Dendam Masa Lalu

920 Kata
Sang siluman harimau jingga raksasa memejamkan mata. “Sebagai pemimpin gaib wilayah ini, aku bertanggung jawab memulihkan keseimbangan alam antara manusia dan alam gaib.” “Apa kau akan membantuku menemukan mereka?” Raihan mengambil sebungkus lisong, menyalakan satu batang dengan korek hijau dari saku celana. “Aku menghormatimu karena sosok itu, bukan karena kemampuanmu,” jawabnya mengerjapkan mata. Netra sang harimau jingga bercula, seketika menyala kuning terang. Usai mengisap rokkok di tangan, Raihan mengamati bunyi-bunyi gamelan yang kian menghilang. “Ngomong-omong soal dukun yang telah tewas itu, kenapa dia malah membuat perjanjian dengan siluman ular betina ketimbang mengambil perjanjian denganmu? Padahal kau bilang, yang menguasai wilayah ini, dirimu, kan?” “Jin betina itu mengaku-ngaku sebagai abdi pengabdi kerajaan laut selatan. Itu sebabnya dia tertarik dengan Jin betina itu.” “Wahh, kalau di dunia manusia sudah kena pasal berlapis-lapis dia,” sahutnya terkekeh. “Cepat naik ke punggungku. Manusia yang mereka culik, akan ditumbalkan sebentar lagi,” ucapnya menundukkan badannya yang besar. “Apa kau bisa cari bocah yang tadi lari setelah melihatmu?” Raihan mendekati siluman harimau jingga. “Dia berlari ke arah air terjun tempat ritual akan dilaksanakan. Sepertinya dia sedang dihadang jurig-jurig bawahan si siluman betina.” Dlap! Pemuda berjaket hitam melompat-mendarat pelan pada punggung sang harimau bertaring panjang. “Ada berapa banyak bawahan siluman itu?” Dlaap! Sang harimau raksasa melesat cepat, memaksa lelaki berblangkon coklat berpegangan erat-erat. “Ribuan.” ‘Pak Kyai, saya minta izin hajar mereka!’ Raihan mengisap kuat tembakau di tangan, membuang sisanya ke tanah lanjut menyingsingkan kedua kain lengan. “Gasss!” *** Kedua aparat melangkah dalam sunyinya jalan setapak menuju hutan. Embus angin yang begitu dingin serta bunyi binatang hutan di sekitar sana, membuat mereka merinding. Tetapi tak lantas menyurutkan niat kedua pria tersebut urung diri demi mencari keberadaan Raihan. Lelaki paruh baya dengan seragam polisi yang berbalut jaket kulit hitam, menoleh pada sang detektif. “Pak, apa Bapak yakin kalau pemuda itu ada kaitannya dengan penculikan beruntun di beberapa daerah Jawa Barat? Secara psikologis anak itu benar-benar terlihat jujur dan tak tahu apa-apa.”  “Han, seumur hidupku ini, aku tak pernah percaya dengan sulap, trik, ataupun sihir. Tapi penculikan beruntun yang terjadi di sekitar Jawa Barat ini, semuanya sangat janggal. Seperti dua anggota kita yang ditemukan tewas dalam keadaan tubuh kering-kerontang, juga tiga anggota kita yang tewas dengan puluhan paku berada di dalam usus.” Ia menghela napas. “Anak kemarin itu, bisa melunakkan jeruji besi hanya dengan tangan kosong. Apa menurutmu itu tak ganjil?” tanyanya melirik pria berjaket hitam kulit. “Sekalipun dia dukun yang punya kemampuan diluar nalar, kita tidak punya bukti kuat, Ndan. Tidak ada juga undang-undangnya.” “Tapi yang aku yakin, orang itu berkaitan dengan kasus yang sedang kita hadapi ini!” tegasnya. “Apa tidak sebaiknya kita kabari Ndan Susandi saja, Ndan?” “Kita sudah melangkah sejauh ini tanpa mereka. Jadi biar kita selidiki lebih dulu, dan berikan kelanjutannya pada mereka.” Drap.... Drap... Dap... ‘Tunggu! Kenapa aku baru sadar!” Kepala sang detektif lirih menoleh ke belakang setelah berhenti melangkah. Tak dijumpainya dua bawahan yang seharusnya berada di belakang. “Ada ap-” Handoko yang hendak bertanya, turut terdiam memandangi pohon-pohon gelap yang asing. “Kemana perginya mereka!” serunya panik. “Dan... Sejak kapan pohon-pohon bambu kita lewati?” Ahahahahahhahahahah! Tawa wanita tanpa rupa meggema di udara, memancing keduanya menoleh menyapukan pandang ke sekitar. Wajah Handoko seketika pucat pasi, tak seperti sang detektif yang celingukan ke sana kemari tanpa rasa takut sedikitpun menghinggapi hati. *** “Mereka mewujud?” Pemuda berblangkon coklat berpegang erat pada bulu punggung sang harimau raksasa. “Grrroaaaar!” Sang harimau raksasa dengan taring sepanjang gading gajah, bertanduk tunggal di kepala laksana tanduk badak, muncul menabrak tiga sosok pocong yang menghadang Riko. Tiga makhluk berbuntal kain lusuh pun lenyap, berubah jadi serpihan hitam sekecil butiran debu, kemudian lenyap tersapu angin malam. Sementara para dedemit betina yang berada di belakang mahasiswa berkulit gelap, spontan berhenti-memandang ngeri penguasa gaib wilayah sekitar yang sekejap mata menghancurkan tiga sosok pocong. Pemuda berjaket hitam yang duduk di atas punggung harimau jingga sebesar gajah dewasa, mengulurkan tangan pada Riko. “Ayo cepat! Waktu kita tak banyak!” Riko yang terpaku, memandang takjub pemandangan di hadapannya. “M-Mas Raihan….” Ekor panjang nan besar sang harimau jingga, mengangkat tubuh pemuda berkulit gelap tuk naik ke atas punggung di belakang Raihan. “Huwaaaaaaa!” Riko yang panik spontan mendekap Raihan dari belakang. “Pegangan yang erat, dan apapun yang kau lihat saat terpejam maupun buka mata, jangan pedulikan! Paham!” Riko memeluk erat pemuda berjaket hitam dari belakang, memejamkan mata ketakutan. *** Kucuran air dari sebuah sungai kecil, mengalir dari air terjun besar yang berada di tebing indah berlapis lumut hijau. Tak jauh pada genangan air kolam curug, lelaki berbusana lusuh memegang sebuah buku usang berkertas kuning kelabu menggunakan tangan kanan. Tangan kirinya, mencekik sebuah boneka-serupa manekin kecil dengan foto perempuan yang Raihan kenal, Mitha. “Hahahahaha! Setelah tumbal-tumbal ini, bukan hanya keabadian yang aku peroleh, tapi juga dendamku pada warga desa yang tak berbuat apa-apa ketika keluargaku tewas satu persatu!” Pada kalimat terakhir, ia mencengkam kuat boneka berfoto gadis di sana. Ia membalik badan, melangkah lirih mendekati kuali besar di atas tungku api yang menyala. Dari sela-sela batu pinggir sungai, ular-ular hitam sepanjang dua meter merayap seraya menjulur-julurkan lidah. Dan dari aliran sungai nan deras, sesosok wanita berbusana hijau dengan mahkota emas di kepala, timbul dari air. Mengintip, menyeringai memamerkan deret gigi-gigi kecil nan tajam serupa hiu.                          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN