Keesokan harinya, mentari pagi memancarkan cahayanya menyapa penduduk bumi. Burung saling bersiul bersahut-sahutan memuji sang mentari. Hari yang baru, datang menghampiri. Menghampiri Marko untuk memperjuangkan kembali cintanya yang nyaris kandas. Marko keluar dari kamar mandi, berbalut handuk di pinggangnya. Ia terlalu bersemangat hari ini. Bangun pagi sekali, lanjut mandi dan berpakaian rapi untuk menemui sang pujaan hati. Harap-harap cemas jikalau Tia tidak memaafkan dirinya. Marko sudah rapi dengan pakaian kasualnya. Ia turun dari lantai dua di mana tempat kamar tidurnya berada. Di lantai satu ia melihat ayahnya sedang membaca koran harian terbitan terbaru. Tampak di atas meja yang ada di depan pria paruh baya itu sudah tersedia segelas kopi untuk menemaninya membaca berita teranyar

