Tapak Kaki Sang Musafir Hitam

1449 Kata
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Berkisahlah tentang Bani Israel dan tidak apa-apa. Barangsiapa berdusta atas namaku, maka bersiaplah mendapatkan kursinya dari api neraka.” (HR Bukhari).  ###    (Ndalem sebuah pesantren, Jawa Tengah.)   “Cung?” Sesosok pria berbadan kurus berhidung mancung, memanggil dengan suara keras. Kemeja putih dan celana hitam, membalut rapi tubuhnya yang tak tinggi. Mata jernih nan tajam lelaki tersebut fokus pada secangkir kopi s**u. “Nggih, Mas,” sahut seorang pemuda berambut tebal. Tubuhnya tegap dalam balutan kaus hitam bertuliskan aksara jawa emas. Lelaki dengan alis lebat dan dagu belah dua, duduk pelan. Lututnya mendarat di karpet hijau lebih dulu.  "Awakmu wis waras? (Tubuhmu sudah pulih?) tanyanya menyalakan sebatang rokokk. Raihan si pemuda berambut lebat, manggut lirih mengiyakan. "Nggih, Mas. Sehat wal afiat." “Kalau begitu, kamu lanjut jalan, yo?” pintanya sembari mengisap lisong yang dijepit. Menunduk usai sekilas menatap mata lawan bicara, pemuda itu mengangguk lirih. “Sendiko dawuh, Mas.” “Wes tho, nggak usah mikir wadonan. Cewek cantik masih buanyak di luar sana,” celetuknya sedikit tersenyum usai meniup asap rokok. Ia terdiam. Bibirnya sedikit naik, tersenyum kecut. Seketika kembali terbesit wajah gadis yang gagal ia miliki. “Nyoh, ngudud sik ….” Pria berwajah bijak menyodorkan sebungkus rokok dan korek pada lelaki bergurat galau. Meski kecil, tetapi tangan sosok berbusana putih tampak berotot dengan pembuluh darah yang dapat mudah diraba. Mengambil sebatang rokok, pemuda itu menyulutnya. Ia mengambil posisi sila. Perlahan, pemuda itu mengisap rokok keretek di tangannya. “Allah...” Samar terdengar ketika ia menarik napas. “Hu...” Samar terdengar ketika membuang asap dari mulutnya. Tersenyum meledek, pria berkemeja putih terkekeh lirih. “Namanya Raihan Abdi Pangestu, tampangnya gagah bak Arjuna, tapi gagal nikah sama santri pelosok desa. Ndak bisa move on meski sudah tiga tahun lamanya. Hahaha...” Menarik napas lesu, Raihan tertunduk. “Nggih kepripun lagi, Mas. Susah.” “Jangan ngaku dekat sama Ki Panca, kalau masalah wanita tak bisa jadi jagonya,” ucapnya menepuk dahi. “Hahaha, Cung… Cung… Koen iku mirip sama bocah yang bakal aku temui,” imbuhnya setelah dua menit melihat raut galau Raihan. Sedikit mendongak, Raihan menatap wajah teduh Ki Panca. “Sinten, Mas?” “Nama belakangnya Al Fatih. Yah, kelak juga kamu bakal akrab sama dia, insyaallah,” jawabnya usai mengisap rokok. Raihan terdiam, memikirkan sosok bernama belakang Al Fatih itu, “siapa orang ini sampai beliau menyebutnya? Apa dia juga kunci penting dalam hidupku?’ Lamunannya pecah tatkala Ki Panca berdeham. “Cung… Kamu jalan, ya? Kamu berangkat ke Jakarta. Pokoknya, sudah … Jalan saja. Insyaallah, nanti ketemu mesti bagaimana kamu di sana.” ‘Jakarta lagi,’ batin Raihan sembari teringat sang mantan kekasih. “Hahaha … tenang, bukan di sekitar kamu dulu ketemu sama si dia. Pokoknya, selesaikan tugasmu di sana. Kalau kamu mau pulang, pintu rumah ini selalu terbuka buatmu,” ucapnya tersenyum, “tapi aku sudah ndak di sini,” tambahnya lalu tertawa. Menengok kaget, Raihan bertanya, “Njenengan mau ke mana, Mas?” “Ndak tahu. Saya mau balik dulu ke Semarang, kangen istri sama anak. Nanti kalau aku wes nemu panggon, tak kabar-kabar awakmu. Sudah terlalu lama juga saya stay di Jogja,” jelasnya dengan bahasa Trilingual. Raihan mengangguk paham. Usai mengisap habis tembakau di tangan, Ki Panca membelakangkan lengan kanannya. Di sana, tampak sebuah belangkon cokelat khas Jogja. “Nyoh, aku titip lagi. Tapi ojo galau maneh, malu sama belangkonnya,” jelasnya sambil menyodorkan belangkon. Raihan termangu sejenak. Ia ingat betul telah membuang belangkon tersebut ke jurang di tempat wisata perbukitan usai mantan kekasihnya menceritakan perjodohan. “Besok malam Senin, berangkat ya? Ingat, jangan sembarangan buka-tutup Ajna seseorang! Berbijaklah dengan anugerah yang DIA beri.” Raihan menunduk, mengangguk malu. “Nggih, Mas.” *** (Beberapa hari kemudian.) Raihan Abdi Pangestu, matanya sayup terbuka. Pemuda berjaket hitam dengan blangkon di kepala, duduk pada bangku bus paling belakang. “Sudah mau sampai, ya?” gumamnya memperhatikan arloji hitam di pergelangan kanan. Pukul 15.20 WIB. Tetesan hujan yang merembes dari sedikit celah atap bus, membuatnya tak mampu nyaman terlelap. “Astagfirullah halazim ….” Raihan menahan nguap, menutup mulut dengan punggung tapak kanan. Baru ia mencubit batang hidung di antara mata, sepasang netranya terbuka lebar. Ia berkomat-kamit, merapal wirid. Sesuatu yang tak asing membuatnya serius. Pemuda berbelangkon itu tak lagi memedulikan tetes air yang menerpa bahu kiri. Menoleh ke sekitar, tak ia jumpai sesuatu yang aneh, hingga agak keras mengucap, “Allohuma ya bathin, Allohuma ya bathin, Allohuma ya bathin ….” Memejam-buka mata, ia menengok ke arah kanan di mana jendela bus berada. Sebuah taksi melaju ugal-ugalan di jalanan. Dari sana ia melihat sosok wanita berkuku panjang, tengah mencekik sopir di dalam taksi. Reflek, Raihan beranjak dari duduk. Terlebih saat seorang siswi berseragam OSIS membuka pintu dan melompat keluar dari dalam taksi. “Pak! Stop, Pak! Stop!” teriaknya lantang menuju pintu bus. Lelaki tua menoleh ke spion depan bus, sebelum menghentikan laju bus. Ia kembali tancap gas manakala Raihan melompat turun. “Hati-hati Mas!” Lelaki berjaket hitam segera melakukan roll samping saat taksi tersebut terpelanting ke arahnya. Beruntung, bus yang baru ia tumpangi sudah cukup jauh dari lokasi pendaratan sedan nahas tersebut. Kendaraan yang berlalu-lalang segera memperlambat laju, sebagian besar pengendara menepi tuk mendekat. Bunyi klakson pun beradu dengan deras suara hujan. Sebagian pengemudi melanjutkan perjalanan sambil merekam kejadian lewat ponsel genggam. Sosok wanita setan berbaju hitam tertawa puas, melayang menembus atap mobil. Ia sempat menatap Raihan sebelum akhirnya lenyap. Darah, lirih mengalir dari jendela mobil yang hancur berantakan. “Rita! Rita! Rita!” Rika si gadis berkerudung dan seragam putih, tampak berlumuran cairan merah. Air matanya deras mengalir, ia tertatih mendekati taksi yang terjungkir. Berlari ke arah mobil yang terjungkal, Raihan memandang melas dua mayat bersimbah darah. Kepala mereka luka parah. Dari jarak lima meter, Raihan mampu merasakan tiadanya ruh yang bersemayam. “Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.” *** (Satu minggu kemudian.) Zahra. Ia menatap Rika dari bangkunya. Bel istirahat sudah berbunyi lima menit lalu. Tinggal mereka berdua yang tinggal di kelas pada pagi yang mendung. Menarik napas dalam, Zahra membuka lembaran baru diary kecil di meja. Diary hitam dengan gambar boneka. Gadis berambut pendek, mulai menulis di atas kertas. ‘Ini hari pertama Rika masuk ke sekolah. Ia murung dan banyak melamun. Aku yakin bila ia masih terpukul atas kematian saudara kembarnya. Aku dengar, kejadian itu persis dengan mimpi yang aku alami berturut-turut beberapa waktu lalu. Aku turut berduka atas kematian Rita, tapi … entah mengapa aku merasa le-‘ Zahra beku. Sepasang bola matanya terbelalak. Ia menyadari sesuatu yang membuatnya tak berani berlama-lama menatap Rika. Zahra perlahan mengalihkan pandang pada Rika, dan benar. Ia sadar bila sedari tadi, ia sama sekali tak melihat sosok wanita hitam mengerikan, yang biasanya terus mengikuti Rika. Melihat fenomena itu, ia kembali menarikan pena. ‘Demit buruk rupa itu, sama sekali tak menampakkan diri di sekitar Rika.’ Kedua mata Zahra menyipit. ‘Mungkinkah ia terus mengikuti … Rita, bukannya Rika? Untuk mengambil nyawanya? Tapi apa salah kedua kembar itu sampai-sampai ada makhluk yang berani begini?’ Zahra menatap Rika lama. ‘Mungkinkah … demit itu utusan dukun? Santet? Zahra mengernyitkan dahi. Ia terus berspekulasi, hingga ia ingat hari itu ….’ *** (Beberapa bulan lalu, hari pertama Zahra pindah sekolah.) Rita, Rika dan dua gadis berambut panjang, keluar dari kantin sekolah. Tiap mereka membawa segelas soft drink. Empat gadis itu bersenda gurau. Ceria. Tawa yang paling keras, dikumandangkan oleh gadis berambut kemerahan, name tag-nya Cindy Wilhent. Tangan kanan Rita memberikan soft drink-nya pada Rika. Ia lalu menarik Cindy dan sahabat lainnya, menjauhi Rika. “Yang terakhir masuk kelas, harus traktir kuota internet!” teriaknya disusul tawa. “Rita! Kalian!” Sebal bercampur senyum, Rika mulai melangkah cepat untuk menyusul. Namun, ia tak memperhatikan koridor sekolah, hingga ia menabrak seseorang. Dek! Soft drink di kedua tangannya tumpah. Cairannya membasahi seragamnya dan perempuan yang barusan ia tabrak. Nama Shauqina Azzahra, tertera pada name tag di sana. “Eh, ma-maaf. Aku tidak sengaja,” ucap Rika cepat. Sedikit tersenyum, Zahra merogoh saku seragam mengambil sapu tangan dan menawarkannya pada Rika. Dari jauh, ketiga anak itu membalikkan badan. Mereka memperhatikan kejadian tersebut, lengkap dengan wajah kesal yang terpampang. *** (Masa kini.) ‘Setelah itu … Rita dan kedua temannya mengancamku untuk tidak mendekati mereka yang kaya,’ pikirnya. ‘Mungkinkah…’ Matanya terbelalak. Ia kini benar menyangka bila tindakan kuntilanak hitam yang kerap muncul di sekitar Rika, merupakan ulah seseorang yang berkaitan dengan bisnis keluarganya. Zahra mulai membuka diary mini-nya. Ada daftar nama beserta nama para lelembut yang mengikuti mereka. Dari semua daftar nama hantu di sana, hanya Rika yang diikuti oleh sosok wanita hitam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN