Seto tidak tahu entah apa yang membisikinya sampai ia kalap dan berbuat nekat. Laki-laki di depannya hanya bisa terpaku dengan wajah seputih mayat. Ekspresinya berangsur panik. Sementara anaknya menjerit-jerit. Seto terpaksa mengancam anak itu agar tak bersuara. Anak itu menurut, mengganti jeritannya menjadi rengekan ketakutan sekaligus sedu sedan. “Tolong jangan sakiti anak gue, To!” “Bayar utang lo!” tambah Seto mengancam. Rasanya seperti terseret ke pusaran kejahatannya di masa lalu. “Dan jangan coba-coba nekat, Bang, lo tahu sendiri akibatnya, gue bisa lebih nekat lagi,” tukasnya sambil mengeratkan pitingannya ke tubuh si anak melihat laki-laki itu bergelagat menyentuh ponsel di dalam saku celananya. Benar perkiraan Seto, anak adalah titik terlemah bagi orang tuanya. Hanya manusia k

