Pemuda berparas tampan khidmat duduk bersila di tepi sungai jernih. Ia membiarkan perutnya terendam air sejuk di sepertiga malam. Aliran sungai lebar tersebut tak begitu deras. Hanya celana putih yang membalut raga kekarnya dari hawa dingin. Indra pendengaran pemuda beralis tebal hanya mendengar samar deru arus air.
Raihan, pemuda berambut lebat itu terus menstabilkan napas. Meski tubuh berototnya mulai menggigil kedinginan, matanya terpejam. Fokus pada napas dan dahi tengah pertemuan alis.
Jemari kanan nan lentik terus memutar tasbih kayu cendana. Sudah tiga ribu sholawat dan dua ribu sembilan ratus istigfar ia baca. Perlahan jarinya melepas tasbih. Bukan karena lelah, tetapi ada getar-getar batiniah merengkuk jantung.
“Allah … Allah … Allah ….” Air mata perlahan menetes, menuruni pipi. Tubuhnya yang sempat menggigil, seketika stabil. Batinnya berteriak, Allahuma ya Allah …. Hamba merindukan-Mu. Jika saja jasad hamba ini jadi penghalang berjumpa, mana mungkin aku keberatan untuk kehilangan jisin ini?
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh!”
Sebuah suara menggema mengisi angkasa. Gemanya membuat raga Raihan bergetar. Hatinya seketika teringat nasihat Ki Panca, bila ada uluk salam, maka wajib menjawab, sebab yang demikian bukanlah ciri-ciri makhluk sesat.
“Wa-waalaikumussalam warohmatullah!” ucapnya lantas membuka mata yang rembes.
Sesosok pria dengan busana serba hijau dan sebuah tongkat kayu, berdiri di atas permukaan sungai. Wajah sosok tersebut tak begitu jelas sebab memancarkan cahaya.
“Hai Fulan, tegakanlah kebenaran meski itu pedih. Tak usah kau khawatir, sebab Sang Maha Tunggal dan utusan-Nya membenarkan tegak kebenaran. Doaku dan seluruh sahabatku menyertaimu.”
***
“Asyhadualla ilaaha illalloh, wa asyhadu anna Muhammad Rasululloh ….” Raihan membuka mata. Lekas ia mengusap mata yang masih lembap sebab air mata. Ia tersengguk masih ingin menangis.
“Astagfirullah halazim ….”
Mimpi itu begitu jelas. Meski sosok yang ada pada mimpi tak dapat ia ingat. Ia ingat pernah membaca dzikir beribu kali, di kala Ki Panca dahulu memandatkan. Tepatnya tiga tahun lalu.
Waktu di mana batin dan raga digembleng oleh sang guru. Memutar tasbih pada waktu itu adalah hal lumrah, tak seperti sekarang yang hanya membaca selawat seratus kali perhari. Raihan pun sadar, mungkin mimpi tadi pertanda bahwa ia harus kembali giat memutar tasbih.
Lirih mengambil posisi duduk, pemuda beralis lebat meraih ponsel hitam di samping bantal. Pukul 04.30 WIB. Lima menit sebelum azan Subuh berkumandang. Ia menulis gambaran mimpi yang terbesit, menujukannya pada kontak bernama Ki Panca.
Baru selesai mengirim pesan, kontak bernama Rika SMA menelepon.
"Halo, assalamualaikum…."
Suara sang gadis sedikit gemetar, "Wa-walaikumsalam, Ba-Bang Raihan. Maaf Abang, ganggu … tapi bolehkah nanti kita bertemu? Ada hal penting yang inginku bicarakan."
Menarik napas seraya mengusap ingus, Raihan mengangguk lirih. “Baiklah. Di mana? Sepulang sekolah, kah?”
"Jam delapan pagi, di mall dekat taman kota. Aku tunggu Abang secepatnya, ya?"
“Kau tidak sekolah?”
Klentang!
Suara benda jatuh, jelas ia dengar dari seberang telepon. “Halo, Rika? Ada apa itu?”
“Na-nanti aku cerita pas ketemu Bang, Assalamualaikum!”
Tut-tut-tut!
“Halo?” Raihan memastikan bila sambungan terputus.
***
Shauqina Azzahra. Gadis manis berambut pendek duduk termangu di bangku kayu. Kepala dan badan atasnya tertelungkup ke kasur bersprei putih, di mana seorang nenek berbusana abu-abu model lama tengah terbaring lemah. Dinding kamar ruangan tersebut dari kayu. Jam dinding usang yang menggantung, menunjukkan pukul lima pagi.
Sang Nenek membuka mata. Mata jernih dan hidung mancung, membuat siapa pun yakin ia cukup cantik ketika muda. Sedikit menaikkan garis bibir, sang Nenek mengelus lembut rambut Zahra. Ia lirih berkata, “Nok… Bangun! Subuhan dulu.”
Sayup, mata Zahra terbuka. Terlebih saat kepalanya terasa disentuh. “Ne-nenek?” suaranya masih serak.
Senyum sang nenek melebar, seiring tangan keriput meraba pipi sang Cucu. “Kamu sudah tumbuh besar ya, Nok.”
Menggenggam tangan sang nenek, Zahra menciuminya. “Nek, cepat sehat,” ucapnya lirih.
“Wajahmu … Mirip seperti almarhumah Ibumu. Manis,” ucapnya mencubit lirih hidung gadis berambut pendek.
Gadis itu hanya diam menahan sedih, enggan mengingat soal almarhumah Ibu.
“Bangun Nak, salat dulu. Kamu sudah besar, sudah saatnya dirikan salat lima waktu.” Sang nenek menarik napas, menatap langit-langit kamar. “Andai saja, kelak jika Nenek tidak ada, cuma kamu yang masih bisa doakan Nenek di alam kubur.”
Menahan air mata, Zahra mencium tangan sang nenek. “Nenek jangan bicara begitu. Kalau Nenek tiada, Zahra sebatang kara. Zahra ndak punya temen. Nenek kan tahu, Zahra begini....”
Sang nenek turut membendung air mata. Ia tahu jelas bila sang cucu dapat melihat sosok-sosok astral yang bertebaran, bahkan terlalu banyak jumlahnya. Ia ingat, bila saja rumah tak diberi pagar gaib oleh seorang habib, mungkin Zahra tak akan betah tinggal di sana.
“Nek, maafin Zahra, ya. Maaf,” ucapnya kembali menangis. “Hari ini … Zahra mau temenin Nenek. Zahra ndak mau sekolah. Biar nanti Zahra yang masak.”
Sang nenek tak mampu menyanggah, karena untuk berdiri pun, ia tak bisa. Pingsan di tengah jalan setelah melihat sesosok perempuan bermuka hancur, membuatnya syok selama beberapa hari.
***
Pria berbelangkon cokelat berjalan masuk ke dalam mall. Sekilas mengecek ponsel, Raihan yang mengenakan jaket dan celana hitam memeriksa pesan Rika, di mana tempat bertemu. Ia membalas pesan, menyampaikan bila ia sudah sampai.
Raihan mengerti bila beberapa satpam berseragam hitam memperhatikan dari jauh. Raut curiga dan sebal mereka tak ia anggap. “Wis kulino wong ndue Khodam ireng sengit mandeng aku, (Sudah biasa orang yang punya khodam hitam jengkel melihatku,)” gumamnya kesal.
Mall yang ia lalui masih cukup sepi. Hanya terlihat beberapa ibu-ibu berwajah Cina yang menggendong balita, mencari keperluan keluarga. Sebagian ruko dan stan masih tutup, lampunya pun belum banyak yang menyala.
Sambil berjalan, ia sesekali memejamkan mata. Tampak banyak makhluk gaib yang bersemayam di sana. Hanya saja, ia lebih memilih tak acuh, meski jin kecil berwujud anak-anak berlarian saat sepatu sport-nya menapaki eskalator. Ia menuju kafe di lantai dua mall.
Rika, gadis berkerudung paris putih dan sweater biru, sudah duduk menunggu di teras kafe lantai dua. Raihan sempat meminta agar bertemu di kafe yang memperbolehkan pengunjung menikmati keretek. Rika melempar senyum saat pemuda yang ia kenal, muncul mendekat.
Raihan membalas senyum, lalu mengucap salam sambil mengambil posisi duduk, “Assalamualaikum!”
“Waalaikumussalam!” jawabnya seiring dengan raut tegang yang memudar.
“Sudah menunggu lama?”
Menggeleng lirih, Rika tersenyum menyodorkan tangan untuk bersalaman.
'Rika …. Tidak salah lagi. Ini gadis yang waktu itu mengalami kecelakaan taksi. Aku makin yakin bila tugas dari Ki Panca, berkaitan erat dengan gadis ini,' batinnya.
Gadis mancung berkerudung mendengung ragu usai bersalaman. Ada gelagat-gelagat nervous dari siswi manis berpostur tinggi tersebut.
“Jadi … hal penting apakah yang ingin kau sampaikan?” Raihan membuka obrolan. Tangan kanannya merogoh celana hitam, mengambil sebungkus lisong beserta korek gas hijau.
“Bang Raihan, aku, tak tahu … harus bercerita dari mana.” Rika menunduk, murung.
Menoleh ke kanan, pesanan kopi hitam Raihan datang. Rika sudah meminta pelayan kafe untuk membuatkan kopi saat Raihan sampai di mall. “Terima kasih,” ucapnya menerima secangkir kopi hitam pekat.
“Siapa gadis yang kemarin sempat membentakmu?” tanyanya usai menyeruput kopi panas.
“Shauqina Azzahra,” jawabnya usai menghela napas, “dan ini juga berkaitan dengannya.”
Menyalakan lalu mengisap lisong, Raihan menaikkan alis kanan. “Maksudmu?”
“Sebelum kecelakaan yang aku alami beberapa minggu lalu, Zahra sudah memperingatkanku bila … akan terjadi sesuatu. Ta-tapi … dan … dan ….”
“Istigfar, rileks, atur napasmu,” anjur Raihan, menenangkan. “Zahra, gadis indigo itu memperingatkanmu sebelum kecelakaan terjadi, dan kemarin ia membentakmu karena Neneknya juga diganggu oleh sosok yang mengganggumu akhir-akhir ini. Benar?” tambahnya sambil menatap dalam mata Rika.
Tercengang, Rika sedikit menganga. Namun, ia ingat bila pria di depan adalah sosok yang jelas memiliki kemampuan supranatural. Ia pun mengangguk lirih.
“Shauqina Azzahra ….” Si pemuda berbelangkon menarik napas dalam, matanya terpejam. Jarang sekali aku menemukan perempuan muda dengan kepekaan seperti dia, batinnya teringat Zahra.
Sekilas, ia mendapati gambaran kuntilanak hitam. Hatinya lirih menuturkan bila sosok tersebut meneror Rika akhir-akhir ini. “Rika, sudah berapa lama setan itu mengganggumu?”
“I-itu ….” Gadis berbibir tipis itu mencoba mengingat.
“Satu tahun? Dua tahun … ataukah lebih?” tanya Raihan.
Menggeleng, Rika menjawab, “Sekitar dua hari lalu, sosok itu … menampakkan diri. Bahkan, semalam banyak suara-suara yang biasanya tak aku dengar.”
Menajamkan mata, ia terus menatap tajam Rika. 'Setan itu, menerornya baru-baru ini. Bahkan berani mencelakai adiknya dan seorang sopir taksi yang aku yakin tak ada kaitannya dengan Rika. Umumnya, jika dia adalah setan kiriman, ia akan terus mengikuti korban. Tapi, kemarin dan sekarang, dia tak tampak. Jika setan itu hanya mengincar adik Rika, harusnya ia sudah tak mengganggu lagi, tapi ….' Raihan menyeruput kopi di meja, lanjut mengisap lisong. Ia sedikit menunduk.
Rika turut menunduk. “Padahal dulu-dulunya, tak pernah ada kejadian seperti ini.”
Mata pemuda berbelangkon terbelalak, benaknya menyangka tentang sesuatu. “Rika?”
“Iya?” Rika mendongak menatap netra Raihan.
“Apa … Ayahmu punya saingan … perkara bisnis, mungkin?”
“Saingan? Pastinya ada … tapi aku kurang tahu siapa-siapanya.”
Wajah kaget Raihan pudar. Kecurigaannya sirna. “Begitu, ya,” ucapnya sambil lalu menghela napas.
“Kalau rekan bisnis, ada. Bahkan anak-anak mereka sekelas denganku,” jawabnya. “Memangnya kenapa Bang? A-apakah maksudnya … hantu itu adalah kiriman dari saingan bisnis Ayah?”
“Aku takut demikian. Apa bisnis ayahmu dan ayah dari teman-temanmu ini?”
“Ayah Cindy dan ayah Riko adalah bos minyak kelapa sawit, sementara Ayah adalah pemilik lahan kelapa sawit.”
“Oooh...” Raihan sedikit tersenyum, bermaksud mencairkan suasana. “Kamu orang seberang?”
“Iya, Bang. Saya asli Pontianak.”
Raihan menghabiskan lisong. Setelah tujuh menit tak ada suara, Raihan kembali bicara, “Boleh aku mampir ke rumahmu? Aku perlu memastikan sesuatu.”
“Mmm … boleh saja sih, Bang. Tapi hanya saat Ibu dan Ayah ke luar kota.”
“Eh? Memangnya ndak apa kalau kita hanya berdua?” Raihan mengangkat alis.
“Ada satu orang sih, Bang. Bibi yang bantu bersih-bersih rumah.”
“Mmmm... baiklah, tak apa.” Raihan memasang wajah ramah. “Saranku, minta Ibumu carikan lagi dua atau tiga pembantu. Akan lebih baik jika rumahmu ramai.”
“Lalu adakah saran lain agar aku tak diteror oleh hantu itu? Sebelum Abang ke rumahku.”
“Jaga salat lima waktu, baca Al-Qur’an. Jika haid, perbanyak dzikir. Insyaallah, mereka enggan mengganggu. Hal terpenting, ambil air wudu sebelum tidur.”
“Baiklah, Bang. Aku akan ingat saran Abang.” Rika menunjukkan senyum manis.
'Bibir tipis dan senyuman itu … Mirip dia.' Raihan teringat wajah sang mantan kekasih.
“Baiklah Bang, sepertinya itu dulu saja. Hari ini, saya sendiri yang akan coba cari pembantu.”
Lamunan Raihan pecah, kembali teringat Zahra. “Rika, kau tahu alamat rumah Zahra?”
***
Hitam, gelap, pekat. Itu yang Raihan saksikan. Pemuda berjaket hitam dengan blangkon di kepala, kini berdiri sendiri di antara pepohonan. Netranya tajam menyapu wilayah sekitar. Tak ada siapa pun kecuali dia. 'Di mana ini?'
Wez!
Kelebat bayang-bayang hitam mengintai dari balik rimbun pepohonan. Menyadari ada keberadaan sosok gaib bertekanan tinggi, Raihan spontan mengambil kuda-kuda. “Tunjukan dirimu!”
“Hahahaha!” Tawa nyaring menggema di udara, disusul dengan suara kekehan lain. Kilatan hitam bayang-bayang dari sesuatu, bertambah banyak. Tak ada sinar bulan dan suara binatang hutan kala itu.
Mual, pusing dan lemas, itu yang Raihan rasakan. 'Tekanan energi sukma ini terlalu kuat! Siluman dari jenis apa ini!'
Tujuh sosok kuntilanak hitam serentak membumbung, melayang diam di angkasa. Mereka tertawa, menatap Raihan yang berdiri di permukaan bumi. Di antara mereka, ada satu sosok yang Raihan kenal. Sosok dedemit yang mencelakai Rita pada kecelakaan taksi saat itu.
“Dasar setan kurang ajar!” Raihan memajukan tangan kanan, memusatkan energi pada kedua telapak tangan. Namun, belum mencoba menyerang, kedua lututnya bergetar tak kuat berdiri. “Astagfirullah halazdim!”
“Hahahaha!” Gema tawa yang pertama kali ia dengar, kembali menggelegar. Gelegar tawa tersebut, makin lama semakin menjauh, diiringi suara langkah tapal kaki kuda yang makin mendekat.
“Inikah bocah yang ingin ikut campur, abdiku?” Sesosok wanita tua keriput dengan tubuh bawah berbadan kuda, berwarna putih, muncul. Sosok bercakar hitam tajam itu terus mendekat.
“Seberapa sakti kau, bocah? Berani sekali, kau!” Intonasinya meninggi. Sosok itu mengangkat tinggi cakar kiri.
“Kau! Kaukah pemimpin para setan ini?”
“Akan aku bawa sukmamu sebagai b***k kerajaanku!” Sang wanita bertubuh kuda kini mulai berlari cepat. Ia menyampingkan tangan kanan ke atas. “Tak akan kubiarkan kau menghalangi tugas para abdiku!”
“A-aku … Tak bisa bergerak!” Raihan terbelalak, ia tak bisa menggerakan sejentik jari pun. “Allahuma ya Allah!”
Melihat mangsanya terdiam, sang wanita setan tertawa lantang. Kaki bertapal kudanya terus melaju kencang, kuku-kuku runcing di tangan siap tuk diayunkan.