27 Mei 2019 Ardan masih menjemputku di rumah sakit seperti biasa. Namun, auranya begitu menyeramkan bagiku. Dia tidak memunculkan senyum khasnya atau sekadar say hi kepadaku. Kami berdua berboncengan dengan suasana yang begitu kaku meski berulang kali kucoba mencairkannya dengan menceritakan kegiatanku di rumah sakit tadi. Diamnya pria bergigi gingsul ini membuatku resah. Kupeluk pinggangnya namun dia tidak bergeming. Dia tetap membisu bagai patung yang begitu dingin. Aku tidak suka dengannya jika kami seperti dua manusia asing. Atau dia masih marah? Bukankah kemarin sudah jelas bahwa aku dan Arion hanya sekadar teman? "Dan, kita makan dulu di Taman Bungkul yuk. Aku lapar." "Ya." Jawaban Ardan begitu singkat dan cuek. Aku berusaha menahan sabar menghadapi pria pencemburu seperti dia.

