Mobil masih melaju dengan pelan di komplek tersebut. Akhirnya mobil Marko berhenti di depan rumah megah dan besar, berwarna cream—rumah yang sangat dirindukan oleh wanita muda itu—rumah tempat ia bermain dan bertengkar dengan Lintang, apalagi kalau saat rebutan mainan baru saat kecil dulu. "Yeay. Kita sudah sampai," Ucap Marko ketika mereka sampai di depan rumah Zaky. Tok ... tok ... tok .... Marko mengetuk pintu utama rumah Zaky. Sedangkan Tia masih bertanya-tanya, kenapa pria yang sedang memegang tangannya itu mengetahui di mana rumah Tia sebenarnya. Zaky membuka pintu dan menghampiri Marko, sahabat baiknya itu. "Bro coba lihat gua bawa siapa," ucap Marko sambil merangkul bahu adik kesayangan sahabatnya itu. "Kak Zaky," ucap Tia langsung menangis dan memeluk sang kakak yang telah la

