualan! Aku mohon, aku butuh pisaumu ... jaga uangku juga!” desahku dengan nada menjerit, terus-menerus kudorong tanganku yang memegang segepok uang, menyogok pedagang bakso. “Kamu perlu apa dengan pisau?” Aku menggeleng. “Ada rencana, dadakan. Tiba-tiba muncul di kepalaku,” ucapku, gelagapan. “Tahun ke tahun kamu makin eksentrik ya,” ucapnya seraya menyeringai lalu terkekeh. Aku mengerutkan alis, tak mengerti, juga menggeleng. Terus-menerus kusodokkan uangku lalu bayangan sebuah mobil pun menepi di pinggir jalan. Cepat-cepat kuambil pisaunya lalu kusembunyikan di saku celanaku, segera juga kumasukkan segepok uang ke keresek sampah yang menggantung di gerobak baksonya. Terbukalah pintu mobil lalu Antonio pun turun dari mobilnya. “Beli tisu,” ujar Antonio, ia menatapku seraya menghampiriku. Kulihat Antonio merapikan dasi, jasnya tampak rapi hari ke hari. “Beli tisu!” pekiknya, mengerutkan alis. Aku pun ikut mengerutkan alisku, menatapnya. Kuambil tisu kecil yang biasanya dibeli Antonio lalu tanganku sengaja menyentuh tangannya saat aku memberikan tisu kecil itu. “Kamu ... orang kaya? Kamu pengemis?” tanyaku pada Antonio. Aku mengangkat alis, tak sabaran menunggu jawabannya. “Aku miskin, miskin sekali ... seorang pengacara!” jawab Antonio, matanya membelalak kesal, menatapku. “Oh ...,” gumamku. “Pengacara?” tanyaku seraya menyikut siku pedagang bakso di sebelahku. “Entah lah ... pengangguran banyak acara,” jawab pedagang bakso seraya mengangkat bahunya. “Oh ...,” gumamku lagi, mataku menatap ketir Antonio. Antonio pun memasukkan keping koin ke kalengku lalu seperti biasa, ia cepat-cepat ke mobilnya. Aku juga bergerak cepat, kupegang lengannya erat-erat seraya bicara, “Hei, tolong aku ... kamu punya mobil, kamu juga tahu kakek tua itu, kamu pasti bisa menolongku.” “Maksudmu,” tanya Antonio, tambah kesal seraya melepaskan peganganku. “Kamu tahu ... panutanmu ...,” ucapku lalu menjinjit untuk berbisik di telinga Antonio, “Panutanmu adalah ayah angkatku yang memperkos(a)ku setiap malam.” “Hah, kamu serius? ... aku sih sering dengar desas-desus pemerkosaannya dulu, tapi masih simpang-siur disembunyikan. Ayah angkatmu seorang hakim dulu,” ucap Antonio seraya menggeleng kepala. Aku pun menunjuk leherku pada Antonio seraya memperlihatkan bukti luka cakar-cakaran lalu saat aku akan membuka kaoku, Antonio dengan cepat menghentikan aksiku. “Masuklah ke mobil ... itu berita yang bagus,” ucap Antonio seraya membuka pintu mobilnya. Aku pun masuk ke mobilnya seraya bertanya kebingungan, “Bagus, bukankah ayah angkatku itu panutanmu?” “Iya ... itu akan menjatuhkan karier dan namanya ...,” ucap Antonio ketika masuk ke dalam mobil lalu Antonio pun menutup pintu dan segera mengemudikan mobilnya. “Iya, tapi begitulah ... panutan dan lawan akan sama saja di kehidupan ... Hm, sudah berapa lama kamu diperkosa?” “Aku lupa ... aku pikir 5 tahun,” ucapku gelisah seraya memandangi kilauan matahari yang terbenam, dari jendela mobil. “Hei, Apa yang terjadi 3 tahun belakangan?” “Sama saja seperti 5 tahun yang lalu, aku pikir disentuh, diraba, dicium—“ “Sudah, sudah nanti jelaskan di kantorku ... eh, tunggu dulu. Aku lupa ada janji ketemu klien sekarang. Aku turunkan kamu di jalan ya,” ucapnya lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, Antonio pun membukakan pintu mobil untukku. “Tunggu dulu, aku tidak tahu jalan ini,” ucapku seraya turun dari mobil. “Jalan saja, apa susahnya jalan ... oh, ya jangan lupa siapkan uangmu untuk menggajiku sebagai pengacara ya. Kamu tahu kan di ibu kota tidak ada yang gratis,” ucapnya seraya tersenyum dengan gigi gingsulnya. Aku pun mengangguk pelan lalu Antonio cepat-cepat menutup pintu mobil di hadapanku, juga melambaikan tangan padaku. Kemudian mobil Antonio melaju, menjauhiku. Aku pun membalikkan badan, berdiri menatap sekitar di pinggir jalan lalu tiba-tiba saja sebuah mobil mewah seolah menatapku dengan kedua lampunya. Tubuhku kembali beringsut dingin, kulangkahkan kakiku di sepanjang trotoar lalu memasuki mobil Leo. Malam hari ... Malam penuh hangat, keringat panas dingin penuh di sekujur lenganku yang tak berbalut sehelai kain pun. Ayah angkatku tak henti-hentinya menggonyak tubuhku di ruang tengah penuh penerangan, Ia membolak-balikkan tubuhku seperti buku sampai-sampai kakiku terasa sangat kaku. “Uh, kamu enak sekali, Nak,” ucap Ayah angkatku seraya menjauhiku. Ia melangkah ringkih, mendekati lacinya. Aku pun melangkah mundur lalu berjongkok. Tetap kupandangi punggung lurus ayah angkatku lalu diam-diam tanganku meraih saku celana, mengambil sebuah pisau dibalik sana. Kusembunyikan tanganku yang menggenggam erat-erat pisau di belakang punggungku bersamaan dengan ayah angkatku yang membalikkan badannya, menghampiriku dengan jel di tangan. Masih dengan pisau bersembunyi di balik punggungku, aku pun mendekati ayah angkatku. Kudekap ayah angkatku erat-erat seraya tangan kiriku menggerayangi kepalanya yang beruban. “Woah ... ada kemajuan kamu, Nak,” ujar ayah angkatku, ia menoleh melihat aksi tangan kiriku. Tangan kananku yang getir memegang pisau pun kuarahkan secara perlahan. Dekat-dekat dan hati-hati mendekati wilayah lehernya. Kutarik tangan getarku seolah pisau ini akan lepas landas ke lehernya dan saat ujung pisau menyentuh lehernya, tiba-tiba saja sekujur tubuhku membeku saat kepala ayah angkatku menoleh dengan sangat lamban dan sangat pelan, mata sayunya melirik ke tanganku yang memegang pisau. “Bunuh saja aku, Nak ...,” ucapnya. “Pembunuhan ... bukan penyelesaian,” ucapnya lagi lalu kepalanya menghadap padaku, mata sayu menatapku seolah menyeringai. Ujung pisau tiba-tiba menjauh beberapa senti dari lehernya, jariku benar-benar bergetar seakan tubuhku baru saja menerima sengatan listrik besar. “Kamu akan terkena kasus pembunuhan berencana, kamu bisa dipenjara, lebih parahnya lagi orang tuamu akan terlantar di luar sana” ucapnya, menyeringai. Pisau pun seketika terlepas dari tanganku yang terasa sangat kebas dan juga bergetar seolah bergerak sendiri. Tatapanku masih kosong, tubuhku masih membeku dan tiba-tiba saja seluruh tubuhku terhuyung. Kepalaku terbentur ke pintu kayu lalu meluncur di sepanjang pintu ke kerasnya lantai. Punggungku menerima sakit sedemikian rupa, tulang-tulangku terasa retak keseluruhan. Ayah angkatku yang mendorongku, bobot tubuhnya menimpaku. Ia kembali beraksi di atasku, menggoyangkan seluruh tubuhku. Kepalaku berkali-kali menerima benturan ke lantai dan juga pintu, sakit yang amat mencengkam tersuntik mati ke semua sarafku. Jari raksasanya menekan mataku saat dirinya mengoyak lebih keras, menusuk dalam-dalam diriku. Aku menjerit histeris, kurasakan pukulan begitu hebat di dalam diriku, tanganku tak henti-hentinya mencoba untuk meraih pisau yang tergeletak di dekat kakiku, tetapi pisau itu tak kunjung-kunjung kudapatkan. Aku malah mendadak pingsan begitu saja. Pagi hari ... “Kamu sudah sadar? ... kamu baik-baik saja?” Aku terbangun dari pantulan sang surya yang kian menusuk mataku. Kuusap mata berairku lalu mataku tiba-tiba saja tercenung menatap Leo di hadapanku. Alisku mengernyit, kutatap sekitar mobil. Aku pun turun dari mobilnya. Melangkah sambil menguap, kupukuli kepalaku berkali-kali karena terasa amat sakit. Aku pun teringat sesuatu yang mendadak menggentayangiku. “Pisau?!” Aku berteriak-riak seperti orang gila, mendekati Leo yang baru saja keluar dari mobilnya. Tanganku memukul tubuh Leo, aku menangis dan terus berteriak kesal, “Pisau ... Pisauku!?” “Iya ... iya, ini pisaumu,” ucap Leo seraya mengeluarkan pisauku dari saku celanya. Kurampas pisauku dari tangan Leo lalu aku pun berlari bersama semua persetubuhan yang tiba-tiba muncul di kepala, bayangan ayah angkatku juga muncul di depan diriku, menghantuiku dengan sebuah khayalan. Banyak perasaan yang sudah menggumpal dalam diriku, aku tak kuat lagi menahan amarah. Aku berlari terus berlari, melewati dataran dahan dengan daun-daun kering berguguran menghampiriku di sana. Kucing liarku, Si Jingga juga sudah menungguku di atas dataran berbata. Aku pun berjongkok di hadapan Si Jingga. Lantas, layaknya pohon, kutebang sadis leher Si Jingga hingga memuncratkan d(a)rah yang tak ada habis-habisnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN