Suara sirine ini menggema di malam yang tenang di perumahan elit itu. Dengan pasrah beberapa anak buah Amita serta Stevan digiring kedalam mobil pesakitan dengan wajah menunduk sedangkan kedua tersangkanya diringkus dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dengan lega Kalina mengambil ponselnya yang meluncur di bawah kolong lalu memeriksanya apakah rusak ataukah tidak sedangkan barang bukti pertengakaran mereka tentu saja ada pada ponsel Eka yang Kalina serahkan pada polisi. Sedangkan gadis itu sendiri, Eka tetap berada disana menatap kosong pada lokasi dimana Amita tadi tergeletak tak berdaya. “ Eka.” Kalina menepuk pelan Pundak gadis itu. Berniat mengajaknya pergi dari tempat menjijikkan ini. Tak ada balasan ataupun gerak yang berarti dari gadis itu. “ Apakah kamu masih ingin tetap berada

