Tapak Menuju Rantai Darah

1224 Kata
(Beberapa hari setelah selesainya insiden Garut, Bandung, Jawa Barat.) Langkah kaki pria paruh baya, berdecit pada sunyinya gedung rumah sakit nan sepi mencekam. Sebulir keringat dingin jatuh menuruni pelipis, saat ia memutuskan berhenti di pertigaan lorong rumah sakit. Perutnya yang buncit, tertahan oleh seragam biru ketat. Napasnya yang terengah, kini berteman tubuhnya yang gemetar. Sepasang telinganya, mendengar tawa wanita dari belakang. “Tidak!” Tanpa menoleh, ia lanjut berlari ke lorong sebelah kiri. Mengayuh kedua kaki yang lemas. ‘Kurang ajar! Mereka harus membayar ini!’ Di lorong berlantai putih, kakinya menginjak kubangan darah merah. Bruk! Lelaki dengan bernama Karjo, terpeleset. Punggung serta kepala belakangnya keras membentur lantai. Nyeri menjalar sekujur badan. ‘Andai saja aku tak terbujuk oleh Karto dan Raihan b******k itu...’ Karjo, hanya meringis ketakutan saat tubuhnya terbujur kaku di lantai lorong rumah sakit. Sekedar menggerakkan mulut pun, ia tak bisa. Pria gendut paruh baya dengan mata belo itu hanya pasrah saat wanita bermata putih itu, merayap menghampiri. ‘Aku tak akana berada di tempat terkutuk ini!’ Sosok hantu wanita bertubuh kurus kering, memperlambat laju kaki dan tangan yang bercakar. Ia tersenyum memamerkan barisan gigi yang tajam. Suaranya, parau terkekeh. Napas Karjo yang kembang kempis, berteman bulu roma yang makin naik. Tubuhnya gemetar, tak mampu menyingkir. Air matanya, lirih mengalir saat jemari si sosok menyeramkan, menggapai perut. “Karjo sayang...” Sosok itu melebarkan senyum, diam di depan wajah pria yang kini ia tindih lirih. Tubuhnya yang jangkung nan kurus, terasa bak beban seberat enam puluh kilogram bagi Karjo. “Katanya kau cinta mati... Mari... Aku antar, ya?” “Pergi! Kau bukan Lilis! Pergi!” *** (Kota Garut, Jawa Barat.) Sesosok pemuda berjaket hitam berbahan parasut, menikmati tiap isapan dari sebatang lisong di hadapan pria cepak berusia tiga puluh lima tahunan. Mata Raihan memandang lalu lalang mobil di senja sendu kala itu. Gerimis, tengah mengguyur Kota Dodol, Garut. Tangan kanannya, mengangkat lirih secangkir kopi hitam. ‘Satu minggu berlalu setelah insiden itu. Aku juga makin heran, bagaimana bisa penumbalan nyawa manusia kian marak akhir-akhir ini. Apa itu ada hubungannya dengan perempuan bule yang aku temui saat itu? Tapi, jika mencerna penurutan Pak Andy, mana mungkin dukun-dukun itu adalah bawahan mereka?’ Sruup... Lelaki cepak berjaket hitam memandang gelasnya yang berisikan es cokelat manis. “Apa lukamu setelah kejadian itu sudah pulih?” “Alhamdulillah...” ucapnya memandang sang lawan bicara. Temaram lampu jingga, serta dinginnya angin daerah pasundan, menjadi kawan mereka berbincang-bincang. “Sebelumnya terima kasih banyak karena telah membantu kami menyelamatkan anak-anak itu. Dan saya pribadi mohon maaf atas perlakuan saya padamu,” ujarnya. “Saya yang harusnya berterima kasih, Pak. Kalau saja Bapak tidak menikam jantung orang itu, mungkin saya juga sudah celaka,” sahutnya tersenyum. “Tapi dari mana kau tahu kalau anak-anak muda itu diculik di pemakaman sekitar curug?” “Jajang dan makhluk yang ia sembah, hanya membawa sukma dari manusia-manusia calon korban tumbal. Jadi itu kenapa saya minta Riko mencari jasad mereka di tempat keramat sekitar curug.” “Hmmm...” Ia menghela napas, sebelum meneguk minuman. “Saya tadinya bukan orang yang percaya pada hal-hal gaib. Tapi, setelah kejadian itu, saya tak meragukannya lagi. Hanya saja, yang saya bingung bagaimana bisa makhluk-makhluk gaib itu menyentuh kita? Bukankah kita ini berbeda dimensi dengan mereka seperti penjelasanmu tadi?” “Mereka bisa, atau mampu berbuat demikian karena ada manusia yang melakukan kontrak pada mereka. Singkatnya, si manusia bersedia jadi penanggung dosa, agar mereka mau melakukan apapun demi tujuan si manusia, walaupun balasannya adalah jiwa manusia yang mereka perbudak.” “Tapi, soal arwah nenek tua itu, apa dengan membantu kita menyelesaikan hal ini arwahnya akan tenang?” “Wallohua’lam. Tapi yang jelas, yang memperbudak mereka sudah tiada, tapi hukum alam kubur tetap berlaku.” “Hmmmm... Begitu ya,” sahutnya menurunkan gelas minuman. “Sebenarnya, saya ing-” Ia tak menyelesaikan kalimat karena nada dering gadget Raihan. Perhatian pemuda berblangkon lekas teralih ketika ponselnya bergetar dari dalam saku jaket. Wajahnya merekah, melihat kontak bernama Mursyid, memanggil. “Ah, sebentar ya, Pak,” ucapnya meminta izin. Sang detektif mengangguk memperbolehkan. “Silahkan, Kang.” “Ha-halo, Assalamualaikum... Mas, bagaimana kabarnya?” Mata pemuda berbulu mata lentik itu, membendung air mata. Cukup lama, ia tak berkomunikasi pada sosok yang begitu ia hormati. “Waalaikumsalam... Baik. Kamu sekarang, di mana?” “Saya... Dapat tugas dari Raden Ronggo untuk berdiam di Garut sementara waktu ini, Mas.” Ia tersenyum. Mendiamkan sebatang lisong yang tinggal setengah. “Sibuk ndak sekarang? Atau jangan-jangan... Masih bermuram durja gara-gara ditinggal nikah sama siti nurbaya dari jawa? Hahaha!” Menarik napas dalam, Raihan tersenyum kecut. “Ndak, Mas. Dia sudah bahagia. Jika yang dimaksud butuh pandangan hidup baru, mungkin iya.” “Hahaha... Sabar saja dulu. Insyaalloh tidak lama lagi.” Mendengar sebuah kalimat penghibur, Raihan tersenyum. Ia mendengung. “Anu... Mas... Ngomong-ngomong ada apakah?” “Kamu, nanti malam sebelum maghrib... Naik kereta ke Bandung, ya? Garut ke Bandung itu dekat, kan?” “Se-sendiko dawuh, Mas!” pemuda beralis lebat, melirik ke kanan dan kiri. ‘Bandung? Masih wilayah Pajajaran, kan?’ “Musafir pasti sudah paham mesti bagaimana, kan? Dan lagi, ‘ukhti' sunda, lembut-lembut loh... Nanti juga lupa sama yang lama. Hahaha...” Ia, hanya mendengus lirih dengan garis bibir yang terangkat naik. “Nggih, Mas...” “Lalu, tasbihmu sisa berapa buah?” Mendengar pertanyaan, Raihan menelan ludah. “Ti... Tinggal lima butir, Mas Panca.” “Ohhh... Oke! Nanti kalau habis ya... Coba minta lagi sama yang ‘ngasih' lagi.” Deg! ‘Minta lagi?’ pikirnya menggulirkan netra ke kanan dan kiri. “Nggih, Mas...” “Ya sudah, berhubung ini jam empat kamu siap-siap. Pokoknya, pantang mundur dalam berjihad! Semangat, Raihan Abdi Pangestu!” Menarik napas dalam, wajah pemuda itu semringah. “Siap laksanakan, Mas!” sahutnya sebelum telepon diputus dari seberang. Sang detektif yang tak mendengar obrolan dari sosok diseberang sambungan, bertanya, “apa Kang Raihan akan pergi lagi?” “Iya, Pak. Saya harus ke stasiun kereta sekarang,” sahutnya bangkit. “Kalau begitu, biar saya antar Kang Raihan ke sana, ya?” *** Rumah sakit Restu Ibu, Bandung Selatan. “Selamat datang, Bapak Karjo!” Seorang pria seragam dokter, mengulurkan tangan kanan. Ia tersenyum memandang Karjo. Lelaki gendut berkemeja putih, membalas senyum seraya menjabat tangan. “Jadi... Apakah saya akan langsung di pekerjakan hari ini juga, pak?” Dokter bernama Roni, mengangguk mengiyakan. “Hari pertamamu di sini, akan dipandu oleh senior-senior yang sudah lama bekerja di sini.” “Ta-tapi... Sebelumnya saya belum pernah bekerja di Rumah sakit, Pak. Jadi mengenai Standard operational prosedurnya... Saya masih harus bingung.” “Sudah... Tak apa, tenang saja. Malam ini, kamu bisa langsung bekerja. Pelan-pelan saja, Pak Karjo.” Karjo, melirik ke arah kalender mini di meja. Kalender dengan tema wayang, menunjukkan hari senin. ‘Senin malam... Kalau istriku tahu, dia bakal bawel demi mencegahku berangkat.’ “Ya sudah, untuk sekarang Pak Karjo boleh pulang. Nanti pukul delapan malam, usahakan bapak sudah di sini ya?” Karjo, mengangguk. *** Raihan, menarik napasnya dalam. Bersandar di kursi kereta, matanya memandang dua orang wanita yang tersenyum padanya. Enggan memandang balik wanita berdaster putih, ia memalingkan wajah ke jendela kereta. ‘Ajna. Seiring waktu, cakraku ini terbuka makin lebar. Bukan hanya merasakan keberadaan para makhluk gaib, aku juga bisa merasakan hampir semua makhluk yang berada beberapa ratus meter dari tempatku berada.’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN