Tap! Tap! Tap!
Raihan melangkah kesana-kemari mengelak dari ayunan keris perwujudan sang raja harimau yang kini Jajang genggam. Sembari menghindari serangan lawan, netranya mengamati kulit laki-laki paruh baya yang ternoda merah darah. Sisik-sisik padat serupa sisik ular tumbuh hanya pada bagian yang lembap oleh darah. ‘Orang ini berubah?’ pikirnya melompat mundur tuk mengatur jarak.
Dap!
Jajang yang melihat pemuda berjaket hitam mundur tuk mengatur siasat, cepat-cepat menyusul menerjang lawan. Ia tak memberi sasaran kesempatan tuk sekedar mengatur napas.
‘Apa iya aku harus pakai itu lagi?’ pikirnya meraba saku jaket hitam, di mana tonjolan bundar seperti kelereng tampak. ‘Tapi walau begitu, di mana titik lemahnya? Kepala?’
“Haaaah!” Pria paruh baya mengayunkan pusaka ke arah Raihan. Gerakannya kini membabi-buta. Meski begitu, kecepatan tubuhnya meningkat, membuat Raihan kewalahan dalam mengelak serangan.
Raihan yang kini terpojok di tepi sungai deras, mengutus tapak tangan kiri tuk mencengkam pergelangan tangan kanan lawan, sementara tangan kirinya mengepal-menghantam perut Jajang.
Blak!
“Percuma saja!” serunya mengangkat lutut ke arah perut Raihan, membuat pemuda tersebut terlontar dan tercebur ke sungai di belakang.
Belum sempat Raihan terbawa arus, Jajang sigap mencengkeram pergelangan kaki pemuda berblangkon coklat, lantas melemparnya ke arah batu besar yang ada di belakang. “Haaaah!”
Swuung!
Blaag!
“Alloh Gusti!” Punggung Raihan mendarat keras di dinding batu, sejurus kemudian melesat ke samping kiri ketika Jajang menerjang dari depan bermaksud menikam.
“Mati sia! (Mati kau!)” Jajang reflek memutar haluan kaki, mengejar sasaran yang kini sudah kembali dalam kuda-kuda silat.
Sraakk!
Raihan sengaja mengenakan tapak tangan sebagai tameng, kaki kirinya mengayun dari bawah ke atas untuk kemudian menghantam telak dagu lawan.
Blag!
Setelah genggaman keris Jajang melemah, Raihan sigap merebut pusaka berluk lima-menggunakannya tuk menebas leher pria berkaos lusuh.
Daaak!
Ujung tajam senjatta yang ia gunakan, tak mampu menembus sisik ular di leher sasaran. ‘Atos temen! (Keras sekali!)’
Blag!
Jajang lebih dulu menghantam perut pemuda berblangkon coklat, membuatnya mundur paksa lima kaki. “Haaagh!” teriaknya kesal.
Raihan berdiri bungkuk,memegangi perut yang baru saja jadi landasan tinju lawan. ‘Makin lama dia makin kuat?’
“Ssshhhhaaaaaaargh!” Sepasang taring tajam mencuat keluar dari deret gigi atasnya. Kuku-kukunya kian memadat nan meruncing. Otot dan pembuluh darah sang pria paruh baya, kini benar-benar terlihat jelas.
Dlap!
Pijakan kakinya yang begitu kuat, membuat batu-batu kerikil di sekitar melesat. Ia maju mengarahkan cakar kanan dan kiri. “Haaaargh!”
Daang! Tang! Tang! Tang! Tang! Tang! Tang!
‘Dia berubah jadi siluman?’ pikirnya sembari menangkis serangan membabi-buta lawan menggunakan keris di tangan kanan.
Srraak! Srrak!
Raihan yang kurang cekatan tuk menangkis, harus tergores di bagian paha kanan dan lengan kiri akibat gerakan Jajang yang terlampau cepat.
Blaaag!
Lagi, Jajang meluruskan kaki-menendang dorong Raihan agar mundur ke belakang. “Haaargh!”
Blakk!
“Hukh!” Raihan kini terduduk, meringis menahan sakit. ‘Sepertinya memang tak ada cara lain!’ Tekadnya mantap untuk memggunakan senjata pamungkas yang ia miliki.
Jajang yang kini bersuara ganda, tersenyum melangkah mendekati mangsa. “Kau tak akan bisa me-huuuugh!”
Deg!
“Huuugh!” Jajang bertekuk lutut seketika sebelum melayangkan serangan akhir. Tubuhnya yang sempat mulus dan kembali muda, dalam sekejap berubah seperti pada wujud aslinya.
Raihan menyipitkan kedua netra. ‘Kenapa dia memegangi daerah jantung sambil berlutut! Aku bahkan belum menyentuhnya!’
“Haaaargh!” Ia menjerit kesakitan memegangi di mana jantungnya harusnya berada.
‘Apa yang terjadi?’ Raihan masih tak habis pikir.
‘Hey apa yang kau lakukan! Walau jantungnya sekarang ditusuk, kalau kau tak hancurkan kepalanya, dia masih bisa pulih!’ Saran dari sang harimau perwujudan keris, menggema di kepala.
“Kau benar!” Raihan memijak tanah kuat-kuat seraya menusuk jantung lawan. “Makan ini!”
***
Wajah sang detektif seketika pucat, tergagap tak kuasa bergerak. Keringat dingin mengucur dari dahi, menuruni pipi hingga menetes ke tanah di mana kepala-kepala buntung tersenyum lebar padanya. ‘Apa ini... Apa saking takutnya tubuhku jadi tak bisa bergerak? Kenapa badanku jadi lemas? Apa mereka ini?’
“Hihihihihih!” Kepala-kepala tanpa badan tertawa memandang wajah sang pria cepak yang terdiam membisu. Mereka mulai bergerak menggelinding mengelilingi laki-laki bercelana dan sepatu hitam. “Hihihiihih!”
Setelah mengakui jiwanya yang ketakutan, sang detektif berbadan kekar berteriak histeris. Ia balik badan, mengayuh kedua kaki ke arah pintu kamar yang mendadak terbuka lebar. “Haaaaaaa! Pergi kalian!”
Jeritan tikus-tikus di rumah tanpa penerangan membuatnya terkejut, merubah haluan ke arah pintu belakang. “Tidaaak! Pergi kalian!” serunya saat suara tawa dari kepala tanpa badan menggelegar berpantulan dalam di dalam ruangan. “Tidaaak!” Tangannya yang memegang senter pun mulai gemetaran. Napasnya berderu melihat pintu keluar.
Blaaaaggg!
Daun pintu kayu nan reot di hadapannya seketika tertutup keras oleh dorongan angin. Sang detektif berwajah pucat pasi justru menambah laju kecepatan langkah, bermaksud mendobrak pintu tersebut. “Haaaah!”
Daaak!
Dobrakan pemuda kekar berambut cepak tak berarti apa-apa. Jangankan terbuka, tergoyang sedikit pun tidak. “Keluarkan aku dari sini!” jeritnya memelas.
“Tolong kami...” Suara bisikan yang berasal dari samping kanan, mendorongnya menolehkan badan. Tatkala netranya bertemu dengan netra hitam legam sesosok nenek-nenek berbalut kebaya sunda abu-abu. Rambutnya yang sudah memutih, ternoda oleh darah hitam busuk di kepala.
“Hwaaaa! Tidak!” Melihat penampakan di depan mata, sang detektif berlari ke arah pintu depan rumah. Tanpa sadar ia terkencing di celana. “Ampuun!”
Setelah melalui kamar berisikan kepala-kepala buntung, ia bersiap mendobrak pintu depan yang rapat tertutup. Arah sinar senternya bergoyang-goyang akibat badan yang tak stabil. Napasnya tersengal, sesekali menelan ludah yang sedikit terkumpul di mulut.
Blaaaaakkk!
Lagi-lagi dobrakan sang detektif sama sekali tak berarti. Ia menggedor-gedor daun pintu reot yang begitu kuat entah karena apa. “Toloong! Keluarkan aku dari sini! Tolong!” Kembali menelan ludah, ia celingukan mencari jalan keluar lain. Kepalanya berhenti pada sebuah kaca jendela yang juga tertutup.
Namun baru beberapa langkah ia maju mendekat, sosok nenek tua mengerikan yang ia temui di belakang, kembali menampakkan diri di sisi luar, dengan mengintip lewat jendela kaca usang. “Tolong kami!” ujarnya mengacungkan tangan ke arah kamar-di mana ia melihat beberapa kepala buntung di sana.
“Hwaaaaa!” Seolah terhipnotis atau memang mungkin mengerti dengan tempat yang si arwah gentayangan maksud, pria itu melangkah kembali memasuki kamar. Walau tak melihat adanya hantu yang meneror, kecemasan dan ketegangan sang detektif belum juga reda. Hingga...
Blaaaag!
Dua pintu lemari kayu tua terbuka secara bersamaan. Ditemuinya sesuatu mirip jantung manusia yang masih berdenyut-denyut. Melihat hal itu, ia terpaku gemetaran.
***
Raihan yang baru saja menepis ayunan kaki lawan, bergegas menerkam menancapkan keris di tangan kanan pada leher lawan. “Hyaaaaah!”
Jlaap!
Jajang yang nyingir sedetik, lantas memeluk erat pemuda berjaket hitam, membalas dengan menancapkan jemari berkuku runcing ke punggung Raihan. “Sudahku bilang kau tak bisa membunuh-Ohoooogh!” Darah menyembur kencang dari mulut, disusul dengan bagian tubuh yang berhasil Raihan lukai.
Sang pemuda berblangkon coklat mencabut pusaka dari leher lawan, lanjut menikamkannya pada kepala lawan tanpa keraguan. “Haaaaagh!”
Jlap! Jlap! Jlap! Jlap! Jlap!
Setelah cairan merah hangat mengucur deras dari kepala belakang lawan, ia menendang dorong tubuh Jajang hingga jatuh ke tanah berlapis kerikil padat. Napas lelaki berjaket hitam, tersengal-sengal. ‘Astaghfirulloh hal adzim... Ya Alloh...’ Timbul sedikit rasa iba karena dirinya yang lepas amarah sampai-sampai menancapkan keris berluk lima di tangan berkali-kali pada lawan yang tak berdaya.
‘Kau beruntung, Kisanak. Ada seseorang yang menikam jantung orang ini berkali-kali, sehingga sisiknya tak mampu menahan tubuhku. Dan pada tikaman kedua juga seterusnya, darah jantung ini lenyap, berpindah kembali ke badan orang ini.”
“Alhamdulillah,” ucapnya lemas berlutut di tanah berlapis kerikil.
“Ahahahahahhaahah!” tawa wanita yang familiar di telinga Raihan, membuatnya celingukan.
‘Suara si siluman betina!’ batinnya yakin, memaksakan badan tuk berdiri pelan.
Suara nyaring perempuan, berubah jadi suara berat yang menggetarkan jantung. “Apa kau pikir kau sudah menang, bocah d***u!” Sesosok kepala naga hijau raksasa, timbul dari permukaan sungai jernih nan deras. “Setelah penumbalan yang manusia bodoh itu lakukan, maka kau dan jin maung itu bukanlah tandinganku!” Ia membuka mulut, memamerkan deret gigi-gigi tajam seolah siap melahap Raihan.
“Huff.... Huff.. Huff...” Raihan yang tersengal, lirih menyunggingkan senyum seraya meraba saku jaket hitam kanan di mana pusaka andalannya berada. “Sebelum aku akhiri ini dalam sekejap, biar aku tanya padamu, wahai Jin laknat yang suka mengaku-aku!”
Kepala naga sebesar mobil sedan tersebut merapatkan mulut, memandang Raihan kesal. “Kau yang akan lumat lahap dalam sekali gigitan!”
“Apa kau sadar, kalau ular hanyalah mainan bagi harimau saja?”
“Hmmmmmm?” Ia menyipitkan sepasang mata yang menyala dalam gelap malam.
Pemuda berblangkon coklat mulai menstabilkan napas, seraya berucap, “Ya Alloh... Dzattulloh...Sifatulloh, Wujudulloh.... Nurulloh...”
Sang siluman harimau yang berwujud jadi keris, berkata dalam kepala Raihan, ‘k-kau... Bagaimana kau bisa mempelajari mantra penuh kesaktian ini?’
Sang ratu siluman ular hijau yang juga turut merasakan kekuatan Raihan meningkat drastis, mengutus mulut berderetkan gigi tajam tuk melahap lawan. “Shhhhhaaaaaaaaah!”
Dengan sisa tenaga, Raihan mengelak dari patukan bertubi-tubi sang siluman ular. “Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh.... Sirrulloh... Sirrulloh!” Setelah mengelak dari puluhan patukan naga raksasa, Raihan melompat ke atas sembari merubah kepalan tinju jadi bentuk siap mencakar. “Allohuma ya Alloh! Karuniakan hamba kesaktian Maung Bodas pengawal Raden Prabu Pamanahrasa!” Setelah menyelesaikan kalimat, mata Raihan berubah layaknya iris mata harimau. Kuku-kuku tajam pun timbul, tumbuh dalam sepersekian detik.
Terdorong emosi, siluman naga hijau membuka lebar mulut, tuk kemudian melahap Raihan yang terjun ke arahnya. “Grraaaaaaah!”
“Grrrrraaaaugh!” Teriakan Raihan identik dengan geraman harimau murka.
Srrraaaaakkk!