Asih tidur hingga menjelang makan siang. Tubuhnya mungkin terlalu lelah, jadi Jarvis sengaja tidak membangunkannya agar waktu istirahat sang istri benar-benar cukup. Tahu-tahu saat membuka mata, Asih sudah mendapati makan siang di atas meja. ”Sudah bangun?" Jarvis mendekat, menyodorkan segelas jus dingin pada Asih. Gadis itu menoleh, mengangguk canggung. "Maaf, biasanya aku tidak begini. Jam empat pagi harusnya aku sudah bangun dan bersih-bersih," kata Asih menarik selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas leher. Ia malu karena terlihat kacau dan berantakan. "Mulai sekarang, kamu tidak harus bangun pagi. Buat apa? Kamu tidak tinggal lagi di rumah Pamanmu. Suamimu ini bukan anak kecil, bisa makan dan bikin minum sendiri," kata Jarvis mengelus puncak kepala Asih. "Tapi aku melakuk

