Misteri dan Diary

2618 Kata
(Pinggir Jalan raya sepi wilayah Jakarta.) Arlojinya menunjukkan pukul 23.35 WIB. Raihan menyulut sebatang dupa ungu, menancapkannya di pinggir jalan. Sunyi dan sepi malam jadi kawan selain sinar temaram rembulan. Ia menyeruput kopi dari gelas plastik dengan tangan kanan. Mengambil sebatang lisong, lalu menyalakan. Usai mengisap lisong, pemuda berjaket hitam memelankan embus napas. Bibirnya membaca syahadat, taawuz, dan selawat. Matanya terpejam, sesekali membenarkan belangkon yang sedikit bergeser oleh angin kencang-yang mendadak menerpa. Bulu romanya tegak berdiri dari ujung kaki hingga leher, membuatnya makin yakin bila entitas gaib berteknana besar hendak mewujud. 'Wahai gaib tertua di sini, kemarilah kalian! Aku, Raihan Abdi Pangestu, utusan Ki Panca, memerintah kalian!' teriaknya dalam batin. “Kunaon ngageger bae? (Ada apa kau berisik begini?)” Sebuah suara tanpa rupa, menggelegar di antara gelap malam. “Tampakan wujudmu hai jurig!” serunya lantang, matanya terbuka mantap. Sesekali melirik ke arah bayangan pepohonan. “Hoi b***k leutik! Wawanian sia ka aing?” sahut sang suara gaib. Samar, sosok makhluk besar setinggi lima meter, dengan mata hitam yang menyala dan taring sepanjang pedang, berdiri tepat di belakang Raihan. Kuku tangan dan kakinya hitam melengkung bak cakar elang. Membalikkan badan cepat, mata Raihan menyipit seketika. Ia tak gentar menatap sosok bermata merah menyala. “Kau yang suruh si seetan wadon tadi mencelakai manusia? Berani-beraninya kau setan!” serunya lantang. “Kadieu! b***k leutik! (Kemari kau bocah cilik!)” Sang jin hitam besar mengangkat tangan kiri, mengancam siap mencakar. “Aku wong Jowo, ora paham koen ngomong opo! (Aku tak paham bahasamu!)” Raihan lirih mengambil kuda-kuda silat, siaga dengan sepasang tapak tangan terbuka. “Mati sia!” Ia mengayun cakar tepat ke wajah Raihan. Pemuda berbelangkon reflek melompat mundur ke trotoar jalan. 'Kau masih tak mau mewujud ya, demit? Jangan kira aku tak bisa melihat pergerakanmu!' batin Raihan. Keras membaca syahadat, pemuda berjaket hitam meninju tanah berlapis paving di bawah. Brak! Paving pinggir jalanan yang ia hantam remuk seketika. Tangannya turut berdarah. Seketika itu pula jin besar hitam tertunduk, jatuh ke tanah. Ia merasa tubuh berbulu lebatnya, teramat berat tuk diangkat. Mengadahkan tangan kiri ke atas sembari membiarkan tangan kanannya menempel di paving, Raihan terus menerus membaca surat Al-Ahad. Selain kesemutan, tangan kirinya perlahan memanas. Matanya tajam menatap sang jin besar. “Qulhu Geni!” Blamm! Ia mendaratkan tamparan pada paving di bawah, membuat retakan kian membesar. Pemuda tersebut tak mempedulikan rasa panas yang membakar tangan kiri-efek dari ajian yang ia gunakan. Hidungnya mulai jelas mencium aroma hangus. Bukan dari tangan, melainkan dari sosok hitam besar yang sudah tak berdaya. “Ampuuun! Ampuuun! Ampun! Hampunkeun urang, Kisanak!” teriak sang jin tatkala sekujur badan serasa dipanggang. “Pakai bahasa yang aku tahu!” teriak Raihan kembali memukul paving dengan tinju kanannya yang berdarah. Napasnya tersengal, mulai tak beraturan. “Aaaagh! Ampuuun, Tuan!” seru sang jin. “Sekarang, katakan padaku!” Mata Raihan melotot, murka masih dengan napas yang tersengal. “Apa kau yang menyuruh si demit betina tadi sore mencelakai manusia?” “Ampuuun! Panaaas! Mohon lepaskan saya dulu, Tuan! Tak kuat! Panaaas!” Raihan sigap mengangkat tangan kiri, lantas mendaratkannya lagi. Blag! “Whaaaa! Panaaas! Ampun, Tuan!” “Astagfirullah halazdim….” Raihan menstabilkan ritme napas. Ia mengangkat kedua tangan, bangkit perlahan. “Jangan buat aku marah! Asal kau tahu,” katanya melangkah mendekati si jurig bertaring tajam, “aku paling jengkel kalau ada demit sembarangan seperti kalian!” “A-ampun, Tuan… Tapi saya tidak tahu apa yang Tuan bicarakan ….” “Jangan bohong!” Raihan menginjak paving hingga retak. Sosok di hadapannya yang baru akan berdiri, kembali tersungkur jatuh. “Panaaas! Ampun, Tuaaan! Ampuuun! Saya tak bohong ….” “Lalu siapa makhluk yang sore tadi mencelakai manusia di jalan ini?” Mencoba berdiri lagi, ia menjawab, “Ampun, Tuan, tapi saya tidak tahu menahu. Yang saya tahu, dia sering bolak-balik jalan ini.” Terdiam sejenak, Raihan berpikir. ‘Mungkinkah dia khodam pendamping?’ “Saya tidak tahu, Tuan, tapi dia terus mengikuti perempuan yang tadi juga celaka,” lapornya dengan nada memelas. Raihan teringat pada siswi yang memanggil-manggil nama Rita. Wajah siswi berkerudung, terbesit seketika. ‘Apa mungkin dia yang diikuti oleh demit tadi? Korbannya adalah sopir taksi dan adik kembarnya. Mustahil sepertinya jika itu adalah khodam pendamping. Atau jangan-jangan...’ *** (Beberapa hari kemudian, sebuah SMA kawasan Jakarta.) Bel tanda waktu pulang sekolah berbunyi. Usai sang guru meninggalkan kelas, Shauqina Azzahra menjadi siswi pertama yang berlari keluar ruangan. Wajah paniknya tak biasa, dengan laju kaki tergesa-gesa, membuatnya jadi perhatian seisi kelas. Mereka serempak menyoraki gadis berambut pendek tersebut. Rika si gadis berkerudung, didekati oleh Cindy dan Dinar. Kedua sahabatnya itu hendak mengajak pulang. Sayangnya jadwal piket yang berbeda dari mereka, membuat Rika harus ditinggal. Raut muka gadis yang masih terpukul sebab meninggalnya sang adik, tampak jelas di wajah siswi yang bersiap menyapu ruangan. Gadis mancung tersebut menyapu deret bangku kayu di mana Zahra duduk. Dahinya mengernyit menatap buku kecil yang ada pada laci. Setelah menyapukan pandang ke sekitar tuk memastikan tak ada yang melihat, ia memberanikan diri mengambil buku diary tersebut ketika semua kawan sekelas tengah sibuk membersihkan kelas. Jemari Rika mulai membuka lembaran awal, matanya terpaku pada coretan gambar perempuan dengan wajah separuh remuk. Jantungnya berdebar kencang, seolah ada rasa bila ia mengenal sosok yang ada pada gambar di kertas. Kembali membuka lembaran, ada beberapa daftar nama siswa sekolahnya, tak terkecuali namanya. “I-ini...” Ia terkejut dengan nama-nama hantu yang disandingkan dengan nama para siswa-siswi lain. “Rika! Nyapu dulu buruan! Enggak tahu apa kalau sekolah ini serem pas sepi! Hari ini nggak ada ekskul!” seru remaja siswa dengan name tag Riko Prianto. Siswa berkulit sawo matang yang paling kekar di kelas, meski posturnya tak terlalu tinggi. Rika yang kaget, gelagapan. “I-iya.” Terdorong rasa penasaran, tanpa pikir panjang ia memasukan buku Zahra ke dalam tas. *** (Beberapa jam kemudian, kediaman Rika.) Rika yang selesai membaca, menutup diary milik Zahra. Ia merebahkan badan yang masih berbalut seragam SMA, memandangi dinding kamar yang cukup luas. Almari hitam jadi perhatian, ia bangkit pelan-pelan bermaksud menaruh buku mini Zahra di sana. ‘Jadi… Inikah alasan Zahra enggan menatapku sampai-sampai sering menghindar dariku? Dia … bisa melihat mereka. Dia gadis indigo?’ Baru akan membuka lemari, teringat pada kata-kata Zahra sebelum ia dan almarhumah adiknya mengalami tragedi nahas. Wajahnya pucat pasi, teringat pada gambar wajah seram sosok wanita di buku. Tangan dan kakinya gemetaran. ‘Tu-tunggu! Hantu itu! Mu-mungkin... Mungkinkah sosok yang aku samar lihat sebelum melompat keluar dari mobil adalah … Hantu di gambar itu?’ Klebag! Body lotion yang ada pada meja kosmetik kamar terjatuh ke lantai putih. Masih dengan ritme jantung bergemuruh, Rika balik kanan. Jendela kamarnya memang sudah dibuka sejak pagi tadi sebelum berangkat sekolah. “Mu-mungkin hanya angin, ‘kan?” Rika lanjut menempelkan tangannya pada daun pintu lemari, tetapi …. Gledak-gledak …. Lemari besarnya lirih bergoyang, terdorong dari dalam dua kali. Buku yang ia pegang jatuh. Ia lirih melangkah mundur, membelakangi sinar senja yang terpantul kala itu. Jantungnya masih tak stabil, meski ia coba tenang. Semilir lembut angin dingin merambat naik dari punggung ke tengkuk. Bulu kuduknya berdiri. Dingin yang ia rasa berbeda dari hawa biasanya. Rasa panik berpadu dengan takut mendorongnya menjerit, mengayuh kaki keluar dari kamar. “Mamaaa!” Rika berteriak, berlari menuruni tangga menuju lantai dasar. Ruang tamu rumah berhiaskan perabotan mahal. Dari vas bunga, guci dan meja alami batu. Belum lagi peralatan elektronik branded yang ada. “Mam-” Rika terpeleset di tengah tangga turun, membuatnya berguling dua kali, kemudian tersungkur di lantai putih. “Aduuuh!” serunya kesakitan memegangi siku yang ia pakai mendarat paksa. Ia merintih, berusaha berdiri sambil terus memanggil sang ibu. Drap drap drap! Langkah kaki menuruni tangga, menggodanya tuk menoleh. Aneh, tak ada siapa pun yang turun. Hawa mencekam yang sempat ia rasa di kamar, kembali menyeruak. Bahkan sekedar untuk membenarkan kerudung pun, ia tak berani bergerak, saat samar bisik lirih suara wanita menyebut namanya. “Rika...” Nada suara yang memanggil, lirih sedikit serak. Yang terbayang dalam benak adalah wajah dari sosok wanita seram di buku Zahra. Kebimbangan dan rasa kalut mengurungkan niat tuk menoleh pada sumber suara. Rasa takut yang ia rasa menekan tuk berdiam membekukan diri, terlebih saat suara samar-serak dari sesuatu, memanggil lebih dari tiga kali. “Kenapa kau tinggalkan adikmu?” Deg! Dengan kedua mata yang terbuka lebar, Rika nekat memutar badan ke arah suara. Kata adik membuatnya spontan mantap membalik badan. Tepat seperti apa yang terpintas dalam benak, sosok wanita berwajah rusak dengan mata melotot putih penuh tanpa pupil, mendekat dengan cara merangkak. Ia mengangkat garis bibir, mempersembahkan senyum lebar penuh kengerian, dari mulutnya yang berdarah-darah dengan taring nan tajam. “Kenapa!” Wezz …. Sosok tersebut melesat cepat, dalam sekejap berada tiga sentimeter dari wajah Rika. Siswi SMA kelas dua itu menjerit, sebelum tubuhnya ambruk beserta kesadaran yang memudar. Hanya lengkingan tawa dari wanita berwajah rusak yang terngiang-ngiang di kepala. *** (Alam mimpi.) Raihan memegangi tengkuk seorang siswi SMA tak berhijab. Ia membaca wirid perlahan setelah sadar gadis yang ia pegang muntah seketika. ‘Siapa gadis ini?’ batinnya bertanya. ‘Ini mimpi, kan?’ pikirnya lagi memandang sekitar tanpa mengangkat tangan dari leher si gadis berambut pendek. “Nak, kami titip dia, ya? Barangkali sudah jalanmu membantunya.” Sosok wanita tua berbusana adat jawa, bersuara lembut dari balik badannya. Menoleh ke sumber suara, Raihan hanya mengangguk mengiyakan. Sebelum sosok tersebut, lenyap dari pandangan. Tatkala Raihan menoleh kembali ke arah gadis berbusana SMA, ia cepat-cepat mundur sebab terkejut. Wajah gadis di hadapannya, berubah rusak dengan rambut panjang kusut. Sepasang taringnya memanjang, dengan pupil hitam memenuhi kelopak mata. “Memedi alas kurang ajar!” *** (Masa kini, Kafe pinggir jalan raya, Jakarta.) Zahra dan Rika duduk menghadap dua gelas jus apel. Tak seperti Rika yang menatapnya, gadis berambut pendek berkulit kuning langsat, terus menundukkan pandang semenjak minuman datang. Sebuah rumah makan besar nan luas di pinggir jalan raya kota, jadi tempat mereka singgah. Gadis berseragam SMA dengan nametag Shaqina Azzahra, buka mulut, “aku sudah menuruti kemauanmu untuk datang ke sini. Jadi tolong, kembalikan diary milikku sekarang!” pintanya menatap meja. “Aku akan mengembalikan bukumu, tapi setelah kau menjawab semua pertanyaanku,” jawab Rika tegang. ‘Maafkan aku, Zahra. Tapi jika tidak begini, kau terus menolak ajakanku ini,’ batin Rika. ‘Dia dari tadi tak mau menatapku. Mungkinkah hantu itu sedang di belakangku?’ batinnya lagi usai menerka-nerka. “Baiklah. Cepat tanyakan!” Zahra mengangguk kecil. Memajukan badan pada gadis di hadapannya, Rika bertanya-seperti berbisik, “apakah dia sedang ada di belakangku?” Wajahnya turut tegang. Zahra sejenak diam. Ia yakin bila Rika telah membaca isi diary mininya. Seketika keraguan yang timbul, takut akan sesuatu. “Ra, benar, ‘kan? Hantu itu ada di belakangku?” Zahra memandang Rika sebentar. Ia segera menunduk kembali setelah menjawab dengan gelengan lirih kepala. “Tidak. Semenjak kecelakaan itu, dia tak mengikutimu lagi.” “Bohong! Lalu kenapa kau tak mau menatapku sekarang? Hantu itu juga ‘kan yang mencelakai adikku, Rita! Benar, ‘kan?” Intonasi Rika meninggi. “Waktu itu aku sudah mengatakannya padamu. Aku sudah memperingatimu dan kau selamat. Lalu apa lagi?” Zahra berbicara masih dengan pandangan ke bawah meja. Tangan kirinya perlahan meraba perut. “Kau hanya menyuruhku tanpa memberitahukan padaku tentang kejelasannya! Jika saja kau bercerita lebih detil, Rita tak akan jadi korban maut dalam kecelakaan itu! Dan jika sudah jelas tahu akan begitu, kenapa kau tak melarang kami untuk naik taksi?” Gadis berkerudung tengah tersulut emosi. Tak sadar ia menggebrak meja, membuat beberapa pelanggan yang lahap menyantap makanan, menoleh dengan sorot terusik. Tangan kanan Zahra mulai meraba dahi seiring wajahnya yang memucat. Gadis berambut pendek meringis, seperti menahan mual. “Apa kau dan gerombolan high class-mu akan mempercayai omongan siswi autis dan culun sepertiku?” “Kenapa kau tak coba beritahu aku saja secara terang kalau begitu? Karena ketidak terus teranganmu, adikku jadi korban!” Nyingir menahan sakit, Zahra ganti menggebrak meja, berdiri. Brak! “Cukup! Berhenti menanyaiku tentang mereka!” serunya menatap marah gadis berkerudung di depannya. “Kau tahu, gara-gara aku memperingatimu, sosok itu mengganggu Nenekku! Dia jatuh sakit kemarin dan sekarang aku pun harus merawatnya. Tapi kau justru memanggilku kemari untuk hal seperti ini! Kau mau nenekku seperti adikmu? Kalau tahu bakal begini, lebih baik aku diam dan melihatmu celaka seperti adikmu!” Pria paruh baya dengan rambut dan kumis beruban yang merupakan pemilik warung makan, mempercepat langkah, bermaksud mencegah keributan di meja pelanggan. Apalagi saat beberapa pengunjung kafe bergunjing, sebagian meneriaki menyuruh diam. Rika bungkam. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ia tak mampu menyanggah, seiring muncul rasa iba pada Zahra. “Terserah kau mau kembalikan buku itu atau tidak! Aku muak dengan urusanmu! Muak dengan mereka! Muak pada ini semua!” Zahra membalikkan badan, melangkah lirih menjauhi meja. Pria beruban dengan kaos belang abu-abu hijau, berhenti sejenak saat sang siswi SMA menjauh. Langkahnya kembali terburu mendekati Zahra saat gadis berambut pendek tersebut jatuh berlutut, memuntahkan air. Ia turut memegangi kepala dengan tangan kanan. “Zahra!” seru Rika berlari mendekat. Mengetahui ada yang mual-muntah, beberapa pengunjung ikut berkerumun. Mereka memperhatikan Zahra sambil menanyakan sebab. Tep! Pemuda berjaket hitam dengan belangkon di kepala, sigap memegangi tengkuk Zahra. Raihan, ia merapal taawuz lalu, “Innalloha wa malaikatahu yushollu 'alannabi, ya ayyuhaladzina ‘amanu sholli alaihi wassalimmu tashlima.” Suaranya sedikit tersamar oleh deru kendaraan di jalan raya. Setelah lima detik menatap curiga pada lelaki bercelana hitam, sang pemilik warung menyipitkan mata, menatap belangkon pemuda tersebut. “Heh! Kau dukun, ya? Jangan-jangan kau yang guna-guna anak ini dan buat daganganku sepi!” Rika terhenyak, bingung dengan perkataan pria paruh baya. Ia hanya berdiri menatap Raihan yang memegangi Zahra. Kawan sekelasnya sendiri tak menolak saat telapak kanan Raihan menyentuh tengkuknya. Menarik napas cepat dari hidung, Raihan memejamkan mata. Mencoba fokus, tak acuh pada cemooh sang pemilik usaha. Lelaki beralis lebat tetap berkonsentrasi mengalirkan energi yang merambat ke telapak tangan kanan. Zahra menarik dalam-dalam napas. Ia menangis, menutup wajah dengan tangan, tetap dalam posisi berlutut. “Heh, dukun! Aku laporkan kau ke polisi!” Menoleh lirih dengan sorot mata sinis pada pria beruban, Raihan menaikkan alis kanan. “Dukun? Baik, Anda boleh sebut saya dukun. Tapi sepaling tidak, saya bukan dukun yang Anda datangi untuk mencari dedemit maupun jurig sebagai penglaris!” Mendengar jawaban Raihan, para warga yang menyaksikan saling berkasak-kusuk. Pria beruban sesekali menoleh. Ia sesaat panik, hingga muncul tekad menutupi sesuatu. “Heh, dukun kurang ajar! Asal tuduh saja kau bocah ingusan!” Menaikkan garis bibir kanan, Raihan mengacungkan tangan kanan ke arah warung. Ia merasakan getaran energi negatif kental yang tersamar. “Jika kalian, wahai saudara muslim, ingin mengetahui yang haq, silakan periksa kuali kaldu di dapur sana! Jangan kaget kalau kalian temukan celana dalam di sana!” serunya menatap tajam sang pria beruban, “dan kalian boleh lihat, di belakang televisi gantung atas, ada sebuah bungkusan kain hitam amis yang berisi ari-ari bayi, yang mana ia gunakan sebagai salah satu syarat penglarisnya!” Lima orang lelaki memisahkan diri dari kerumunan, mendatangi tempat yang Raihan sebutkan. Pergerakan itu berhasil membuat pria beruban panik. Ia berlari melarang para lelaki yang sudah masuk ke dapur. Raihan memejamkan mata. Menarik napas cepat dengan fokus ke titik tengah antara alis. Ia bersuara lirih, “tekanan energi dari para pocong dan genderuwo di sini terlalu kuat untukmu ya, Nok?” Zahra mulai berhenti menangis. Namun, ia belum berani mendongak. Semenjak awal datang di sana, para makhluk gaib banyak berkerumun memperhatikannya. “Tak apa, mereka sudah menjauh. Tak lagi di sekitarmu,” bisiknya lagi. Ini persis seperti mimpiku semalam! batin Raihan. ‘Si-siapa orang ini? Kenapa …. Aku merasa nyaman yang melegakan?’ Zahra kembali membendung air mata. Kenapa rasanya aku ingin meluapkan semua tangisku padanya?’ Air mata kembali mengalir dari matanya. Ia seketika memeluk Raihan, menangis sejadi-jadinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN