“Hwaaa!” Riko mengayuh kaki secepat tenaga, sebelum terjerembap jatuh ke tanah akibat seonggok tangan yang muncul dari dalam bumi-mencengkamnya erat bahkan melukai kulit akibat kuku-kuku tajam dari tangan sosok tersebut.
“Ahihihihihih!” Kuntilanak berambut panjang kusut dengan sepasang mata yang menonjol keluar, muncul menyusul kedua tangannya yang telah menggenggam pergelangan kaki kanan kiri Riko. “Aa kasep bade kamana? (Mas ganteng mau kemana?)”
Dari belakang wanita menyeramkan berdaster putih lusuh, tampak dua makhluk serupa berwajah rusak yang muncul dari kegelapan hutan. Dua kuntilanak berkaki jangkung nan kurus, berjalan merayap dalam posisi badan terbalik menghadap langit kelam. Senyum keduanya begitu lebar, memamerkan deret gigi-gigi kecil serupa hiu. “Temani kami!” seru mereka serentak sembari melangkah cepat.
“Hwaaa!” Riko memancal-mancal tangan sosok yang mencengkam hingga terlepas, sejurus kemudian ia bangkit dan berlari menjauhi tiga makhluk yang mengejar. Dua dengan cara merayap cepat, sementara satunya melayang-mengambang pelan di atas muka tanah.
“Hihihihihiih!” Mereka tertawa, memaksa Riko menutup telinga sebab suara yang begitu memekikkan.
“Toolooong!” jeritnya histeris seraya mengayuhkan kaki sekuat tenaga. Keringat dingin bercampur dengan keringat hangat, membanjiri tubuh pemuda yang tak terlalu tinggi. “Toolong! Ya Alloh tolong!”
“Hweheheheheh….” Pohon-pohon besar sepanjang jalan yang ia lalui, perlahan membentuk wajah manusia. Sebuah wajah dengan hidung dan mulut tanpa netra. Keseluruhan tersenyum, menertawakan Riko yang takut setengah mati.
Dari jarak dua puluh lima meter di depan sana, lima benda serupa buntalan kain putih menghadang dalam posisi terlentang di tanah. Semuanya berjajar bak polisi tidur. Semakin Riko dekat, lima sosok yang tak bukan adalah kumpulan pocong, mulai bergeliat, sebelum berdiri tanpa bantuan tangan dan kaki. Wajah makhluk yang berada di tengah begitu hitam, seperti bekas wajah yang habis terbakar-hanya menyisakan mata dan dan mulut yang rusak.
Sisa pocong di samping kanan dan kiri, masih utuh dengan wujud wajah pucat pasi. Tampak kapas menutup lubang hidung mereka. “Hahahahahahah….” Mereka tertawa menunjukan deret gigi ompong dan rusak yang busuk. Aroma bangkai yang menyengat menyeruak dari lima pocong di depan sana.
Braakk!
Riko yang tersandung dan jatuh ke tanah, mulai menangis ketakutan. Di depan ia saksikan barisan pocong, dan di belakang, tiga kuntilanak mengerikan masih juga bergerak mendekat. “Hwaaaaa!”
***
Pak Ustad Rohim yang duduk bersila di dalam lingkaran, terus merapal doa lirih. Ia tak mengacuhkan embus dingin angina malam yang bertiup begitu kencang menerpa bergantian dari depan, kiri, belakang, kanan, secara terus menerus. Bulu romanya berdiri dari ujung kaki hingga kepala, diiringi dekup jantung yang memompa ke sekujur badan tak karuan. Tanpa sadar ia menelan ludah setelah samar suara perempuan terdengar bernyanyi-melantunkan lagu dari bahasa sunda halus, yang mana pernah ia dengar semasa kecil. Lagu merdu bernuansa mencekam, kian jelas menggema di udara berteman alunan music tradisional seperti gamelan dan gendang.
Dari gelap hutan di sekitar, satu persatu sepasang mata merah menyala tampak menyorot sang Ustad berusia paruh baya. Dari rumah reot tak terurus yang tegak berdiri beberapa puluh meter darinya, kelebatan wajah pucat perempuan tanpa hidung dan mata, melongok bergantian seolah penasaran pada manusia yang duduk bersila di atas lingkaran pagar gaib.
Blugg! Blugg! Blugg!
Bunyi benda yang terjatuh keras ke tanah, menyentak jantung Ustad Rohim, meyakinkannya bahwa para makhluk gaib kini benar-benar mewujud menyeberang ke dimensi manusia. “Asyhadu’ala ilahailallah,” ucap sang ustad menenangkan diri. “Wa asyhadu ana Muhammadarrasulullah….”
Dari belakang Ustad Rohim, tiga sosok pocong berbalut kain berlumpur nan usang, menggelinding layaknya guling. Ketiganya membuka mulut, mengeluarkan suara geraman menggelikan dengan wajah rusak bersimbah darah. Kulit mereka gelap, laksana jasad yang membusuk bertahun-tahun lamanya.
Kawanan genderuwo berbadan hitam dengan bulu kera yang begitu lebat, turut melangkah menghampiri lelaki berbusana putih lengan panjang. Mereka memasang wajah muram, seolah siap menerkam sasaran. Kawanan kuntilanak berwajah polos pun turut melayang mendekati manusia yang duduk bersila. “Hihihihihihih! Ihihihihih!”
Ustad Rohim yang tak kuasa menyaksikan wujud para makhluk astral, memutuskan memejamkan keuda mata. Ironis, bukannya hitam gelap yang ia saksikan, tetapi wujud para dedemit di sana kian jelas ketika ia terpejam. Ibarat menyaksikan tayangan video dalam benak yang terus terputar dari berbagai sudut.
“Grrraaaaaaa!” Pocong-pocong di belakangnya terus bersuara, hanya berjarak tiga meter-terpisah dari pagar gaib lingkaran yang Raihan buat.
Sejenak lelaki berbusana putih panjang hendak bangkit, sampai peringatan Raihan padanya kembali terngiang, ‘duduklah di sini, dan jangan pedulikan apapun yang Pak Ustad lihat. Apa yang Pak Ustad Rohim saksikan di sini, semuanya hanya kepalsuan.’
Ia mulai beristighfar dengan tubuh yang gemetar. Jantungnya lemas. “Astaghfirullah hal adzim…”
***
(Kediaman Ustad Rohim.)
Lelaki cepak yang tak lain merupakan detektif penyidik sekaligus penangkap Raihan beberapa hari lalu, duduk menghadap istri sang ustad kampung di ruang tamu rumah. “Suami Ibu mengantar orang itu ke hutan? Kapan mereka pergi? Dan untuk apa mereka pergi ke sana?”
“Sudah tadi sehabis jamaah isya, Pak,” lapornya panik. “Ka-katanya teh itu, mereka mau cari mahasiswa yang hilang, Pak.”
‘Sudah terlalu lama. Apa aku terlambat?’ pikirnya memandang jam tangan yang telah menunjuk pukul sebelas malam. “Apa mereka pakai kendaraan untuk masuk ke hutan?”
“Tidak, Pak. Mereka tadi jalan kaki,” sahutnya menggeleng lirih.
Menggulirkan mata ke kanan dan kiri, sang detektif berdengkus. Ia meraih ponsel dari saku jaket hitam, memanggil nomor rekanan. “Halo, saya sudah dapatkan perkiraan lokasi mereka.”
‘Di mana mereka, Ndan? Perlu saya panggil anggota lain?’
“Tolong bawakan saja barang-barang saya yang ada di kantor. Minta dua atau tiga anggota senior untuk datang membantu. Saya tunggu di kediaman Pak Rohim.”
‘Laksanakan, Ndan!’
***
“Grrroaaaar!” Sang harimau bertaring sepanjang gading gajah dengan tanduk tunggal di kepala, muncul menabrak tiga sosok pocong yang menghadang Riko.
Tiga makhluk berbuntal kain lusuh pun lenyap, berubah jadi serpihan hitam sekecil butiran debu, kemudian lenyap tersapu angin malam. Sementara para dedemit betina yang berada di belakang mahasiswa berkulit gelap, spontan berhenti-memandang ngeri penguasa gaib wilayah sekitar yang sekejap mata menghancurkan tiga sosok pocong.
Pemuda berjaket hitam yang duduk di atas punggung harimau jingga sebesar gajah dewasa, mengulurkan tangan pada Riko. “Ayo cepat! Waktu kita tak banyak!”
Riko yang terpaku, memandang takjub pemandangan di hadapannya. “M-Mas Raihan….”