17: LIBURAN KUY!

1945 Kata
Chapter 17: LIBURAN KUY!   "Tumben udah rapih," komentar Hanif ketika melihat kakaknya yang sudah rapih dalam artian udah enggak pake piyama gambar pororo.   Hana memutar matanya sebal.  Kenapa sih keluarganya harus ngindep disini ketika Libur? Kalo pun ngindep kenapa juga Hanif harus dibawa? hari-hari liburannya jadi enggak tenang gini gara-gara ada Hanif.   Hana itu enggak begitu suka sama adiknya yang so ganteng—walaupun emang ganteng ya.   Hanif itu bawel dan Hana benci orang bawel. Walau yah ketika awal-awal pindah Hana sempet nangis 40 hari 40 malem karena kangen Hanif, tapi kalau sudah bertemu seperti ini sepertinya enggak pernah ada kata rindu untuk Hanif dari Hana. Adanya kata-kata u*****n beserta nama-nama binatang. Bagong contohnya.   "Kakakmu mau ke Dufan," jawab Pak Yaman—Ayahnya Hana—yang baru selesai membaca koran didepan sembari melihat ibu-ibu jonging mengelilingi kompleks.   Dufan? Kok ga ngajak sih? Hanif yang bingung lalu bertanya pada sang Ayah. "Ke Dufan? Kok Ayah masih pake sarung gitu sih?"   "Ke Dufannya bareng keluarga Imma dan anak osis inti di sekolahnya," jawab Sang Ayah dengan sabar. "Ayah mah ga ikut lah."   "Kok ga bilang ke aku sih?" tanya Hanif sembari menghentak-hentakan kakinya. Kesel sama Hana yang mau main dan ga bilang-bilang. "Hanif juga pengen ke Dufann."   Hana membalas omomgan Hanif. "Ngapain bilang-bilang ke bangong?"   Jleb.   "Ayahh, bisa coret Hana dari kartu keluarga ga?" Ayahnya menggeleng. "Enggak lah Hanif. Dia tetep Kakak kamu walaupun rese."   Hanif mendadadak sesegukan gitu. Apalagi ketika melihat Joel yang sama seperti Hana, udah lebih rapih. "HUAAA KA JOEL MAU KE DUFAN JUGAAA?"   "Iya, Joel juga anak osis inti," balas Hana.   "OKE FIX KALIAN SEMUA JAHAT GA NGAJAK HANIFF! HANIF PUNDUNG SAMA KALIAN!" Abis mencak-mencak manja, Hanif langsung ngebanting pintu, beneran marah dia.   Joel cuman natap Hanif bingung, “Dia kenapa Han?”   “Kesurupan,” jawab Hana asal.   Joel makin bingung lah. “Kesurupan itu apa?”   Kayanya enggak seharusnya Hana bilang soal kerusupan deh. “Udah ah ayo berangkat.”   Hana dan Joel lalu pergi ke rumah Imma. Jalan kaki aja sih, biar sehat. Toh lagian rumah Imma ga jauh-jauh amat dari rumah Hana.   Walaupun yah juju raja sebenernya Hana males banget kalo harus jalan, masalahnya jalan ke rumah Imma aja udah lumayan bikin capek. Belum lagi rumah Imma tuh luas banget kaya istana negara. Auto gempor sebelum ke Dufan ini mah   Di dekat garasi rumah Imma udah banyak orang dan ada bus kecil yang kapasitasnya sekitar 20 -27 orang.   "Lama pisan jiga kuya," komentar Arthur begitu melihat Hana dan Joel datang barengan. Soalnya osis inti dan keluarganya Imma udah datang duluan.   Osis inti ada 12 orang, dibentuk atas usul Benben, soalnya orang yang masuk osis banyak tapi cuman numpang biar famous doang. Benben menilai ada 12 orang termasuk dirinya yang pantas dijadikan osis inti. Itu semua dilihat dari hasil kerjanya ketika diangkat dan sampai masa pks di bulan desember lalu. Singkatnya osis inti baru dibuat bulan januari tahun ini.   Berikut orang-orang terpilih: Hwang Arthur sang ketos, Benjamin Toh alias dirinya sendiri yang entah ada angin apa membuat osis inti tersebut, Fira Khoirunisa anak Cheers yang ga banyak omong tapi banyak kerja, Leonardo Fery siswa kepercayaan para guru karena kepintarannya, Rena Nandhika anak paskribra dengan banyak ide kreatif juga cewek aktif, Alvin Rachman anak rohis sekaligus anak band yang asolihin banget, Daniel Lazuardi si aktif nan humoris tapi bisa diajak serius juga, Jeno Suryadama Lee anak lelas 10 yang dicintai kakak kelas karena dia friendly serta amanah, Imma Masrifah Yudhigraha yang ternyata adalah cucu dari pemilik sekolah ini, Ical Arya Wiguna cowok serba bisa tapi kerdusnya sangat banget.   Dulu asa dua orang lagi yang termasuk osis inti, sayangnya belum lama mereka pindah sekolah. Orang itu adalah Airin dan Jefrey.   Jujur saja sebenarnya Benben agak ragu ketika Imma mengusulkan Hana. Walaupun yah Hana enggak punya catatan buruk, tapi dia ini enggak aktif di organisasi. Hana emang cukup pintar dan cukup terkenal—karena doa mujarab dia seorang Arthur yang asalnya ogah-ogahan masuk osis jadi ketua osis.   Tapi Benben masih ragu apa fungsinya Hana kalo masuk ke osis inti. Belum lagi anak baru yang ikut masuk karena usul Rena, si Joel. Iya Benben tau para guru lagi hobi-hobinya ngomongin anak baru bernama Joel itu karena dia pintar dan serba bisa banget, tapi yah tetep aja ... Kalau dia enggak punya kelebihan dalam organisasi artinya dia enggak guna masuk osis inti.   Tapi yah, untuk sampai MPLS Benben dan Arthur terpaksa mempercayakan hal itu kepada Hana dan Joel, semoga endingnya mereka bisa seperti anggota osis inti yang sudah terseleksi. "Semua udah lengkap kan?" tanya Fira. "Hana sama pacarnya udah dateng?"   Hana langsung menatap kakak kelasnya itu dengan tatapan membunuh. Pacar? Yang benar saja? "Udah kak," kata Hana. "tapi Joel bukan pacar aku ya, Teh. Kita dateng bareng karena rumahnya sebelahan."   Fira mengangguk-anggukan kepalanya, tersenyum menggoda ke arah Hana. "Yakin? Hm tapi sepertinya kalian akan menjadi jodoh, bukan cuman sekedar pacar. Hahaha, aku liat kalian cocok kok!"   Hana melotot. Pengennya teriak. "ENGGAK LAH GEBLEQ AING GA MUNGKIN JADI JODOH DIA, SADAR BENGEUT AING GE!"  tapi dia urungkan mengingat Fira itu kakak kelasnya.   Bukan cuman Hana yang melotot, Leonardo dan Jeno juga melotot. Masalahnya hal yang biasa diucapkan Fira itu emang selalu benar dan bisa kejadian.   Dulu ketika Annisa sama Finza sering berantem, Fira yang nyumpahin mereka pacaran. And see, sekarang mereka udah pacaran on the way satu taun.   Terus dulu juga ketika Fira sebel sama adik kelasnya yang kecentilan, namanya Putri kelas 10 ips 3, dia nyumpahin gini. "YANG NAMANYA PUTRI KELAS 10 IPS 3 SEMOGA SETIAP NEMBAK ORANG PAS SMA DITOLAK TERUS!" Dan Putri sampai sekarang masih jomblo. Padahal cantik dan kaya, seperti Awkayin, selebgram canci berjeti-jeti followers.   Yah makannya jangan maen-maen sama yang namanya Fira Khoirunisa kelas 11 IPA 1.   Sementara Hana, Leonardo, dan Jeno melotot, Joel menatap bingung orang yang tadi berbicara dengan Hana itu. Pipinya sedikit memerah ketika Fira menyebut dirinya pacar Hana. Tapi dia bingung juga jodoh itu apa.   "Semerdekanya Teteh aja lah," kata Hana kesel. "ya Gusti, semoga Teh Fira sama A Arthur berjodoh. Aminn!"   "GA AMINN!" teriak Fira dan Arthur barengan.   "Kalo ga amin pun, ntar gue jodohin gampang," kata Imma sembari ngerangkul Hana.   "SIALAN!"   Pada akhirnya sekarang 12 anak osis inti dan keluarga Imma menaiki bus juga. Posisi duduk? Biasa lah, orang tua di depan, yang paling berisik model Benben, Ical, Jeno dan Daniel di belakang jelas. Saking niatnya berisik Ical sampe bawa gitar. Katanya sih in reationship with guitar padahal mah rasa pengamen ya.   Hana duduk di tengah—hampir kebelakang—bareng Imma di kursi sebelah kanan. Sementara Joel duduk bareng Ical di kursi sebelah kiri sejajar dengan Hana dan Imma.   Hana itu kalo masuk ke mobil udah kaya orang mati. Kerjaannya tidur, makan, dengerin musik, paling dikit ngobrol. Ga pecicilan kaya Benben pokoknya. Hana ga bisa pecicilan soalnya dia itu gampang mabok dan ga bisa maen hp pas mobilnya jalan. Dan emang pada dasarnya Hana itu ga banyak omong dan lebih suka diem kalo di keadaan tertentu.   "Han? Kenapa lo?" tanya Imma sembari menggoyangkan pundak Hana.   "Tau lah," jawab Hana singkat dengan mata yang masih terpejam.   Imma agak muak sebenernya sama Hana. Udah datang telat, bajunya enggak pas banget—cuman celana pendek selutut dan sweater kebesaran warna hitam dan merah—ga bisa diajak asik-asikan pula. Imma pikir dengan bertambahnya umur Hana akan berubah, tapi sama aja ternyata.   Ah tau ah sebel.   Imma akhirnya berdiri. Dia menghampiri Joel. "Joel tukeran dong bentar. Bete aku sama si Hana," pinta Imma pada Joel.   Joel menoleh. "Emangnya boleh?"   “Boleh lah, kan aku yang minta,” balas Imma setelah mengangguk.   Joel lalu berdiri agar Imma bisa duduk disamping Ical. Dalem hai Joel lebih seneng pas disuruh duduk di samping Hana, ya sejujurnya tadi dia juga ga nyaman sih duduk sama Ical, ga tau mau ngapain. Mungkin lebih baik Joel duduk sama Hana biar sama-sama tidur aja.   Ngantuk abisnya, semalem Hanif ngajakin batle sampe jam 2 malam, terus Imma baru ngasih tau kalo anak osis inti diajakin ke Dufan dengan biaya masuk gratis—karena yah biasa ada chanel makannya gratis—itu tadi subuh. Ngedadak banget emang dah kaya tahu bulat.   Akhirnya Joel duduk disamping Hana yang udah tidur pulas dengan kedua tangan yang terlipat didepan dadanya. Bibirnya sedikit terbuka, Joel melihat ada bintik putih bibir bagian atasnya.   Sepertinya sekarang dia tahu alasan Hana males ngomong tuh karena dia sariawan dan semalam si Hanif lagi tengil-tengilnya, enggak ngebiarin Hana tidur sampe Hanif sendiri tidur.   Joel menyenderkan badannya dengan kursi. Mencari posisi yang pas untuk tidur. Setelah menemukannya dia lantas memejamkan matanya.   Sayangnya dia ga bisa langsung tidur. Karena ada penganggu. "AKU MASIH BELUM MANDI  TAK TUNTUANG TAK TUNTUANG  TAPI MASIH TAMVAN JUGA TAK TUNTUANG TAK TUNTUANG  APALAGI KALAU SUDAH MANDI TAK TUNTUANG PASTI TAMVAN SEKALI~"   Ya, ada Benben dan Daniel yang tiba-tiba menyanyikan lagu Tak Tuntuang padahal ga diundang. Suaranya ga buruk-buruk amat tapi Hana mendengarnya jadi kesel banget. Berisik!   "KALAU ORANG LAIN MELIHAT AKU TAK TUNTUANG BADAK AKU TAMBAH BANA TAK TUNTUANG TAK TUNTUANG  TAPI KALAU LANGSUANG DI IDU TAK TUANG ASTAGFIRULLAH—" Karena kesal Benben masih nyanyi, Hana cepat-cepat mengambil topi kupluk yang di pakai Joel, dia berdiri dan mengaplok pipi Benben pake kupluk itu sehingga dia beneran beristigfar.   "ASTAGFIRULLAH!"   "BERISIK ONTOHOD!" teriak Hana kesel. "Gua mau tidur!"   "Siapa?" tanya Benben. Hana menjawab dengan kesal. "GUA!" "YANG NANYA! WEKAWEKAWEKAKA!" Benben dan Daniel kompak mentertawakan Hana yang kena trap lama itu. Keduanya lalU kabur mencari mangsa yang lain, menjauh dari Hana sebelum doi ngamuk lagi. Goblok banget ya punya kakak kelas yang gitu. Bikin darah tinggi aja.   Hana akhirnya kembali duduk dan melempaekan topi kupluk itu. "Nih Im topinya, sorry tadi aing kesel bat sama mereka," katanya. Eh tapi bentar Hana baru menyadari sesuatu. Bukannya Imma mah enggak pake topi kupluk ya?   Hana menoleh ke sampingnya dengan slow motion, dia kaget pas tau yang duduk dipinggirnya malah Joel bukan Imma. "Ko-kok," dia menampar pipinya sendiri. Kenapa malah gagap coba? Kan bukan Aziz Gagap. "kok kamu disini sih? Tadi kan kamu duduk sama Ical."   "Imma minta tukeran," jawab Joel santai. "kenapa gitu?"   "Engga, cuman kaget," balas Hana lalu kembali bersender di kursinya. Menetralkan detak jantungnya yang mendadak sangat cepat.   Em oke, Hana emang biasa kalo Joel duduk di sampingnya ketika di kelas. Kan masih ada jarak antara kursinya dengan kursi Joel. Tapi kalo di bus 2017 ini yang kursinya dua dan dua, seakan enggak ada jarak antara Joel dengannya, Hana enggak nyaman. Malah tangan Joel bisa saja menyentuh tangannya kalau Hana enggak menarik diri untuk lebih menjauh dari Joel.   Joel bukan orang seperti Ical. Joel agak berbeda, dari caranya memperlakukan Hana dengan cewek lain—bahkan Imma sekalipun—tampak berbeda, seperti lebih spesial. Hana juga sempat beberapa kali mendapati Joel sedang memandanginya dengan intens di kelas. Hana enggak mau menyimpulkan kalau Joel suka padanya, dia enggak mau terlalu pede.   Tapi Hana juga takut kalau ternyata Joel beneran suka padanya. Hana takut enggak bisa membalas perasaan Joel.   Kalau beda rumah sih enggak masalah, Hana tinggal pura-pura enggak peka aja dan menyerahkan orang yang menyukainya pada Imma, ujung-ujungnya Imma yang marah karena Hana enggak peka. Ini mah masalahnya Hana sama Joel serumah! Gila!! Hana bisa beneran gila karena Joel.   "Hana, kenapa?" tanya Joel sedikit khawatir ketika mendapati Hana berkeringat dingin dan rautnya terlihat ketakutan begitu.   "Enggak, cuman ngeri aja kalau tiba-tiba Pak Rukmana ikut piknik ini," kata Hana asal ngomong.   "Apa Hana nyebut-nyebut nama saya?" kata Pak Rukmana yang tadi sempat ke belakang untuk memberikan minyak angin pada Rena.   Mampus, Hana beneran tercyduk. "Ah enggak Pak. Hehehe."   Hana nyengir polos sampe pak Rukmana pergi, setelah pak Rukmana pergi baru di ngelanjutin tidurnya. Dalam hati Hana berdoa buat cepet nyampe ke dufan, biar ga deg-degan kaya gini!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN