Suara dering hand phone membangunkan Tia dari mimpi indahnya pagi ini. Dalam bunga tidur itu, ia melihat seorang pria yang tak lain adalah Febri, meninggalkannya. Tia mencoba mengejarnya tetapi langkahnya terhenti karena tersandung gundukan tanah di depannya, ia tersungkur. Febri kian detik kian menjauh, jauh tak tergapai olehnya lagi, bayangannya pun hilang. Tia berteriak memanggil pria itu, tetapi Febri tak menghiraukan teriakan wanita itu. Derai air mata mengalir deras di pipi wanita muda itu, suaranya serak, kakinya terkilir dan tak mampu berdiri. Tiba-tiba dari sampingnya, ada seseorang mengulurkan tangannya untuk Tia, seorang pria membantunya berdiri. "Kayaknya aku nggak pasang alarm deh, tapi kenapa berdering terus? Siapa yang menelpon pagi buta begini?" batin Tia seraya membuka ma

